|

Artikel :
TOKOH-TOKOH FALAK
DI INDONESIA
oleh Dr. Susiknan Azhari
Ahmad
Dahlan, K.H : Nama kecilnya Muhammad Darwis (ada literatur yang
menulis Darwisy), dilahirkan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tahun 1868
Masehi bertepatan dengan tahun 1285 Hijriyah dan meninggal dunia pada
tanggal 23 Februari 1923 M/ 7 Rajab 1342 H, jenazahnya dimakamkan di
Karangkajen Yogyakarta. Dalam bidang ilmu Falak ia merupakan salah satu
pembaharu, yang meluruskan Arah Kiblat Masjid Agung Yogyakarta pada tahun
1897 M/1315 H. Pada saat itu masjid Agung dan masjid-masjid lainnya,
letaknya ke barat lurus, tidak tepat menuju arah kiblat yang 24 derajat
arah Barat Laut. Sebagai ulama yang menimba ilmu bertahun-tahun di Mekah,
Dahlan mengemban amanat membenarkan setiap kekeliruan, mencerdaskan setiap
kebodohan. Dengan berbekal pengetahuan ilmu Falak atau ilmu Hisab yang
dipelajari melalui K.H. Dahlan (Semarang), Kyai Termas (Jawa Timur), Kyai
Shaleh Darat (Semarang), Syekh Muhammad Jamil Jambek, dan Syekh Ahmad
Khatib Minangkabau, Dahlan menghitung kepersisan arah kiblat pada setiap
masjid yang melenceng. Setelah "tragedi kiblat" di Masjid Agung, ia pun
mendirikan organisasi Muhammadiyah. Melalui organisasi Muhammadiyah ia
mendobrak kekakuan tradisi yang memasung pemikiran Islam. Di awal
kiprahnya, ia kerap mendapat rintangan, bahkan dicap hendak mendirikan
agama baru. Namun keteguhan sikapnya menyebabkan ia dicatat sebagai
pelopor pembetulan arah kiblat dari semua surau dan masjid di Indonesia.
Tak cuma itu reputasi yang ditorehkannya. Berdasarkan pengetahuan ilmu
Falak dan Hisab yang dimilikinya, Dahlan melalui Muhammadiyah, mendasarkan
awal puasa dan Syawal dengan Hisab (perhitungan).
Ahmad
Badawi, K.H : Ahli Falak yang menjadi Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah periode 1962-1965 M/1382-1385 H dan 1965-1968 M/1385-1388 H.
Ia lahir pada tanggal 5 Februari 1902 M/ 1320 H di Kampung Kauman
Yogyakarta dan meninggal dunia pada hari Jum'at 25 April 1969 M/8 Safar
1389 H pukul 09.25 WIB di PKU Yogyakarta, putra K.H. Ahmad Faqih dan Hj.
Habibah (adik K.H. Ahmad Dahlan). Semasa kecil, ia pertama-tama belajar di
Madrasah Ibtidaiyah Diniyyah Islamiyyah yang didirikan dan diasuh langsung
oleh K.H. Ahmad Dahlan. Setelah itu ia melanjutkan belajar di berbagai
pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena ketekunan dan rajin
belajar, K.H. Ahmad Badawi terkenal sebagai ahli fikih, ahli hadis, dan
ahli falak. Semua karyanya ditulis dengan tangan dalam huruf arab maupun
latin dengan rapi. Karyanya yang berkaitan dengan ilmu falak adalah
Djadwal Waktu Sholat se-lama2nja, Tjara Menghitoeng Hisab Haqiqi Tahoen
1361 H, Hisab Haqiqi, dan Gerhana Bulan. Negara Islam yang pernah
dikunjungi diantaranya : Pakistan, Irak, Kuwait, Teheran, Saudi Arabia,
Beirut, dan Jordan.
Saadoe'ddin
Djambek (Bukittinggi, 24 Maret 1911 M/ 1330 H-Jakarta, 22
November 1977 M/11 Zulhijjah 1397 H). Seorang guru serta ahli hisab dan
rukyat, putra ulama besar Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860-1947
M/1277-1367 H) dari Minangkabau. Ia memperoleh pendidikan formal pertama
di HIS (Hollands Inlandsche School) hingga tamat pada tahun 1924 M/1343 H.
Kemudian ia melanjutkan studinya ke sekolah pendidikan guru, HIK (Hollands
Inlandsche Kweekschool). Setelah tamat dari HIK pada tahun 1927 M/1346 H,
ia meneruskannya lagi ke Hogere Kweekschool (HKS), sekolah pendidikan guru
atas, di Bandung, Jawa barat, dan memperoleh ijazah pada tahun 1930 M/1349
H. Selama empat tahun (1930-1934 M/1349-1353 H) ia mengabdikan diri
sebagai guru Gouvernements Schakelschool di Perbaungan, Palembang. Setelah
menjalani tugasnya sebagai guru di palembang, ia berusaha melanjutkan
pendidikannya, ia mengajukan permohonan untuk dipindahtugaskan ke Jakarta
agar dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Di Jakarta ia bekerja
sebagai guru Gouvernement HIS nomor 1 selama setahun. Pada tahun 1935
M/1354 H ia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Indische
Hoofdakte (program diploma pendidikan) di Bandung sampai memperoleh ijazah
pada tahun 1937 M/1356 H. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh ijazah
bahasa Jerman dan bahasa Perancis. Setelah mengikuti pendidikan di
Bandung, ia kembali menjalankan tugas sebagai guru Gouvernement HIS di
Simpang Tiga (Sumatra Timur). Sebagai seorang guru, ia tidak pernah
berhenti mengembangkan karier di bidang pendidikan. Kariernya terus
meningkat, dari guru sekolah dasar sampai menjadi dosen di Perguruan
Tinggi dan terakhir menjadi pegawai tinggi di Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan di Jakarta. Ia mulai tertarik mempelajari ilmu hisab pada tahun
1929 M/1348 H. Ia belajar ilmu hisab dari Syekh Taher Jalaluddin, yang
mengajar di Al-Jami'ah Islamiah Padang tahun 1939 M/1358 H. Pertemuannya
dengan Syekh Taher Jalaluddin membekas dalam dirinya dan menjadi awal
pembentukan keahliannya di bidang hitung-menghitung penanggalan. Untuk
memperdalam pengetahuannya, ia kemudian mengikuti kursus Legere Akte Ilmu
Pasti di Yogyakarta pada tahun 1941-1942 M/1360-1361 H serta mengikuti
kuliah ilmu pasti alam dan astronomi pada FIPIA (Fakultas Ilmu Pasti dan
Ilmu Alam) di Bandung pada tahun 1954-1955 M/1374-1375 H. Keahliannya di
bidang ilmu pasti dan ilmu falak dikembangkannya melalui tugas yang
dilaksanakannya di beberapa tempat. Pada tahun 1955-1956 M/1375-1376 H
menjadi lektor kepala dalam mata kuliah ilmu pasti pada PTPG (Perguruan
Tinggi Pendidikan Guru) di batusangkar, Sumatra Barat. Kemudian ia memberi
kuliah ilmu falak sebagai dosen tidak tetap di Fakultas Syari'ah IAIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta (1959-1961 M/1379-1381 H). Sebagai ahli ilmu
falak, ia banyak menulis tentang ilmu hisab. Di antara karyanya adalah :
(1) Waktu dan Djadwal Penjelasan Populer Mengenai Perjalanan Bumi, Bulan
dan Matahari (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas tahun 1952 M/1372 H), (2)
Almanak Djamiliyah (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas tahun 1953 M/1373
H), (3) Perbandingan Tarich (diterbitkan oleh penerbit Tintamas pada tahun
1968 M/1388 H), (4) Pedoman Waktu Sholat Sepanjang Masa (diterbitkan oleh
Penerbit Bulan Bintang pada tahun 1974 M/1394 H), (5) Sholat dan Puasa di
daerah Kutub (diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada tahun 1974
M/1394 H) dan (6) Hisab Awal bulan Qamariyah (diterbitkan oleh Penerbit
Tintamas pada tahun 1976 M/1397 H). Karya yang terakhir ini merupakan
pergumulan pemikirannya yang akhirnya merupakan ciri khas pemikirannya
dalam hisab awal bulan qamariyah.
Wardan
Diponingrat, K.R.T: Ahli falak, nama kecilnya adalah Muhammad
Wardan, dilahirkan pada tanggal 19 Mei 1911 M bertepatan dengan tanggal 20
Jumadal Ula 1329 H di Kauman, Yogyakarta dan meninggal dunia pada tanggal
3 Februari 1991 M/ 19 Rajab 1411 H. Ayahnya, yaitu kyai Muhammad Sangidu
seorang penghulu keraton Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Penghulu Kyai
Muhammad Kamaludiningrat sejak 1913 M/1332 H sampai 1940 M/1359 H.
Pendidikan dasarnya diperoleh di Sekolah Keputran (sekolah khusus untuk
para keluarga keraton) dan Standard Schoel Moehammadijah di Suronatan
(lulus tahun 1924 M/1343 H). Kemudian melanjutkan ke Madrasah Muallimin
sampai lulus pada tahun 1930 M/1349 H. Satu tahun sesudah itu Muhammad
Wardan sebenarnya berkeinginan belajar ke tanah Arab, tapi karena kendala
biaya tidak dapat memenuhi cita-citanya tersebut, akhirnya ia melanjutkan
ke Pondok Jamsaren Solo. Selain nyantri ia juga mengikuti kursus Bahasa
Belanda di Sekolah Nederland Verbond dan les privat bahasa Inggris.
Setelah mendapatkan berbagai ilmu, Muhammad Wardan berusaha mengamalkan
dan mengajarkannya. Pada tahun 1934 M/1353 H sampai 1936 M/1355 H, dia
menjadi guru Madrasah Al-Falah Yogyakarta, kemudian pada tahun 1936-1945
M/1355-1365 H menjadi guru di Sekolah Muballighin Muhammadiyah Yogyakarta.
Memasuki masa perjuangan fisik, aktivitas Muhammad Wardan di bidang
pendidikan terhenti dan ia melibatkan diri di dalam Angkatan Perang Sabil
(APS) dan ia dipercaya sebagai anggota bidang markas ulama. Setelah
perjuangan fisik mereda dan Indonesia dapat mencapai kemerdekaan secara
penuh, pada tahun 1948-1962 M/1368-1381 H ia mengabdikan diri sebagai guru
di Madrasah Menengah Tinggi Yogyakarta dan pada tahun 1951-1952
M/1371-1372 H juga mengajar di Sekolah Guru Hakim Agama (SGHA) Negeri
Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1954-1956 M/1374-1376 H ia ditugaskan
oleh Departemen Agama RI untuk menjadi guru di Pendidikan Guru Agama (PGA)
Negeri Yogyakarta dan guru di Sekolah Persiapan PTAIN Yogyakarta. Sejak
1973 M/1393 H sampai wafatnya ia diangkat sebagai anggota dewan kurator
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Karena kepiawaiannya di bidang ilmu Falak,
sejak tahun 1973 hingga wafatnya dipercaya sebagai anggota Badan Hisab
Rukyat Departemen Agama RI. Muhammad Wardan merupakan salah seorang tokoh
penggagas teori wujudul hilal yang hingga kini masih digunakan oleh
persyarikatan Muhammadiyah. Adapun karya-karyanya di bidang ilmu falak,
yaitu Umdatul Hasib, Persoalan Hisab dan Ru'jat Dalam Menentukan Permulaan
Bulan, Hisab dan Falak, dan Hisab Urfi dan Hakiki.
Bidran Hadie, H.M : Ahli falak, dilahirkan di Kauman
Yogyakarta pada tahun 1925 M/1344 H, meninggal dunia pada tanggal 28
Nopember 1994 M/ 25 Jumadal Akhir 1415 H, dan dimakamkan satu komplek
dengan K.H. Ahmad Dahlan di Pemakaman Karang Kajen Yogyakarta.
Pendidikannya dimulai di SR, kemudian melanjutkan ke Madrasah Mu'allimin
Yogyakarta. Setelah itu ia melanjutkan kuliah di Universitas Islam
Indonesia(UII) namun tidak sampai tamat. Ia termasuk tokoh yang membidani
lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan menurut data sejarah ia
termasuk pendiri Lembaga Astronomi Himpunan Mahasiswa Islam (LAHMI).
Bidran Hadie merupakan ahli falak yang berpenampilan sederhana namun
keilmuannya dalam bidang falak tidak diragukan. Berkat keilmuannya dalam
bidang falak ia diberi amanat menjadi anggota bagian Hisab Majelis Tarjih
Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan anggota Badan Hisab dan Rukyat Departemen
Agama RI mewakili Muhammadiyah.
Abdur
Rachim, H : Ahli falak, dilahirkan di Panarukan pada tanggal 3
Februari 1935 M/ 1354 H. Tamat Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta pada bulan April 1969 M/ Safar 1389 H, sebagai sarjana teladan
dan mendapatkan lencana "Widya Wisuda", dan pada tahun 1982 M/1403 H,
mengikuti Studi Purna Sarjana (SPS) dapat menyelesaikannya sebagai peserta
teladan. karirnya sebagai pendidik dimulai sejak sebagai mahasiswa tingkat
doktoral, dipercaya sebagai asisten H. Saadoe'ddin Djambek dalam mata
kuliyah ilmu falak mulai tahun 1965 M/1385 H, pada tahun 1972 M/1392 H
diangkat sebagai dosen tetap dalam mata kuliah tafsir, sesuai dengan
jurusannya. Pada tahun yang sama diangkat sebagai ketua Lembaga Hisab dan
Ru'yah, dan pada tahun itu juga diangkat sebagai Ketua Jurusan Tafsir
Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tahun 1976 M/1396 H
diangkat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademis Fakultas Syari'ah IAIN, dan
tahun 1981 M/1402 H diserahi tugas sebagai Wakil Dekan Bidang
Kemahasiswaan Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga Yogayakarta. Disamping
itu beliau juga sebagai dosen, yang ikut membina mahasiswa di Fakultas
UII, dalam mata kuliah Ilmu Falak dan Ahkamul Qadla. Tugas ini dilakukan
sejak tahun 1972 M/1392 H, dan sejak tahun 1974 M/1394 H dipercaya sebagai
anggota penyusun Al-Qur'an dan Tafsir. Karirnya memperdalam Ilmu Falak
menjadikan beliau diserahi tugas untuk melanjutkan tugas gurunya H.
Saadoe'ddin Djambek (setelah meninggal) sebagai Wakil Ketua Badan Hisab
Ru'yah Departemen Agama Pusat tahun 1978 M/1399 H, pada tahun itu juga
mewakili Pemerintah Indonesia menghadiri Konferensi Islam di Istambul.
Selanjutnya pada tahun 1981 M/1402 H sebagai delegasi Indonesia menghadiri
Konferensi Islam di Tunis. Kemudian atas kepercayaan Menteri Agama, beliau
diutus lagi menghadiri Konferensi Islam Internasional di Aljazair pada
tahun 1982 M/1403 H. Guru-guru beliau yang memberi warna bagi kariernya
ialah : Prof. Dr.T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Prof. Dr. H. Muhtar Yahya, H.
Saadoe'ddin Djambek, Sa'di Thalib dan Saleh Haedarah. Sedangkan
karya-karya ilmiahnya yang berkaitan dengan ilmu Falak yang telah
diterbitkan, antara lain : Mengapa Bilangan Ramadlan 1389 H ditetapkan 30
Hari ? (1969 M/1389 H), Menghitung Permulaan Tahun Hidjrah (1970 M/1390
H), Ufuq Mar'i sebagai Lingkaran Pemisah antara Terbit dan Terbenamnya
Benda-benda Langit (1970 M/1390 H), Ilmu Falak (1983 M/1404 H), dan
Kalender Internasional
Basit Wahid, H : Salah seorang tokoh Falak, lahir di
Yogyakarta pada tanggal 12 Desember 1925 M/1344 H. Pendidikannnya dimulai
di Sekolah Dasar Muhammadiyah, kemudian melanjutkan di SLTP Muhammadiyah
dan Muallimin. Setelah lulus dari Muallimin, ia melanjutkan ke Universitas
Gadjah Mada Fakultas Tehnik Jurusan Kimia. Menurut penuturannya,
keahliannya dalam bidang ilmu Falak diperoleh dari guru-gurunya, yaitu :
K.H. Syamsun Jombang, K.H. Siraadj Dahlan (Putra Pendiri Muhammadiyah),
dan K.H. Muhammad Wardan Diponingrat. Menurutnya pula untuk menambah
wawasannya dalam bidang falak ia pernah mengunjungi Jerman, Nederland,
Australia, dan Malaysia. Sebagai seorang ahli falak, ia pernah diberi
amanat menjadi Ketua Bagian Hisab Majelis Tarjih Pimpinan Pusat
Muhammadiyah dan wakil Muhammadiyah di Badan Hisab dan Rukyat Departemen
Agama Pusat. Basit Wahid termasuk ahli falak yang produktif dalam
menuangkan gagasan-gagasannya tentang hisab-rukyat melalui berbagai media
massa, diantaranya : Serba-serbi Kalender 1995, Kalender Hijriah Tiada
Mitos di dalamnya, Rukyat dengan Alat Canggih, Memahami Hisab sebagai
Alternatif Rukyat, Astronomi dan Astrologi, Waktu-waktu Sholat dan Puasa
di Pelbagai tempat di Permukaan Bumi, dan Penentuan Awal Bulan Hijriah.
Hak Penyuntingan dan Penyiaran diperbolehkan dengan menyebut Sumber dan
Penulisnya
|