|

Artikel :
SERBA-SERBI TENTANG GERHANA
By Ferry M Simatupang - Dept. Astronomi ITB
Bandung

Peristiwa
gerhana secara umum adalah peristiwa jatuhnya bayangan sebuah benda langit ke
benda langit lain, akibat tertutupnya sebagian cahaya Matahari ke arah benda
langit tersebut. Pada kasus gerhana matahari, bayangan Bulan jatuh ke permukaan
Bumi dan Bulan menutupi sebagian atau seluruh cahaya Matahari yang ke arah Bumi.
(Sebagian atau seluruh di sini bergantung jenis gerhana mataharinya). Sedangkan
pada peristiwa gerhana bulan, bayangan Bumi akan jatuh ke permukaan Bulan, dan
sebagian atau seluruh cahaya Matahari ke arah Bulan akan dihalangi oleh Bumi.
Akibatnya kita akan melihat cahaya Bulan menjadi lebih redup.
Gerhana menjadi
fenomena menarik diamati dari Bumi, karena suatu kebetulan yang menakjubkan:
ukuran Matahari kira-kira 400 kali lebih besar dari ukuran Bulan, dan jarak
Matahari-Bumi juga kira-kira 400 kali lebih jauh dari jarak Bumi-Bulan.
Akibatnya: piringan Bulan dan piringan Matahari di langit (dilihat dari Bumi)
kurang lebih sama besar. Namun karena orbit Bulan mengelilingi Matahari
berbentuk elips, maka ukuran piringan Bulan yang teramati dari Bumi mengalami
sedikit variasi. Demikian pula halnya dengan orbit Bumi mengelilingi Matahari
yang juga berbentuk elips, menyebabkan ukuran piringan Mataharipun sedikit
bervariasi. Variasi-variasi inilah (disamping beberapa hal lainnya) yang
menyebabkan penampakan gerhana menjadi berbeda-beda.
[ ke atas ]
1. Variasi Ukuran
Piringan Matahari dan Bulan
Bumi mengelilingi
Matahari dalam orbit berbentuk elips. Pada titik terdekatnya dengan Matahari
(saat berada di titik perihelion), jarak Bumi-Matahari hanya 147.100.000
km. Sedangkan pada jarak terjauhnya (saat berada di aphelion), jarak
Bumi-Matahari mencapai 152.100.000 km. Perbedaan jarak ini menyebabkan perbedaan
ukuran piringan Matahari terlihat dari Bumi. Saat di aphelion, piringan Matahari
terlihat memiliki radius 944", sedangkan di perihelionnya, radius piringan
Matahari adalah 976". Jadi, dalam satu tahun, ukuran Matahari bervariasi sekitar
3,3%.
Sementara itu,
Bulan juga mengelilingi Bumi dalam orbit berbentuk elips. Saat berada di titik
terdekatnya dengan Bumi (titik perigee), pada jarak 363.300 km, piringan
Bulan memiliki radius 1006" (1006 detik busur = 1006 x 1/3600 derajat). Dan pada
saat berada di titik terjauhnya dengan Bumi (titik apogee), pada jarak
405.500 km, piringan Bulan yang terlihat dari Bumi memiliki radius 882". Variasi
ukuran Bulan ini mencapai 12%.
Akibat dari variasi
ukuran piringan Matahari dan Bulan ini terlihat pada penampakan gerhana. Pada
suatu saat gerhana Matahari, piringan Bulan bisa 7% lebih besar dari piringan
Matahari (atau 2" lebih besar). Pada saat lain, ukuran piringan Bulan bisa pula
10% lebih kecil daripada ukuran piringan Matahari (atau 3" lebih kecil). Karena
itu, kita bisa mengamati gerhana matahari total, atau gerhana matahari cincin.
2. Fase-fase Bulan
Diamati dari Bumi,
Bulan menunjukkan fase-fase penampakan. Fase-fase ini terjadi disebabkan oleh
konfigurasi Bumi-Bulan-Matahari saat itu. Saat bulan berada diantara Bumi dan
Matahari, maka bagian yang tidak mendapat cahaya matahari akan menghadap Bumi.
Saat itu kita melihat bagian bulan yang gelap. Fase ini dinamakan fase bulan
baru. Disaat lain, saat Bumi berada diantara Bulan dan Matahari, seluruh bagian
Bulan yang menerima cahaya matahari akan menghadap Bumi. Fase ini kita namakan
fase purnama. Fase-fase lainnya adalah saat bagian Bulan yang menghadap kita
sebagian menerima cahaya dari Matahari, sebagian lagi tidak.
3.
Kemiringan Bidang Orbit Bulan
Bulan melengkapi
satu putaran mengelilingi Bumi dalam waktu 27,3 hari. Jadi setiap 27,3 hari,
Bulan akan kembali ke posisi semula di langit (relatif terhadap
bintang-bintang). Periode ini dinamakan periode sideris Bulan. Pada saat Bulan
kembali ke posisi semula di langit, posisi Matahari telah bergeser akibat
pergerakan Bumi mengelilingi Matahari. Untuk membentuk konfigurasi semula
(Bumi-Bulan-Matahari), Bulan membutuhkan waktu tambahan sekitar dua hari. Bulan
membutuhkan waktu 29,53 hari untuk kembali dari satu fase ke fase yang sama
(misalnya dari fase purnama kembali ke fase purnama). Periode ini dinamakan
periode sinodis Bulan.
Namun ternyata
tidak setiap berada pada posisi A (pada Gambar atas) akan terjadi gerhana
matahari. Demikian pula jika Bulan berada pada posisi B, tidak setiap pada
posisi tersebut akan terjadi gerhana bulan. Semua ini disebabkan oleh bidang
orbit Bulan yang tidak sebidang dengan bidang orbit Bumi (ekliptika), tetapi
membentuk sudut 5,2° (lihat Gambar bawah). Gerhana hanya akan terjadi jika Bulan
berada pada posisi A atau B pada Gambar atas, dan pada saat itu Bulan berada di
sekitar titik potong orbitnya dengan ekliptika. Titik potong ini dikenal dengan
nama titik node, titik tanjak, atau titik simpul. Titik potong dimana Bulan
bergerak dari sebelah selatan ke utara ekliptika dinamakan titik node naik
(titik tanjak naik). Sedangkan titik potong dimana Bulan bergerak dari sebelah
utara ke selatan ekliptika dinamakan titik node naik (titik tanjak naik). Garis
yang menghubungkan kedua titik potong ini dinamakan garis nodal.
4.
Terjadinya Gerhana
Gerhana terjadi
karena terhalangnya cahaya Matahari. Jika cahaya Matahari tidak bisa mencapai
Bulan -- keseluruhan atau sebagian -- karena terhalang oleh Bumi (dengan kata
lain Bulan berada dalam bayangan Bumi), maka peristiwa itu dinamakan gerhana
bulan. Sedangkan jika bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi (Bulan
menghalangi sebagian cahaya Matahari yang menuju Bumi), maka peristiwa ini
dinamakan gerhana matahari.
Ada dua macam
bayangan: umbra (bayangan inti) dan penumbra
(bayangan tambahan). Jika kita berada dalam umbra sebuah benda (misalnya umbra
Bulan), maka sumber cahaya (dalam hal ini Matahari) akan tertutup keseluruhannya
oleh benda tersebut. Sedangkan jika kita berada dalam penumbra, sebagian sumber
cahaya masih akan terlihat.


Bayangan umbra dan
penumbra saat sebelum gerhana |
Namun demikian,
saat gerhana bulan total, meski Bulan berada dalam umbra Bumi, Bulan tidak
sepenuhnya gelap total karena sebagian cahaya masih bisa sampai ke permukaan
Bulan oleh efek refraksi atmosfer bumi. (lebih lanjut akan dibahas di Bab IV
Gerhana Bulan tentang Skala Danjon).
[ ke atas ]
1. Musim Gerhana
Gerhana terjadi saat Bulan berada
kira-kira segaris dengan Bumi dan Matahari, dan saat itu Bulan berada di salah
satu titik simpulnya. Dengan kata lain, gerhana bisa terjadi jika garis nodal
searah dengan arah garis hubung Bumi-Matahari. Bumi bergerak dengan arah
A-B-C-D. Jika Bumi berada pada posisi A dan C, maka saat bulan baru dan bulan
purnama, akan terjadi gerhana. Sedangkan saat Bumi berada di posisi B dan D,
tidak akan terjadi gerhana saat fase bulan baru atau purnama.
|

Musim gerhana
|
Saat posisi B dan D pada, bayangan bulan
tidak mencapai Bumi saat fase bulan baru. Sedangkan saat bulan purnama, bayangan
Bumipun tidak mengenai Bulan. Saat-saat konfigurasi Bumi-Matahari-garis nodal
seperti pada A dan C pada, maka pada waktu fase bulan baru pasti akan terjadi
gerhana matahari, dan saat fase bulan purnama akan terjadi gerhana bulan.
Saat-saat seperti itu dinamakan musim gerhana, dan pada saat musim
gerhana, dikatakan Bumi berada dalam zona gerhana. Dalam satu tahun,
terjadi dua musim gerhana, yaitu saat konfigurasi A dan saat konfigurasi C
tercapai. Namun musim gerhana tidak tepat terpisah 6 bulan, karena garis nodal
sendiri bergeser dengan laju 19º pertahun ke arah barat (lihat Gambar bawah)
Akibatnya musim gerhana terjadi dalam interval yang lebih pendek, yaitu 173,3
hari.
|

Gerak garis nodal Bulan |
Interval waktu yang dibutuhkan Bumi
untuk mengelilingi Matahari dari konfigurasi Bumi-Matahari segaris dengan garis
nodal seperti posisi A kembali ke konfigurasi semula dinamakan tahun gerhana.
Satu tahun gerhana terdiri dari 2 musim gerhana. Karena gerak garis nodal tadi,
maka satu tahun gerhana tidak sama dengan satu tahun sideris, tetapi lebih
pendek. Tahun sideris ini adalah selang waktu yang dibutuhkan Bumi untuk
mengelilingi Matahari.
|

Musim Gerhana
|
Bulan dan Matahari terlihat sebagai
piringan di langit. Karena itu, saat gerhana terjadi, posisi posisi
Bumi-Bulan-Matahari tidak mesti tepat segaris. Dilihat dari Bumi, gerhana
matahari bisa terjadi jika Matahari (dilihat dari Bumi) berada sekitar 18,5º
dari titik node, baik di sebelah timur ataupun barat. Selama Matahari berada
dalam interval tersebut, pada fase bulan mati akan terjadi gerhana matahari. Hal
yang sama terjadi juga untuk Bulan. Gerhana bulan bisa terjadi jika bulan berada
16,5º dari titik node, baik di sebelah timur ataupun barat. Maka selama Bulan
berada dalam interval itu, saat purnama akan terjadi gerhana bulan.
Gerhana matahari terjadi jika Matahari
berada dalam selang 37º yang berpusat di titik node. Karena Matahari di langit
bergerak dengan kecepatan ~1º perhari, dibutuhkan kira-kira 37 hari untuk
melintasi daerah tersebut. Sedangkan fase bulan baru terjadi tiap 29,5 hari.
Karena itu, ketika Matahari berada dalam selang tersebut, minimal terjadi satu
kali fase bulan baru. Dengan kata lain, setiap musim gerhana, dipastikan akan
terjadi gerhana matahari. Minimal dalam satu tahun, bisa terjadi 2 kali gerhana
matahari, dan maksimal 5 kali gerhana matahari.
Bumi bergerak mengitari Matahari dengan
kecepatan ~1º perhari, dan membutuhkan waktu 22 hari untuk melintasi daerah yang
memungkinkan terjadinya gerhana. Karena waktu yang dibutuhkan lebih pendek dari
selang bulan baru ke bulan baru, maka mungkin saja selama Bumi berada di zona
gerhana tersebut, tidak terjadi bulan baru. Dengan kata lain, dalam musim
gerhana, mungkin saja tidak terjadi gerhana bulan. Dalam satu tahun, bisa
terjadi 3 gerhana bulan, bisa juga tidak terjadi gerhana bulan sama sekali.
2. Seri Saros
Semenjak zaman Babilonia, catatan
observasi gerhana telah rutin dilakukan. Bahkan semenjak abad ke-9, pengulangan
gerhana telah diamati oleh bangsa Chaldean. Dari pengamatan mereka, diketahui
bahwa gerhana yang mirip akan terulang tiap kira-kira 18 tahun 10 hari. Periode
ini dikenal dengan istilah: saros. Gerhana-gerhana yang dipisahkan oleh
satu periode saros memiliki karakteristik yang sangat mirip, dan dikelompokkan
ke dalam satu keluarga yang dinamakan seri saros.
Seri Saros berkaitan dengan panjang
interval-interval sebagai berikut:
- Bulan Sinodis (Synodic
Month):
-
interval waktu dari fase bulan baru
kembali ke bulan baru.
Panjang bulan sinodis: 29,53059 hari = 29h 12j 44m.
- Bulan Drakonis (Draconic
Month):
-
interval waktu yang dibutuhkan Bulan
untuk bergerak dari satu node kembali ke node tersebut.
Panjang bulan drakonis: 27,21222 hari = 27h 05j 06m.
- Bulan Anomalistis (Anomalistic
Month):
-
interval waktu yang dibutuhkan Bulan
untuk bergerak dari perigee kembali ke perigee.
Panjang bulan anomalistis: 27,55455 hari = 27h 13j 19m.
Periode saros (18 tahun 10 hari lebih
1/3 hari) adalah 223 kali bulan sinodis. Kenapa gerhana yang dipisahkan oleh 223
bulan sinodis memiliki karakteristik yang sama? Gerhana yang dipisahkan oleh 223
bulan sinodis memiliki karakteristik yang sama karena 223 bulan sinodis
(6585,321 hari) itu kurang lebih sama dengan 242 bulan drakonis (6585,357 hari).
Artinya pada selang satu periode saros, Bulan kembali pada fase yang sama pada
titik node yang sama juga.
Sementara itu, 223 bulan sinodis itu
juga kurang lebih sama dengan 239 bulan anomalistis (6585,537 hari). Ini membuat
selang satu periode saros selain mengembalikan Bulan pada fase yang sama pada
titik node yang sama, juga mengembalikan Bulan pada jarak yang (kurang lebih)
sama dari Bumi. Karenanya, gerhana yang dipisahkan oleh periode saros akan
memiliki karakteristik yang mirip.
Akibat panjang periode saros yang
panjang harinya memiliki pecahan (kira-kira 1/3), maka saat gerhana berikutnya
yang terpisahkan oleh satu periode saros terjadi, bumi telah berputar kira-kira
1/3 hari. Karena itu, lintasan gerhana yang dipisahkan oleh satu periode saros
akan bergeser 120º ke arah barat. Dan setiap 3 siklus saros (54 tahun 31 hari,
atau 19756 hari), gerhana bisa diamati pada wilayah geografi yang sama.
Seperti yang disebutkan di atas,
gerhana-gerhana yang dipisahkan oleh periode saros dikelompokkan menjadi sebuah
seri saros. Sebuah seri saros tidak akan bertahan selamanya. Seri saros lahir
dan mati, dan beranggotakan sejumlah tertentu gerhana. Seri saros ini tidak
bertahan selamanya karena satu periode saros itu lebih pendek 1/2 hari dari 19
tahun gerhana. Akibatnya, setelah satu periode saros, titik node akan bergeser
0,5º ke arah timur. Karenanya, setelah lewat sejumlah periode saros tertentu,
jarak titik node sudah sedemikian jauh dari Matahari/Bulan sehingga tidak
memungkinkan lagi terjadinya gerhana. Saat itu terjadi, seri saros yang
bersangkutan akan mati, dan seri saros baru akan lahir.
[ ke atas ]
1. Macam-macam Gerhana
Matahari
Berdasarkan penampakannya saat puncak
gerhana, gerhana matahari dapat dibedakan menjadi:
  
-
Gerhana matahari total
-
Gerhana matahari cincin
-
Gerhana matahari cincin-total (gerhana
matahari hibrid)
-
Gerhana matahari sebagian
1. Gerhana Matahari
Total
Pada gerhana matahari total, seluruh
piringan matahari tertutup oleh piringan bulan. Saat gerhana matahari total ini,
ukuran piringan bulan sama besar atau lebih besar dari piringan matahari.
2. Gerhana Matahari
Cincin
Pada gerhana matahari cincin, ujung
umbra tidak mencapai permukaan Bumi. Hanya perpanjangan umbra saja (yang disebut
antumbra atau anti umbra) yang mencapai permukaan Bumi. Meski
seluruh piringan bulan berada di depan piringan matahari, tetapi ukurannya lebih
kecil dari piringan matahari, akibatnya tidak seluruh piringan matahari
tertutupi. Bagian pinggiran piringan matahari yang tidak tertutupi piringan
bulan tersebut, masih bercahaya, sementara bagian tengahnya gelap tertutup
piringan bulan. Karena itu gerhana ini dinamakan gerhana matahari cincin.
3. Gerhana Matahari
Cincin-Total (Gerhana Matahari Hibrid)
Gerhana matahari cincin - total adalah
gerhana matahari yang jarang terjadi. Pada gerhana matahari jenis ini, di
sebagian tempat di muka Bumi, yang teramati adalah gerhana matahari cincin,
sedangkan di tempat lain gerhana matahari total.
Hal ini bisa terjadi karena pada saat
puncak gerhana, puncak kerucut umbra Bulan berada (hampir) tepat di permukaan
Bumi, dan pada lokasi ini akan teramati gerhana matahari total. Sedangkan pada
lokasi di timur dan barat lokasi tadi, bayangan gelap yang jatuh di permukaan
Bumi bukanlah umbra, tetapi perpanjangan umbra (antumbra), sehingga untuk fase
total pada lokasi ini yang teramati adalah gerhana matahari cincin.
4. Gerhana Matahari
Sebagian
Pada gerhana matahari sebagian, saat
puncak gerhana terjadi, tidak seluruh piringan bulan menutupi piringan matahari
dan tidak seluruh piringan bulan berada di depan piringan matahari.
Dikenal juga istilah gerhana sentral
dan gerhana non-sentral. Gerhana sentral adalah gerhana yang terjadi
dengan garis penghubung Matahari-Bulan berpotongan dengan permukaan Bumi. Jika
garis hubung tersebut tidak memotong permukaan Bumi, gerhana tersebut dinamakan
gerhana non-sentral. Gerhana matahari total, gerhana matahari cincin, dan
gerhana cincin-total termasuk gerhana sentral. Sedangkan gerhana matahari
sebagian, ada yang sentral ada yang tidak. (Mengapa?)
2. Waktu-waktu Kontak dan
Fase-fase Gerhana Matahari

Momen terjadinya gerhana matahari
berdasarkan urutan terjadinya:
- Kontak I
-
Kontak I adalah saat piringan bulan
dan piringan matahari mulai bersinggungan. Kontak I ini menandai dimulainya
peristiwa gerhana.
-
- Kontak II
-
Kontak II adalah saat pertama seluruh
piringan matahari tertutup oleh piringan bulan (untuk peristiwa gerhana
matahari total), atau saat seluruh piringan bulan seluruhnya berada 'di dalam'
piringan matahari (untuk peristiwa gerhana matahari cincin).
-
Kontak II ini menandai dimulainya fase
total (untuk gerhana matahari total), atau fase cincin (untuk gerhana matahari
cincin)
-
- Puncak gerhana
-
Puncak gerhana adalah saat jarak
antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari mencapai minimum.
-
- Kontak III
-
Kontak III adalah kebalikan Kontak II.
Kontak III ini adalah saat piringan matahari mulai keluar dari belakang
piringan bulan (untuk peristiwa gerhana matahari total), atau saat piringan
bulan mulai meninggalkan piringan matahari (untuk peristiwa gerhana matahari
cincin).
-
Interval antara Kontak II dan kontak
III adalah panjangnya fase gerhana total. Pada gerhana matahari sebagian, fase
Kontak II dan Kontak III ini tidak kita amati.
-
- Kontak IV
-
Kontak IV adalah saat piringan
matahari dan piringan bulan bersinggungan ketika piringan bulan meninggalkan
piringan matahari. Kontak IV ini adalah kebalikan dari Kontak I, dan menandai
berakhirnya peristiwa gerhana secara keseluruhan.
-
Interval antara Kontak I dan Kontak IV
adalah panjangnya peristiwa gerhana matahari.
Berdasarkan waktu-waktu kontak ini,
peristiwa gerhana matahari melalui fase-fase:
-
fase gerhana sebagian: selang antara
kontak I dan kontak II, dan antara kontak III dan kontak IV
-
fase gerhana total atau fase gerhana
cincin (tergantung gerhana matahari total atau cincin): selang antara kontak
II dan kontak III
Fase gerhana matahari mana saja yang
diamati saat terjadinya sebuah gerhana matahari, bergantung pada jenis
gerhana matahari dan darimana kita mengamati. Secara prinsip:
-
pada gerhana matahari total: terjadi
fase gerhana sebagian dan fase gerhana total
-
pada gerhana matahari cincin: terjadi
fase gerhana sebagian dan fase gerhana cincin
-
pada gerhana matahari sebagian: hanya
terjadi fase gerhana sebagian.
Namun dalam pengamatannya, pengamat di
daerah yang berbeda akan mengamati waktu kontak yang berbeda, dan karenanya akan
mengamati fase gerhana yang berbeda pula. Ini tergantung pada posisi pengamat
relatif terhadap jalur yang dilalui umbra/penumbra Bulan. Karena itu, untuk
melakukan pengamatan gerhana matahari, perlu perencanaan dan pemilihan lokasi
pengamatan.
3. Seri Saros Gerhana
Matahari
Seri saros gerhana matahari dapat
disarikan sbb:
Jika sebuah seri saros dimulai saat
Bulan berada ~ 18° dari titik tanjak turun, maka:
-
Umbra akan melewati 3500 km dari pusat
Bumi. Saat itu, terjadi gerhana matahari sebagian di kutub selatan
-
Gerhana berikutnya terjadi dengan
umbra berada 300 km lebih dekat
-
Setelah sekitar 10-11 gerhana matahari
(dalam rentang sekitar 200 tahun), maka akan terjadi gerhana matahari sentral
yang pertama di kutub selatan
-
Sampai sekitar 950 tahun berikutnya,
terjadi gerhana sentral yang bergeser dari selatan menuju ke utara dengan
pergeseran ~ 300 km
-
Pada sekitar pertengahan periode ~950
tahun pada poin di atas, akan terjadi gerhana matahari terpanjang yang terjadi
di equator
-
Satu seri saros dari mulai lahir
sampai matinya, memakan waktu kurang lebih 13 abad. Setiap seri saros ini
beranggotakan 70-80 buah gerhana, dengan ~50 diantaranya adalah gerhana
sentral
Jika sebuah seri saros gerhana matahari
dimulai saat Bulan berada di sekitar titik tanjak naik, maka akan terjadi hal
yang sama dengan arah yang berlawanan.
[ ke atas ]
Pada peristiwa gerhana bulan, kita
mengenal empat macam gerhana, yaitu: gerhana bulan total, gerhana bulan
sebagian, gerhana bulan penumbral total, dan gerhana bulan sebagian penumbral.
Perbedaan jenis-jenis gerhana bulan tersebut terletak pada bayangan Bumi mana
yang jatuh ke permukaan Bulan saat fase maksimum gerhana terjadi.
1. Macam-macam Gerhana
Bulan
Berdasarkan keadaan saat fase puncak
gerhana, gerhana bulan dapat dibedakan menjadi:
Jika saat fase gerhana maksimum
gerhana, keseluruhan Bulan masuk ke dalam bayangan inti / umbra Bumi, maka
gerhana tersebut dinamakan gerhana bulan total. Gerhana bulan total ini
maksimum durasinya bisa mencapai lebih dari 1 jam 47 menit.
2. Gerhana Bulan Sebagian
Jika hanya sebagian Bulan saja yang
masuk ke daerah umbra Bumi, dan sebagian lagi berada dalam bayangan tambahan /
penumbra Bumi pada saat fase maksimumnya, maka gerhana tersebut dinamakan
gerhana bulan sebagian.
3. Gerhana Bulan Penumbral
Total
Pada gerhana bulan jenis ke- 3 ini,
seluruh Bulan masuk ke dalam penumbra pada saat fase maksimumnya. Tetapi tidak
ada bagian Bulan yang masuk ke umbra atau tidak tertutupi oleh penumbra. Pada
kasus seperti ini, gerhana bulannya kita namakan gerhana bulan penumbral
total.
4. Gerhana Bulan Penumbral
Sebagian
Dan gerhana bulan jenis terakhir ini,
jika hanya sebagian saja dari Bulan yang memasuki penumbra, maka gerhana bulan
tersebut dinamakan gerhana bulan penumbral sebagian.
Gerhana bulan penumbral biasanya tidak
terlalu menarik bagi pengamat. Karena pada gerhana bulan jenis ini, penampakan
gerhana hampir-hampir tidak bisa dibedakan dengan saat bulan purnama biasa.
2. Waktu-waktu Kontak dan
Fase-fase Gerhana Bulan
Momen terjadinya gerhana Bulan diurut
berdasarkan urutan terjadinya:
- P1
-
P1 adalah kontak I penumbra, yaitu
saat piringan Bulan bersinggungan luar dengan penumbra Bumi. P1 menandai
dimulainya gerhana bulan secara keseluruhan.
- P2
-
P2 adalah kontak II penumbra, yaitu
saat piringan Bulan bersinggungan dalam dengan penumbra Bumi. Saat P2 terjadi,
seluruh piringan Bulan berada di dalam piringan penumbra Bumi.
- U1
-
U1 adalah kontak I umbra, yaitu saat
piringan Bulan bersinggungan luar dengan umbra Bumi.
- U2
-
U2 adalah kontak II umbra, yaitu saat
piringan Bulan bersinggungan dalam dengan umbra Bumi. U2 ini menandai
dimulainya fase total dari gerhana bulan.
- Puncak Gerhana
-
Puncak gerhana adalah saat jarak pusat
piringan Bulan dengan pusat umbra/penumbra mencapai minimum.
- U3
-
U3 adalah kontak III umbra, yaitu saat
piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan umbra Bumi, ketika piringan
Bulan tepat mulai akan meninggalkan umbra Bumi. U3 ini menandai berakhirnya
fase total dari gerhana bulan.
- U4
-
U4 adalah kontak IV umbra, yaitu saat
piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan umbra Bumi.
- P3
-
P3 adalah kontak III penumbra, yaitu
saat piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan penumbra Bumi. P3
adalah kebalikan dari P2.
- P4
-
P4 adalah kontak IV penumbra, yaitu
saat piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan penumbra Bumi. P4 adalah
kebalikan dari P1, dan menandai berakhirnya peristiwa gerhana bulan secara
keseluruhan.
Berdasarkan waktu-waktu kontak ini,
peristiwa gerhana bulan melalui fase-fase:
-
fase gerhana penumbral: selang antara
P1-U1, dan antara U4-P4
-
fase gerhana umbral: selang antara
U1-U4
-
fase total: selang antara U2-U3
Tidak keseluruhan kontak dan fase akan
terjadi saat gerhana bulan. Jenis gerhana bulan menentukan kontak-kontak dan
fase gerhana mana saja yang akan terjadi. Misalnya saat gerhana bulan total,
keseluruhan kontak dan fase akan dilalui. Untuk gerhana bulan sebagian, karena
tidak keseluruhan Bulan masuk dalam umbra Bumi, maka U2 dan U3 tidak akan
terjadi, sehingga fase total tidak akan diamati. Untuk gerhana penumbral total,
karena Bulan tidak menyentuh umbra Bumi, maka U1, U2, U3, dan U4 tidak akan
terjadi, karena itu fase gerhana umbral tidak akan diamati. Sedangkan pada
gerhana penumbral sebagian, hanya P1 dan P4 saja yang akan terjadi.
Berbeda dengan gerhana matahari, pada
gerhana bulan, waktu-waktu kontak dan saat terjadinya suatu fase gerhana, tidak
dipengaruhi oleh lokasi pengamat. Semua pengamat yang berada di belahan Bumi
yang mengalami gerhana akan mengamati waktu-waktu kontak (umbra dan penumbra)
pada saat yang bersamaan.
3. Seri Saros Gerhana
Bulan
Seri saros gerhana bulan dapat disarikan
sbb:
-
Seri saros baru dimulai saat Bulan
berada sekitar 16,5° di sebelah timur titik node. Jika titik node itu adalah
titik node turun, maka seri saros yang baru lahir itu adalah seri saros
bernomor ganjil. Saat itu Bulan berada di utara ekliptika. Demikian juga
sebaliknya
-
Anggota berikutnya dari seri saros
tersebut terjadi dengan posisi Bulan telah bergeser ke barat
-
Sekitar 7 anggota pertama dari seri
saros adalah gerhana bulan penumbral
-
10 - 20 anggota berikutnya adalah
gerhana bulan sebagian
-
12 - 25 anggota berikutnya adalah
gerhana bulan total
-
10 - 20 anggota berikutnya adalah
(kembali) gerhana bulan sebagian
-
Sekitar 7 anggota terakhir dari seri
saros adalah (kembali) gerhana bulan penumbral
-
Umur seri saros bertahan sampai 13 -
14 abad, dengan anggota 70 - 80 gerhana bulan, dan 40 - 55 diantaranya adalah
gerhana umbral.
4. Skala Danjon
André Danjon (1890-1967), seorang
astronom Perancis, melakukan klasifikasi gerhana bulan total berdasarkan
penampakan dan kecerlangan gerhana. Dalam skala Danjon ini, gerhana bulan dibagi
menjadi 5 tingkatan (yang disimbolkan dengan huruf L) sbb:
- L = 0
-
Gerhana bulan total diberi skala L = 0
jika saat fase gerhana totalnya, Bulan terlihat sangat gelap, hampir-hampir
tidak terlihat terutama saat puncak gerhana.
- L = 1
-
Gerhana bulan total diberi skala L = 1
jika saat fase gerhana totalnya, Bulan terlihat gelap, keabu-abuan, atau
berwarna coklat kotor. Detail permukaan Bulan hampir-hampir tidak terlihat.
- L = 2
-
Gerhana bulan total diberi skala L = 2
jika saat fase gerhana totalnya, Bulan berwarna merah tua atau merah seperti
karat besi. Bagian pinggiran umbra terlihat relatif lebih terang.
- L = 3
-
Gerhana bulan total diberi skala L = 3
jika saat fase gerhana totalnya, Bulan berwarna merah bata. Bagian pinggiran
umbra terlihat berwarna terang kekuning-kuningan.
- L = 4
-
Gerhana bulan total diberi skala L = 4
jika saat fase gerhana totalnya, Bulan berwarna jingga terang atau seperti
warna tembaga. Umbra Bumi terlihat sangat terang.
-
Penampakan gerhana yang dilukiskan dalam
skala Danjon ini menggambarkan keadaan atmosfer bagian atas dari daerah yang
sedang mengalami senja / fajar saat gerhana terjadi. Jika pada atmosfer di atas
daerah yang mengalami senja / fajar itu relatif bersih, maka saat fase gerhana
bulan total, piringan Bulan akan berwarna merah. Ini terjadi karena
molekul-molekul udara menghamburkan cahaya matahari yang melaluinya dengan
hamburan yang sebanding dengan 1/l4 (l
= panjang gelombang). Ini berarti semakin kecil panjang gelombang (semakin ke
arah biru pada spektrum cahaya tampak/visual), semakin efektif ia dihamburkan.
Karena panjang gelombang warna merah adalah yang paling panjang, maka ia yang
paling sedikit dihamburkan. Karena itu cahaya Matahari yang melewati atmosfer
Bumi dan dihamburkan ke umbra/penumbra, saat mencapai Bulan komponen yang
dominan adalah warna merah.
Sedangkan jika atmosfer (di bagian yang
disebutkan di atas) banyak mengandung partikel debu (dari letusan gunung berapi
misalnya), hamburan oleh partikel ini berpengaruh sama terhadap seluruh panjang
gelombang visual. Karena itu, (terutama) umbra menjadi lebih gelap, dan saat
fase gerhana total, piringan Bulan hampir tidak kelihatan.
[ ke atas ]
Dengan alat bantu kalkulator saku, kita
bisa menghitung kapan terjadinya gerhana bulan atau gerhana matahari. Tetapi
tentu saja tidak dengan ketelitian tinggi. Dalam tulisan bab ini, anda akan
diperkenalkan cara menghitung kapan terjadinya gerhana. Perhitungan di sini
tidak dimaksudkan untuk kepentingan ilmiah (karena akurasinya tidak memadai
untuk itu), tetapi bisa untuk kegunaan penelusuran historis atau untuk
mengetahui kapan akan terjadi gerhana yang akan datang. Bab ini disusun terutama
berdasarkan referensi [4].
1.
Gerhana Matahari
Langkah-langkah menghitung kapan
terjadinya gerhana matahari:
a. Tentukan sebuah tanggal. Gerhana
yang kita cari akan berpandukan tanggal ini. Hitung harga k
untuk
tanggal tersebut, dan tentukan harga k untuk tanggal calon gerhana.
k = (tahun-2000) *
12,3685
Rumus untuk mencari k di atas adalah
rumus pendekatan. 'Tahun' yang digunakan dalam rumus di atas adalah
tanggal yang dinyatakan dalam tahun. Jadi misalnya tanggalnya adalah 1 Juli
2000, maka 'tahun' di atas diisi dengan 2000,5
Untuk gerhana matahari, k haruslah
bilangan bulat (yang menunjukkan saat bulan baru). Untuk gerhana bulan, k harus
bilangan bulat ditambah 0,5 (yang menunjukkan saat bulan purnama). Jadi
calon gerhana berikutnya (setelah tanggal yang dipilih),
memiliki harga k berupa bilangan bulat terdekat yang lebih besar
dari harga k untuk tanggal pedoman kita. Calon gerhana
sebelumnya memiliki harga k berupa bilangan bulat terdekat yang
lebih kecil dari harga k untuk tanggal pedoman kita.
b. Hitung: JDE (Julian Day
Ephemeris), M, M', F, dan W
T = k/1236,85
JDE = 2.451.550,09765
+ 29,530588853*k
+ 0,0001337*T2
- 0,000000150*T3
+ 0,00000000073*T4
JDE adalah waktu terjadinya gerhana
(yang ingin dicari) dinyatakan dalam
julian day,
dimana waktunya dinyatakan dalam waktu efemeris (ET) atau waktu dinamik (DT).
(Untuk menghitung julian day, anda bisa menggunakan
script yang tersedia.)
M = + 2,5534
+ 29,10535669*k
- 0,0000218*T2
- 0,00000011*T3
M adalah anomali menengah Matahari.
M' = + 201,5643
+ 385,81693528*k
+ 0,0107438*T2
+ 0,00001239*T3
- 0,000000058*T4
M' adalah anomali menengah Bulan
F = + 160,7108
+ 390,67050274*k
- 0,0016341*T2
- 0,00000227*T3
+ 0,000000011*T4
F adalah argument latitud dari Bulan
W
= + 124,7746
- 1,56375580*k
+ 0,0020691*T2
+ 0,00000215*T3
W adalah
longitud dari ascending node (titik tanjak naik) orbit Bulan
Jika nilai mutlak dari selisih F dengan
kelipatan 180 terdekat:
-
lebih dari 21°, maka tidak akan
terjadi gerhana, dan perhitungan tidak perlu dilanjutkan.
-
kurang dari 13,9°, maka dipastikan
akan terjadi gerhana.
-
kurang dari 21° dan lebih dari 13,9°,
maka harus diuji lebih lanjut (lihat bagian akhir pada langkan di bawah).
Jika harga F berada di sekitar 0° atau
360°, maka gerhana terjadi disekitar titik tanjak naik (ascending node)
Bulan. Sedangkan jika harga F berada di sekita 180°, berarti disekitar titik
tanjak turun (decending node)
c. Jika terjadi gerhana, hitung: P,
Q, g, dan u
E = 1 - 0,002516*T -
0,0000074*T2
F1 = F - 0,02665*sin(W)
A1 = 299,77 + 0,107408*k
- 0,009173*T2
P = + 0,2070*E*sin(M)
+ 0,0024*E*sin(2*M)
- 0,0392*sin(M')
+ 0,0116*sin(2*M')
- 0,0073*E*sin(M'+M)
+ 0,0067*E*sin(M'-M)
+ 0,0118*sin(2*F1)
Q = + 5,2207
- 0,0048*E*cos(M)
+ 0,0020*E*cos(2*M)
- 0,3299*cos(M')
- 0,0060*E*cos(M'+M)
+ 0,0041*E*cos(M'-M)
W = |cos(F1)|
g
= (P*cos(F1) + Q*sin(F1))*(1-0,0048*W)
u = + 0,0059
+ 0,0046*E*cos(M)
- 0,0182*cos(M')
+ 0,0004*cos(2*M')
- 0,0005*cos(M+M')
u+0,5461 adalah radius penumbral Bulan
pada bidang fundamental (fundamental plane), yaitu bidang yang
melalui titik pusat Bumi dan tegak lurus dengan garis sumbu bayangan Bulan.
Jika harga g
> 0, maka gerhana dapat diamati dari belahan Bumi utara, jika
g < 0, maka gerhana dapat diamati dari belahan Bumi
selatan.
Jika harga nilai absolut
g:
-
kurang dari +0,9972 maka gerhananya
adalah gerhana sentral
-
jika u<0 maka gerhananya adalah
gerhana total
-
jika u>0,0047 maka gerhananya adalah
gerhana cincin
-
jika u antara 0 dan 0,0047 maka:
hitung w = 0,00464(1-g2)1/2
> 0. Jika u<w, maka gerhananya adalah gerhana
cincin-total. Jika tidak maka gerhananya adalah cincin
-
antara 0,9972 dan (1,5433+u) maka
gerhananya tidak sentral
-
lebih dari 1,5433+u maka tidak terjadi
gerhana
d. Hitung: waktu puncak gerhana, dan
magnitud gerhana
Untuk menghitung kapan waktu puncak
gerhana, hitung koreksi terhadap JDE sbb:
Koreksi_JDE = - 0,4075*
sin(M')
+ 0,1721*E*sin(M)
+ 0,0161* sin(2*M')
- 0,0097* sin(2*F1)
+ 0,0073*E*sin(M'-M)
- 0,0050*E*sin(M'+M)
- 0,0023* sin(M'-2*F1)
+ 0,0021*E*sin(2*M)
+ 0,0012* sin(M'+2*F1)
+ 0,0006*E*sin(2*M'+M)
- 0,0004* sin(3*M')
- 0,0003*E*sin(M+2*F1)
+ 0,0003* sin(A1)
- 0,0002*E*sin(M-2*F1)
- 0,0002*E*sin(2*M'-M)
- 0,0002* sin(Omega)
maka waktu puncak gerhana adalah:
Puncak_gerhana = JDE +
Koreksi_JDE
Waktu puncak gerhana yang diperoleh di
atas, adalah dalam TDT (Terrestrial Dynamical Time). Untuk menyatakan
dalam UT:
UT = TD -
DT
Data DT
diperoleh dari pengamatan. Untuk memperoleh harga DT
buat prediksi gerhana yang akan datang, dilakukan dengan mengekstrapolasi
data-data yang ada. Lebih lanjut tentang DT dapat
dibaca misalnya di website Fred Espenak's Eclipse Home Page (http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/),
lihat bagian:
http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/SEhelp/deltaT.html.
Magnitud gerhana dihitung dengan rumus:
Magnitud_gerhana =
(1,5433 + u - |g|) / (0,5461 + 2*u)
Magnitud gerhana adalah fraksi diameter
Matahari yang tertutup pada saat maksimum gerhana. Jika gerhana total, magnitud
gerhana akan lebih besar atau sama dengan 1,0. Jika magnitud gerhana kurang dari
1,0 maka gerhana tersebut adalah gerhana sebagian atau gerhana cincin.
Untuk kasus gerhana matahari sebagian,
magnitud gerhana yang dihitung dengan rumus di atas adalah magnitud gerhana yang
diamati dari lokasi yang paling dekat dengan sumbu bayangan bulan.
2.
Gerhana Bulan
Langkah-langkah menghitung kapan
terjadinya gerhana bulan:
a. Tentukan sebuah tanggal. Gerhana
yang kita cari akan berpandukan tanggal ini. Hitung harga k
untuk
tanggal tersebut, dan tentukan harga k untuk tanggal calon gerhana.
k = (tahun-2000) *
12,3685
Tentang k ini, lihat pada bagian Gerhana
Matahari di atas.
Untuk gerhana bulan, k adalah bilangan
bulat ditambah 0,5 (yang menunjukkan saat bulan purnama). Jadi calon
gerhana berikutnya (setelah tanggal yang dipilih), memiliki harga
k berupa bilangan_bulat_ditambah_0,5 terdekat yang lebih besar
dari harga k untuk tanggal pedoman kita. Calon gerhana
sebelumnya memiliki harga k berupa bilangan_bulat_ditambah_0,5 terdekat
yang lebih kecil dari harga k untuk tanggal pedoman kita.
b. Hitung: JDE (Julian Day
Ephemeris), M, M', F, dan W (sama seperti untuk
gerhana matahari)
T = k/1236,85
JDE = 2.451.550,09765
+ 29,530588853*k
+ 0,0001337*T2
- 0,000000150*T3
+ 0,00000000073*T4
M = + 2,5534
+ 29,10535669*k
- 0,0000218*T2
- 0,00000011*T3
M' = + 201,5643
+ 385,81693528*k
+ 0,0107438*T2
+ 0,00001239*T3
- 0,000000058*T4
F = + 160,7108
+ 390,67050274*k
- 0,0016341*T2
- 0,00000227*T3
+ 0,000000011*T4
W
= + 124,7746
- 1,56375580*k
+ 0,0020691*T2
+0,00000215*T3
Jika nilai mutlak dari selisih F dengan
kelipatan 180 terdekat:
-
lebih dari 21°, maka tidak akan
terjadi gerhana, dan perhitungan tidak perlu dilanjutkan.
-
kurang dari 13,9°, maka dipastikan
akan terjadi gerhana.
-
kurang dari 21° dan lebih dari 13,9°,
maka harus diuji lebih lanjut.
c. Jika terjadi gerhana, hitung: P,
Q, g, dan u (sama seperti untuk gerhana matahari)
E = 1 - 0,002516*T -
0,0000074*T2
F1 = F - 0,02665*sin(W)
A1 = 299,77 + 0,107408*k
- 0,009173*T2
P = + 0,2070*E*sin(M)
+ 0,0024*E*sin(2*M)
- 0,0392*sin(M')
+ 0,0116*sin(2*M')
- 0,0073*E*sin(M'+M)
+ 0,0067*E*sin(M'-M)
+ 0,0118*sin(2*F1)
Q = + 5,2207
- 0,0048*E*cos(M)
+ 0,0020*E*cos(2*M)
- 0,3299*cos(M')
- 0,0060*E*cos(M'+M)
+ 0,0041*E*cos(M'-M)
W = |cos(F1)|
g
= (P*cos(F1) + Q*sin(F1))*(1-0,0048*W)
u = + 0,0059
+ 0,0046*E*cos(M)
- 0,0182*cos(M')
+ 0,0004*cos(2*M')
- 0,0005*cos(M+M')
Jika harga nilai absolut
g:
-
kurang dari +0,9972 maka gerhananya
adalah gerhana sentral
-
jika u<0 maka gerhananya adalah
gerhana total
-
jika u>0,0047 maka gerhananya adalah
gerhana cincin
-
jika u antara 0 dan 0,0047 maka:
hitung w = 0,00464(1-g2)1/2
> 0. Jika u<w, maka gerhananya adalah gerhana
cincin-total. Jika tidak maka gerhananya adalah cincin
-
antara 0,9972 dan (1,5433+u) maka
gerhananya tidak sentral
-
lebih dari 1,5433+u maka tidak terjadi
gerhana
d. Hitung: waktu puncak gerhana, dan
magnitud gerhana
Untuk menghitung kapan waktu puncak
gerhana, hitung koreksi terhadap JDE sbb:
Koreksi_JDE = - 0,4065*
sin(M')
+ 0,1727*E*sin(M)
+ 0,0161* sin(2*M')
- 0,0097* sin(2*F1)
+ 0,0073*E*sin(M'-M)
- 0,0050*E*sin(M'+M)
- 0,0023* sin(M'-2*F1)
+ 0,0021*E*sin(2*M)
+ 0,0012* sin(M'+2*F1)
+ 0,0006*E*sin(2*M'+M)
- 0,0004* sin(3*M')
- 0,0003*E*sin(M+2*F1)
+ 0,0003* sin(A1)
- 0,0002*E*sin(M-2*F1)
- 0,0002*E*sin(2*M'-M)
- 0,0002* sin(Omega)
maka waktu puncak gerhana adalah:
Puncak_gerhana = JDE +
Koreksi_JDE
Sama seperti dalam perhitungan gerhana
matahari di atas, waktu puncak gerhana yang diperoleh adalah dalam TDT (Terrestrial
Dynamical Time). Untuk menyatakan dalam UT:
UT = TD -
DT
Rumus koreksi JDE untuk gerhana bulan di
atas sedikit berbeda dengan untuk gerhana matahari (Subbab 1). Perbedaannya
terletak pada koefisien pertama dan kedua. Untuk gerhana matahari: -0,4075 dan
+0,1721, sedangkan untuk gerhana bulan: -0,4065 dan 0,1727.
Data DT
diperoleh dari pengamatan. (Silakan melihat misalnya di website Fred
Espenak's Eclipse Home Page:
http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/.)
Magnitud gerhana dihitung dengan rumus:
-
Untuk gerhana penumbral:
Magnitud_gerhana =
(1,5573 + u - |g|) / (0,5450)
-
Untuk gerhana umbral
Magnitud_gerhana =
(1,0128 - u - |g|) / (0,5450)
Bila harga magnitud (umbral atau
penumbral) kurang dari 0 (dengan kata lain: negatif), berarti tidak terjadi
gerhana ybs.
e. hitung: waktu-waktu kontak dengan
umbra dan penumbra
P = 1,0128 - u
T = 0,4678 - u
n = 0,5358 + 0,0400 cos
(M')
H = 1,5573 + u
Semi_durasi_fase_parsial
= 60/n * (|P2 - g2|)0,5
Semi_durasi_fase_total =
60/n * (|T2 - g2|)0,5
Semi_durasi_fase_parsial_di_penumbra = 60/n * (|H2 -
g2|)0,5
Semi durasi yang dihitung di atas adalah
dalam satuan menit.
Maka:
-
Kontak 1 penumbra (P1) =
Puncak_gerhana - Semi_durasi_fase_parsial_di_penumbra
-
Kontak 1 umbra (U1) = Puncak_gerhana -
Semi_durasi_fase_parsial
-
Kontak 2 umbra (U2) = Puncak_gerhana -
Semi_durasi_fase_total
Ini adalah saat dimulainya fase gerhana total
-
Kontak 3 umbra (U3) = Puncak_gerhana +
Semi_durasi_fase_total
Ini adalah saat berakhirnya fase gerhana total
-
Kontak 4 umbra (U4) = Puncak_gerhana +
Semi_durasi_fase_parsial
-
Kontak 4 penumbra (P4) =
Puncak_gerhana + Semi_durasi_fase_parsial_di_penumbra
-
3. Contoh
Kalkulasi
1. Tentukan kapan gerhana matahari
pertama pada milenium ke-3!
Milenium ke-3 dimulai tanggal 1
Januari 2001. Ini adalah tanggal panduan kita. Harga k untuk tanggal 1 Januari
2001 ini adalah: k = 12,37. Maka gerhana matahari berikutnya
adalah gerhana matahari yang terjadi pada tanggal yang berasosiasi dengan
harga k > 12 dan berupa bilangan bulat.
Untuk k = 13, 14, 15, 16, dan 17,
tidak terjadi gerhana. (Mengapa?)
Untuk k = 18, terjadi gerhana matahari, dengan hasil perhitungan sbb:
-
k = 18
-
JDE = 2452081,6482
-
M = 166,4498
-
M' = 306,2691
-
W =
96,6270
-
F = 352,7798
-
F1 = 352,7534
-
nilai mutlak selisih F dengan
kelipatan 180 yang terdekat = 7,2202, dipastikan ada gerhana
-
g =
-0,5698
-
u = -0,0093
-
tipe gerhana: gerhana total
(sentral)
-
Puncak gerhana: 21 Juni 2001 jam
12:05:22 TD
-
Magnitud = 1,8276
Data gerhana matahari dari website
gerhana Fred Espenak (NASA) memberikan puncak gerhana: 21 Juni 2001 jam 12:04
UT
2. Tentukan kapan gerhana bulan terakhir
abad ke-19!
Akhir abad ke-19 adalah 31 Desember
1900. Ini adalah tanggal panduan kita. Harga k untuk tanggal ini: -1224,5238.
Tanggal gerhana terakhir yang terjadi pada abad ke-19 akan memiliki harga k
(bilangan bulat ditambah 0,5) kurang dari harga k = -1224,5238.
Sebagai iterasi pertama, ambil k =
-1225,5. Kalkulasi memberikan:
-
k = -1225,5
-
JDE = 2415360,3611
-
M = 333,9388
-
M' = 62,9207
-
W =
241,1594
-
F = 194,0081
-
F1 = 194,0314
-
nilai mutlak selisih F dengan
kelipatan 180 yang terdekat = 14,0081, kemungkinan ada gerhana
-
g =
-1,1149
-
u = 0,0011
-
tipe gerhana: gerhana penumbral
-
Puncak gerhana: 6 Desember 1900 jam
10:26:24 TD
-
Magnitud Penumbral = 0,8139
Magnitud Umbral = -0,1892. Karena magnitud umbral berharga negatif, maka
gerhana bulannya tidak gerhana umbral. Dengan kata lain, gerhana bulannya
adalah gerhana penumbral.
Data gerhana matahari dari
website gerhana Fred
Espenak (NASA) memberikan:
-
Puncak gerhana: 6 Desember 1900
10:26 UT.
-
Magnitud Penumbral = 0,844
Magnitud Umbral = -0,180
Hitung waktu-waktu kontaknya dan
bandingkan dengan data yang ada.
3. Buatlah daftar hasil kalkulasi
gerhana bulan dan gerhana matahari yang terjadi pada abad ke-21!
(Cocokkan hasilnya
dengan tabel)
-
Fred Espenak's Eclipse Home Page,
http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/
-
Fifty Year Canon of Solar
Eclipses: 1986-2035, Espenak, Fred, Goddard Space Flight Center, 1987
-
Fifty Year Canon of Lunar
Eclipses: 1986-2035, Espenak, Fred, Goddard Space Flight Center, 1987
-
Astronomical Algorithms,
Jean Meeus, Willmann-Bell, Inc., 1991
-
Nick Strobel's Astronomy Notes,
http://www.astronomynotes.com/
Hak Penyuntingan dan Penyiaran diperbolehkan dengan menyebut Sumber dan
Penulisnya
|