1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Kumpulan Artikel Falak

Meniti Jalan Menuju Kesepakan Penanggalan Hijriyah

Setiap muslim tentunya menghendaki kebersamaan, tidak ada satupun orang yang benar-benar muslim yang menghendaki terjadinya perpecahan di kalangan umat ini termasuk di dalamnya perbedaan konsep penanggalan di kalangan kaum muslimin. Hal ini mengingat penanggalan kalender hijriyah terkait dengan beberapa ibadah jamai’ yang seharusnya dikerjakan secara bersama dan juga mu’amalah. Ibadah-ibadah jama’i yang terkait dengan penanggalan ini seperti ibadah shiyam, ‘iedul-fithri, ‘iedul-adhha, hajji, dan beberpa ‘ibadah lainnya. Perjanjian di antara kaum muslimin atau antara kaum muslimin dengan lainnya yang membutuhkan penetapan batas-batas waktu tertentu menjadi sulit menggunakan kalender Islam kalau tidak ada kepastian penanggalan yang diakui secara bersama.

 A. Islam sebagai Pemersatu Umat

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (الأنفال: 63)
“Allahlah yang mempersatukan hati kaum mu’minin. Seandainya engkau membelanjakan apa saja yang ada di bumi semuanya, niscaya engkau tidak akan bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allahlah yang mempersatukan mereka. Sesungguhnya Dia yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Ayat ini turun sehubungan kaum muslimin. Allah menjelaskan bahwa bukanlah kekuatan harta yang mempersatukan kaum muslimin. Mereka bisa disatukan oleh Allah dengan agama ini setelah selama ini mereka sering berperang karena berbagai persetruan dan perselisihan di antara mereka. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan Allah kepada RasulNya “Seandainya engkau (wahai Muhammad) membelanjakan seluruh isi dunia ini untuk menyatukan mereka niscaya engkau tak akan sanggup mempersatukannya. Allahlah yang mempersatukan mereka (melalui agamanya). Sesungguhnya Allah yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Bila kita menelusur sejarah Arab pra Islam (masa jahiliyah) mereka terdiri dari banyak kabilah, mereka begitu membangga-banggakan suku dan keturunan, membangga-banggakan kedudukan dan kekayaan. Kesombongan dan fanatik golongan begitu mudah memantik persetruan bahkan peperangan di antara mereka. Islam datang menghapus fanatisme kesukuan dan berbangga-banggaan dengan harta, kedudukan dan keturunan dengan kecintaan dan kepatuhan kepada Allah dan RasulNya. Kekuatan ummat dan persatuaan ummat ini dicapai karena ajaran Islam telah mengubah karakter mereka menjadi pribadi-pribadi utama. Islam telah membimbing mereka menjadi pribadi-pribadi yang ikhlash. memurnikan tujuan hidup mereka semata-mata mencari ridha Allah. Mereka dibimbing oleh Islam untuk tidak bercerai berai, dan bergerak menuju satu tujuan sebagaimana yang diajarkan Allah dan RasulNya di bawah satu kepemimpinan Islam, yakni Rasulullah.

Yang demikian itu terjadi karena Islam adalah agama yang lurus, agama yang mempersatukan penganutnya dalam tauhid kepada Allah. Allah menjelaskan tentang agama ini:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (الأنفال: 153)
“Dan sesungguhnya (agama Islam) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”

Ajaran tauhid yang melandasi agama Islam, menuntut kebersihan hati dan mengikis kesombongan-kesombongan dan kebanggaan-kebanggaan terhadap dunia. Islam menuntun umat untuk menjaga kebersamaan dalam tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasulnya, membangun kasih sayang di antara mereka serta mewujudkan fungsi kerahmatan Islam bagi semesta.

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. al-Anfal: 46)

Keragu-raguan untuk menjadikan Islam sebagai jalan hidup, petunjuk hidup dan ikatan di antara sesama umat, menjadikan umat ini bercerai berai dan lemah. Kesombongan dan keangkuhan merupakan akar yang mengotori kebersihan jiwa untuk taat dan patuh pada Allah, padahal Allah menyuruh umat ini untuk mengabdi kepada-Nya dengan memurnikan niat semata karena Allah, dengan penuh kehanifan (kepatuhan sepenuhnya terhadap agama Allah, mengesakan Allah dan menjauhi kesyirikan).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (البينة : 5)
“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali mengabdi kepada Allah dengan memurnikan agama karena Allah serta hanif (mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun), dan menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”

Islam menuntun umat pada persatuan dan keikhlasan dalam beramal. Hal ini terjadi karena Islam mengajarkan bahwa apapun yang dilakukan harus didasari ketundukan kepada Allah dan kecintaan kepadaNya, mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan apapun denganNya. Perpecahan di kalangan umat Islam mengindikasikan adanya ketidak patuhan pada Allah, bahkan mengindikasikan adanya perbuatan syirik kepada Allah. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” (Al-An’am ; 159)
 
Larangan memecah belah agama dan menjadikan mereka bergolongan-golongan, tidak berarti Islam melarang adanya kelompok-kelompok, baik kecil atau besar, mulai tingkat keluarga, kampung, hingga wilayah yang lebih besar bahkan negara, atau larangan berorganisasi dan lain-lain. Hanya saja Islam mensyaratkan ketika berhadapan dengan Islam semua harus bersatu. Tidak ada lagi pembedaan berdasarkan ras, suku, bangsa, organisasi atau lainnya. Kelompok-kelompok itu harus tunduk pada kepentingan dan tujuan yang lebih tinggi yaitu Islam dan tunduk pada ikatan yang lebih besar yaitu umat Islam, dan bersatu padu untuk membela Islam.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujurat:13).

Karena itulah Allah mengingatkan kita ketika terjadi perselisihan menyangkut hal apa saja agar mencari solusinya berdasar petunjuk Allah dan RasulNya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (النساء: 59)
“Wahai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan (orang yang dipercaya Rasul sebagai) pemimpin urusanmu. Maka jika kalian berselisih dalam satu urusan (terhadap suatu keputusan yang diambil pemimpinmu atau pemimpinmu itu tidak bisa memutuskannya), maka kembalikanlah urusannya kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itulah jalan yang utama dan lebih baik akibatnya.”

Ada dua pilar yang ditekankan terhadap setiap pribadi ummat Islam yakni ketaatan kepada Allah dan RasulNya dalam menjalankan agamaNya dan melarang mereka berpecah belah dalam ketundukan kepada Allah. Adanya perpecahan merupakan salah satu indikasi ketidak patuhan kepada Allah, bahkan kesyirikan kepadaNya. Perpecahan akan menjadikan lemahnya kekuatan ummat dan maraknya fitnah di kalangan kaum muslimin. Perpecahan akan menjadi salah satu sebab datangnya kemurkaan Allah.

Karena itu adanya gerakan menyatukan dunia Islam dalam satu ikatan yang lebih besar menjadi sebuah keniscayaan. Adanya satu kepemimpinan Islam yang menaungi semua kelompok, bangsa dan negara menjadi tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali ‘Imran ayat 103)
 
Perhatikan juga firman Allah berikut:
ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات وأولئك لهم عذاب عظيم
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 105)

ولا تكونوا من المشركين من الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعا كل حزب بما لديهم فرحون
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)

Dalil-dalil lain yang menguatkan pentingnya membangun kebersamaan dan menjaga persatuan ummat adalah sabda Rasulullah saw:

عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة من سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن
“Berpeganglah pada Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ستكون بعدي هنات وهنات، فمن رأيتموه فارق الجماعة، أو يريد أن يفرق أمر أمة محمد كائنا من كان فاقتلوه ؛ فإن يد الله مع الجماعة، و إن الشيطان مع من فارق الجماعة يركض
“Sepeninggalku akan ada huru-hara yang terjadi terus-menerus. Jika diantara kalian melihat orang yang memecah belah Jama’ah atau menginginkan perpecahan dalam urusan umatku bagaimana pun bentuknya, maka perangilah ia. Karena tangan Allah itu berada pada Al Jama’ah. Karena setan itu berlari bersama orang yang hendak memecah belah Jama’ah” (HR. As Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shaghir 4672, dishahihkan Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shahih 3621)

Memerangi atau memberantas kelompok teroris terhadap Islam tentunya hanya mungkin dapat diwujudkan manakala ada satu kepemimpinan yang mengorganisir kekuatan umat. Begitu pula terwujudnya kebersamaan dan kesatuan umat membutuhkan satu kepemimpinan umat yang menyatukan mereka dalam ketundukan kepada Allah dan memutuskan urusan mereka. Karena itu tegaknya satu khilafah Islamiyah menjadi sebuah keniscayaan untuk bangkitnya dunia Islam dan terwujudnya fungsi kerahmatan Islam bagi seluruh alam.

Kepemimpinan Islam sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah telah melahirkan generasi Islam pilihan yang menjadi teladan umat sepanjang zaman. Allah menjelaskan menjelaskan tentang karakter mereka, mereka adalah umat yang senantiasa mengedepankan kepentingan Islam di atas segalanya dan mereka selalu berusaha mencegah terjadinya perpecahan dan perselesihan yang terjadi di antara mereka. Mereka adalah ummat yang selalu mengedepankan musyawarah untuk memutuskan perkara-perkara di antara mereka. Allah menjelaskan tentang mereka dalam firman-Nya:

و أمرهم شوى بينهم
Mereka selalu memusyawarahkan urusan yang menyangkut kepentingan mereka. Mereka adalah ummat yang selalu mengutamakan kebersamaan dan persatuan di antara mereka. Karena itulah Allah menguatkan mereka dan menjadikan ummat utama di atas umat manusia lainnya.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (الفتح:29)
“Muhammad itu adalah utusan Allâh dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allâh dan keridhaan-Ny, pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

B. Pentingnya mewujudkan Satu Konsep Penanggalan Hijriyah

Adanya satu konsep penanggalan Hijriyah merupakan satu impian setiap kaum muslimin, yang merupakan bagian dari impian terwujudnya satu khilafah islamiyah di dunia ini. Ide menyatukan konsep penanggalan hijrah insyaallah akan menjadi momen penting mewujudkan tujuan yang lebih tinggi terwujudnya satu khilafah Islamiyah atas seluruh alam. Di sana banyak pelajaran tentang membangun kebersamaan, kepatuhan kepada Allah dan Rasul, menundukkan kesombongan, mentadabburi keagungan ajaran Ilahi dan kesiapan berkorban demi Islam dan kepentingan bersama umat Islam. Alangkah indahnya bila setiap orang bangga dengan Islam tidak lagi berbangga-bangga dengan kelompoknya.

Setiap muslim tentunya menghendaki kebersamaan, tidak ada satupun orang yang benar-benar muslim yang menghendaki terjadinya perpecahan di kalangan umat ini termasuk di dalamnya perbedaan konsep penanggalan di kalangan kaum muslimin. Hal ini mengingat penanggalan kalender hijriyah terkait dengan beberapa ibadah jamai’ yang seharusnya dikerjakan secara bersama dan juga mu’amalah. Ibadah-ibadah jama’i yang terkait dengan penanggalan ini seperti ibadah shiyam, ‘iedul-fithri, ‘iedul-adhha, hajji, dan beberpa ‘ibadah lainnya. Perjanjian di antara kaum muslimin atau antara kaum muslimin dengan lainnya yang membutuhkan penetapan batas-batas waktu tertentu menjadi sulit menggunakan kalender Islam kalau tidak ada kepastian penanggalan yang diakui secara bersama.

Penanggalan bukanlah ‘amaliah fardi, yang membolehkan setiap orang atau kelompok menetapkan sendiri-sendiri batas-batasnya. Dia menyangkut amaliah jama’ah dan syi’ar ummat. Penetapannya menjadi tanggung jawab amirul mu’minin. Dan ini saya yakin semua ulama muslim menyadarinya. Tapi mengapa susah mempersatukan ummat dalam satu konsep penanggalan hijriah? Banyak gagasan yang telah diajukan dan diperjuangkan, namun sampai hari ini belum ada kesepakatan di dunia Islam tentang satu konsep penanggalan hijriyah. Mudah-mudahan momen kesadaran tentang pentingnya penyatuan konsep penanggalan Islam menjadi momen yang menyadarkan umat akan pentingnya terwujudnya satu kekhilafahan Islam di seluruh permukaan bumi ini.

Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan akan pentingnya membangun kebersamaan dalam menentukan batas-batas tanggal terutama yang menyangkut pelaksanaan ibadah jama’i.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ (الترمذي:633
Rasulullah saw bersabda:” Berpuasa itu pada hari kalian berpuasa & berbuka itu pada hari dimana kalian semua berbuka dan Iedul Adlha yaitu pada hari kalian semuanya berkurban.” (HR Turmudzi, hasan gharib).

Dalam riwayat Abu Dawud, Rasulullah saw bersabda:
وفطركم يوم تفطرون . وأضحاكم يوم تضحون . وكل عرفة موقف وكل منى منحر وكل فجاج مكة منحر وكل جمع موقف (رواه أبو داود(
“Hari berbuka kamu adalah hari di mana kalian (kaum muslimin) berbuka dan hari adhha kalian adalah hari di mana kalian berkurban. Seluruh Arafah adalah tempat wukuf, dan seluruh Mina adalah tempat nahar dan setiap tempat Makah adalah tempat nahar, dan setiap Muzdalifah adalah tempat wukuf”.
Terwujudnya kebersamaan dalam pelaksanaan ‘ibadah jama’i tersebut, selain lebih memperkuat ukhuwwah, juga merupakan bagian penting dari syi’ar Islam. Rasulullah memberikan panduan tentang bagaimana konsep penanggalan itu bisa diwujudkan. Hanya saja mungkin esensinya belum tertangkap oleh semua pihak sehingga ditafsiri beragam oleh kalangan ulama. Bisa jadi salah satu esensinya adalah pentingnya dunia Islam disatukan dalam satu kekhilafahan tertinggi.
Adanya satu kepemimpinan umat Islam menjadi penting, bahkan wajib untuk mempersatukan umat dalam Islam dan memutuskan perkara-perkara bersama di antara mereka, menjaga keharmonisan dan persatuan mereka, membela kepentingan-kepentingan mereka, serta mewujudkan fungsi kerahmatan Islam bagi seluruh alam.

C. Dalil-dalil Terkait Penetapan Penanggalan Islam

Berikut ini saya kutipkan di antara dalil-dalil yang menjadi rujukan bagaimana kalender Islam (kalender Hijriyah) dibangun.

1. Kalender Islam adalah kalender yang konsep penanggalannya didasarkan atas siklus bulan (kalender qamariyah). Satu bulan qamariah diawali dari hilal dan berakhir saat hilal bulan berikutnya. Allah Ta’ala berfirman:

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَهِلَّةِۖ قُلۡ هِيَ مَوَٰقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلۡحَجِّۗ
”Dan mereka bertanya kepadamu tentang hilal-hilal. Katakanlah itu waktu-waktu untuk manusia dan untuk (ibadah) haji.” (al-Baqarah: 189)

2. Hitungan satu bulan adalah 29 atau 30. Siklus dari hilal ke hilal termasuk siklus sinodis bulan. Berkaitan dengan jumlah hari bulan qamariyah ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب الشهر هكذا وهكذا وهكذا وأشار بيده ثلاث مرات وعقد إبهامه في الثالثة والشهر هكذا وهكذا وهكذا وأشار بأصابعه كلها
“Kami adalah umat yang ummiy, kami tidak menulis dan tidak menghitung. Satu bulan itu begini, begini, dan begini” – beliau menunjukkan dengan tangannya sebanyak tiga kali namun melipat ibu jarinya pada kali ketiga – “satu bulan itu juga bisa begini, begini, dan begini” – beliau menunjukkan dengan jari-jemarinya semuanya – (HR. Al-Bukhari 1913, Muslim 1080) yang dimaksudkan oleh Rasulullah adalah bahwa dalam satu bulan itu terkadang 29 hari, dan terkadang 30 hari.

Terjadinya ijtima’ dan masuknya fase-fase hilal dari bulan ke bulan selalu berubah mengikuti pergerakan bulan, bumi dan matahari. Dasar penetapan hitungan bulan kalender Islam adalah periode penampakan hilal ke hilal berikutnya. Terkadang satu bulan 29 hari, dan terkadang 30 hari. Hilal pertama adalah pertanda awal masuknya tanggal baru.

Satu bulan dihitung 29 hari dan digenapkan menjadi 30 hari bila pada akhir tanggal 29 hilal diyakini tidak muncul. Berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

أن رسول الله ذكر رمضان فقال : لا تصوموا حتى تروا الهلال، ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فاقدروا له
Bahwa Rasulullah menyebutkan bulan Ramadhan, maka beliau berkata : “Janganlah kalian bershaum hingga kalian melihat al-hilâl, dan janganlah kalian ber’idul fitri hingga kalian melihatnya. Jika kalian terhalangi (oleh mendung, debu, atau yang lainnya) maka tentukan/perkirakanlah untuknya.” (HR Al-Bukhari 1906; Muslim 1080; An-Nasâ’i no. 2121; Al-Muwaththa` no. 557; Ahmad II/63)

الشهر تسع وعشرون، فلا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين
“Satu bulan itu dua puluh sembilan hari. Maka janganlah kalian memulai ibadah shaum sampai kalian melihat Al-Hilâl, dan janganlah kalian ber’idul fitri sampai kalian melihatnya. Jika terhalang atas kalian maka sempurnakanlah bilangan (bulan menjadi) tiga puluh (hari).” (HR Al-Bukhâri 1907; Asy-Syâfi’i dalam Musnad-nya no. 435 (I/446)).

Dalam riwayat lain dengan lafazh :

فصوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن أغمي عليكم فاقدروا له ثلالين
“Bershaumlah kalian berdasarkan ru`yatul hilâl dan ber’idulfitrilah kalian berdasarkan ru`yatul hilâl. Jika (Al-Hilâl) terhalangi atas kalian, maka tentukanlah untuk (bulan tersebut menjadi) tiga puluh.” (HR Muslim 1080).

Dan masih banyak riwayat lain yang semakna dengan ini[i].

3. Memperhitungkan dengan cermat kemungkinan datangnya bulan dari hilal bulan sebelumnya (terutama awal-awal bulan ‘ibadah)

كان النبي صلى الله عليه وسلم يتحفظ في شعبان ، ما لا يتحفظ في غيره ثم يصوم لرؤية رمضان (رواه الدارقطني بإسناد صحيح)
“Biasanya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam menjaga (dengan cermat datangnya sesuatu) di bulan Sya’ban yang tidak menjaga (dengan cermat) pada bulan lain. Kemudian berpuasa dengan melihat (hilal) Ramadan.” HR. Ad-Daraqutni dengan sanad shahih.
 
4. Di larang mendahului penetapan penanggalan sehingga diketahui kepastian terlihatnya hilal. Dalilnya adalah terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ (رواه اليخاري:1781)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah seorang dari kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali apabila seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnat) maka pada hari itu dia dipersilahkan untuk melaksanakannya".

5. Dalam satu tahun ada 12 bulan qamariyah:

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين (التوبة:36)
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

6. Wilayah Hukum dan Mathla’
Wilayah hukum adalah teritorial-teritorial atau wilayah-wilayah di mana satu ketetapan penanggalan berlaku untuk seluruh teritorial atau wilayah tersebut. Mathla’ adalah tempat di mana diyakini hilal muncul (hilal pertama dapat disaksikan). Dalam satu wilayah hukum bisa memiliki beberapa mathla’. Kesaksian pertama di satu mathla’ mengikat seluruh wilayah hukum. Dalil-dalil berikut menjadi isyarah bahwa kesaksian di suatu mathla’ menjadi hukum bagi yang lainnya dalam satu wilayah hukum.

غُمَّ عَلَيْنَا هِلَالُ شَوَّالٍ فَأَصْبَحْنَا صِيَامًا فَجَاءَ رَكْبٌ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ فَشَهِدُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفْطِرُوا مِنْ يَوْمِهِمْ وَأَنْ يَخْرُجُوا لِعِيدِهِمْ مِنْ الْغَدِ
Hilal bulan Syawal tertutup oleh mendung bagi kami sehingga kami tetap berpuasa pada keesokan harinya. Menjelang sore hari datanglah beberapa musafir dari Mekkah ke Madinah. Mereka memberikan kesaksian di hadapan Nabi saw bahwa mereka telah melihat hilal kemarin (sore). Maka Rasulullah saw memerintahkan mereka (kaum Muslim) untuk segera berbuka dan melaksanakan sholat ‘Ied pada keesokan harinya (HR. Ahmad dishahihkan oleh Ibnu Mundir dan Ibnu Hazm).

Dalil ini menunjukkan bahwa kesaksian hilal di tempat berbeda dapat diberlakukan selama masih dalam satu zona wilayah hukum yang sama. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan kaum Muslim untuk membatalkan puasa setelah mendengar informasi ru’yah hilal bulan Syawal dari beberapa orang yang berada di luar Madinah al-Munawarah. Peristiwa itu terjadi ketika ada serombongan orang dari luar Madinah yang memberitakan bahwa mereka telah melihat hilal Syawal di suatu tempat di luar Madinah al-Munawarah sehari sebelum mereka sampai di Madinah.

Dalam hadits lain dari Ibnu ‘Abbas:

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ الْحَسَنُ فِي حَدِيثِهِ يَعْنِي رَمَضَانَ فَقَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ فَلْيَصُومُوا غَدًا
“Datang seorang Badui ke Rasulullah SAW seraya berkata: Sesungguhnya aku telah melihat hilal. (Hasan, perawi hadits menjelaskan bahwa hilal yang dimaksud orang Badui itu adalah hilal Ramadhan). Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Dia berkata, “Benar.” Beliau meneruskan pertanyaannya seraya berkata, “Apakah kau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Dia berkata, “Ya benar.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal umumkan kepada orang-orang untuk berpuasa besok.” (HR Abu Daud and al-Tirmidzi, disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Dimungkinkan adanya penetapan berbeda untuk teritorial berbeda
Dalil-dalil berikut mengindikasikan dimungkinkannya teritorial berbeda memiliki wilayah hukum berbeda:

أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بَعَثَتْهُ إلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ فَقَالَ : فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ ، ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ : مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ ؟ فَقُلْتُ : رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ، فَقَالَ : أَنْتَ رَأَيْتَهُ ؟ فَقُلْتُ : نَعَمْ ، وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ ، فَقَالَ : لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ ، فَقُلْتُ : أَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ ؟ فَقَالَ : لَا ، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bahwa Ummul Fadl telah mengutusnya untuk menemui Muawiyyah di Syam. Kuraib berkata, “Aku memasuki Syam lalu menyelesaikan urusan Ummul Fadhl. Ternyata bulan Ramadhan tiba sedangkan aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jumat. Setelah itu aku memasuki kota Madinah pada akhir bulan Ramadhan. Ibnu ‘Abbas lalu bertanya kepadaku dan menyebut persoalan hilal’. Dia bertanya, ‘Kapan kalian melihat hilal?’ Aku menjawab, ‘Kami melihatnya pada malam Jum’at.’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah kamu sendiri melihatnya?’ Aku jawab lagi, ‘Ya, dan orang-orang juga melihatnya. Lalu mereka berpuasa, begitu pula Muawiyyah.’ Dia berkata lagi, ‘Tapi kami (di Madinah) melihatnya pada malam Sabtu. Maka kami terus berpuasa hingga kami menyempurnakan bilangan tiga puluh hari atau hingga kami melihatnya.’ Aku lalu bertanya, ‘Tidak cukupkah kita berpedoman pada ru’yat dan puasa Muawiyyah?’ Dia menjawab, ‘Tidak, (sebab) demikianlah Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kami’. ( HR. Muslim no. 1819; Abu Dawud no. 1985; al-Tirmidzi 629; al-Nasa’i no. 2084; Ahmad no. 2653).

Hadits tersebut menjelaskan tentang adanya batas-batas territorial ketetapan hukum yang berlaku bagi penanggalan dan ketetapan atas satu teritorial di manapun dalam batas territorial tersebut berlaku bagi seluruh wilayah. Sedangkan untuk territorial berbeda dapat diterapkan ketentuan berbeda.

D. Antara Ru’yat dan Hisab

Konsep penanggalan kalender Islam telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menjelasakan bahwa kalender Islam adalah kalender qamariyah. Dalam satu tahun adalah 12 bulan (at-Taubah:36). Bulan-bulan itu adalah bulan-bulan qamariyah, dan hilal-hilal menjadi tanda-tanda yang membatasi satu bulan dengan bulan berikutnya (al-Baqarah:189). Lebih jauh dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa peredaran matahari dan bulan mengikuti suatu perhitungan yang ditetapkan Allah (ar-Rahman:5; Yunus:6). Masing-masing matahari dan bulan beredar pada bidang edarnya. Matahari tidak menjangkau bulan, tidak pula malam mendahului siang, karena masing-masing beredar pada lintasannya.

Bulan jauh lebih dekat ke Bumi dibandingkan matahari. Pergerakan keduanya sepanjang lintasannya menimbulkan perubahan fase-fase bulan yang tampak di bumi. Ada fase hilal, bulan setengah, bulan purnama, bulan setengah lagi, hilal akhir dan bulan mati, kemudian masuk ke fase hilal lagi dan seterusnya. Hilal yang menandai awal bulan adalah hilal pertama yang tampak setelah bulan mati, yang dapat disaksikan sesaat setelah matahari terbenam.

1. Hilal awal Bulan
Sebagaimana telah disebutkan bahwa hilal awal bulan adalah hilal atau bulan sabit yang pertama yang tampak setelah fase bulan mati yang dapat disaksikan beberapa saat setelah matahari terbenam. Bulan mati sendiri adalah fase bulan antara dua bulan sabit yaitu bulan sabit akhir bulan dan bulan sabit awal bulan. Bulan sabit akhir bulan dapat disaksikan beberapa saat sebelum matahari terbit menjelang fase bulan mati. Setelah itu bulan hilang di malam hari hingga muncul lagi sebagai bulan sabit (hilal) awal bulan beberapa saat setelah matahari terbenam.
Fenomena penampakan hilal pertama terjadi karena adanya sudut fase yang cukup antara matahari dan bulan, dan bulan masih di atas ufuk saat matahari terbenam. Selain itu kuat cahaya bulan lebih tinggi dari iluminasi cahaya di sekitar area penampakan bulan sehingga bulan bisa disaksikan oleh pengamat di bumi. Pernyataan bahwa harus ada fase yang cukup karena pada dasarnya fase bulan hampir selalu ada kecuali pada saat gerhana matahari total, hal ini karena bidang edar bulan dan matahari tidak benar-benar berimpit melainkan membentuk sudut sekitar 5 derajat dilihat dari bumi. Garis ijtima’ hanyalah garis khayal. Pada saat ijtima, matahari, bulan dan bumi belum tentu benar-benar segaris, karena bidang edar matahari dilihat dari bumi dan bidang edar bulan tidak berimpit. Pada saat-saat ijtima, bisa jadi bulan lebih dahulu terbenam kemudian disusul matahari padahal sudah melewati ijtima’, atau matahari mendahului terbenam menjelang ijtima. Namun secara umum matahari akan lebih dahulu terbenam beberapa saat setelah ijtima’.

2. Peranan Hisab dalam penentuan hilal
Hisab sebagaimana halnya ru’ayat dapat dijadikan alat bantu untuk mengetahui posisi hilal awal bulan. Penetapan awal tanggal bulan baru berdasarkan ru’yat dilakukan di akhir tanggal 29 setiap bulan. Aktifitasnya berupa mengamati penampakan hilal beberapa saat setelah matahari terbenam. Bila hilal tampak maka umur bulan ditetapkan 29 dan bila tidak maka umur bulan digenapkan 30. Untuk memastikan tempat terbenam hilal awal bulan dapat dilakukan dengan mengamati selisih simpangan titik terbit hilal akhir bulan dengan titik terbit matahari beberapa hari sebelumnya. Titik hilal awal bulan posisinya dapat didekati dengan menambahkan derajat simpangan hilal akhir bulan dengan arah yang berlawanan dari hasil pengukuran sebelumnya terhadap titik terbenam matahari. Cara yang lebih presisi untuk mengetahui titik hilal tentunya dengan menggunakan rumusan-rumusan perhitungan hisab yang benar.
Menentukan posisi-posisi baik matahari maupun bulan saat matahari tenggelam di akhir tanggal 29 tersebut saat ini sangat mudah dengan menggunkan hisab, dengan tingkat ke presisian yang tinggi, hanya saja masalahnya adalah belum ada keriteria tunggal yang disepakati untuk penetapan hilal awal bulan, apakah berdasarkan kemungkinan penampakan wujudnya (kriteria imkan ru’yah) atau berdasarkan wujudnya saja dengan mengabaikan kemungkinan penampakannya (kriteria wujud hilal).
Para ulama sepakat bahwa untuk penetapan puasa (dalam hal ini mengawali bulan qamariyah) tidak harus melalui kesaksian semua orang, keasaksian seorang yang memenuhi syarat sudah cukup dijadikan dasar penetapan awal penanggalan walaupun penglihatan (ru’yat) sebagian besar orang atas wujudnya hilal terhalang. Hal ini didasarkan dalil-dalil yang sudah kita bahas saat menjelaskan tentang wilayah hukum. Dengan demikian maka kita akan mendapatkan bahwa yang menjadikan dasar penetapan hukum awal penanggalan bulan adalah kepastian wujud hilal, ru’yat hanyalah cara untuk memastikan keberadaannya. Ketika ada kepastian wujud hilal, maka imam atau amirul-mu’minin berkewajiban mengumumkannya dan atas semua orang wajib mengikutinya. Berdasarkan dalil-dalil yang telah kita bahas di muka (Lihat uraian mengenai wilayah hukum).

Atas dasar ini banyak ulama berpendapat bahwa penggunaan cara lain yang diyakini bisa memastikan wujudul hilal seperti melalui perhitungan falak (hisab falak) dan penggunaan alat bantu penglihatan dapat digunakan. Hal ini sejalan dengan kaidah:

الحكم يدور مع علته وجودا وعدما
 
3. Benarkah Hisab Dilarang?
Kalau kita cermati pernyataan-pernyataan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kita akan menemukan bahwa Islam begitu kondusif bahkan antisipatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak petunjuk yang bisa kita ambil dari berbagai isyarah yang terdapat dalam al-Qur’an dan sabda Rasulullah sehubungan perkembangan iptek ini.
 
Misalnya tentang pergerakan matahari dan bulan, dan tentang hisab yang salah satu aplikasinya digunakan dalam penanggalan kalender Islam. Allah menyatakan dalam al-Qur’an:
الرحمن علم القرءان خلق الإنسان علمه البيان الشمس والقمر بحسبان (الرحمن:1-5)
"(Dia-lah Allah) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur'an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan."

هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب ما خلق الله ذلك إلا بالحق يفصل الآيات لقوم يعلمون(يونس:5)
"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."
 
Pernyataan-pernyataan dalam ayat ini, memberi petunjuk kepada kaum muslimin tentang sebuah fenomena yang ada di jagat raya ini yakni pergerakan benda-bendanya bahwa semua bergerak menurut suatu perhitungan tertentu, tanda-tanda yang menjadi tantangan bagi umat muslim untuk bisa mendalaminya, yakni mepelajari ilmu falak atau hisab. Bahkan lebih jauh dijelaskan Allah:

إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب(190)الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار (أل عمران :191)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."

Dalam suatu riwayat dijelaskan setelah turun ayat ini Rasulullah terus menerus menangis sepanjang malam bahkan ketika Rasulullah melaksanakan shalat malam, hingga ketika waktu shubuh datang dan Rasulullah belum hadir Bilal mengunjunginya dan menanyakan apa gerangan yang membuat seorang Rasul yang ma’shum menangis. Rasulullah menjawab turunnya ayat inilah yang membuatnya menangis. Lantas beliau mengatakan celakalah orang yang membacanya tapi tidak mau mentafakurinya.

Sementara hadits Rasulullah yang menyatakan:

إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب الشهر هكذا وهكذا وهكذا وأشار بيده ثلاث مرات وعقد إبهامه في الثالثة والشهر هكذا وهكذا وهكذا وأشار بأصابعه كلها
“Kami adalah umat yang ummiy, kami tidak menulis dan tidak menghitung. Satu bulan itu begini, begini, dan begini” – beliau menunjukkan dengan tangannya sebanyak tiga kali namun melipat ibu jarinya pada kali ketiga – “satu bulan itu juga bisa begini, begini, dan begini” – beliau menunjukkan dengan jari-jemarinya semuanya – (HR. Al-Bukhari 1913, Muslim 1080)
Tidaklah menunjukkan tentang haramnya penggunaan hisab, justru di situ Rasulullah menjelaskan kepada umatnya yang ummi tentang dasar-dasar hisab. Begitu pula hadits-hadits yang berkaitan dengan hitungan bulan semua mengajarkan bagaimana sebuah konsep penanggalan bahkan hisab dibangun dan dirumuskan.
Ada sekelompok orang di akhir zaman ini yang memberikan pernyataan yang menyatakan bahwa hisab tidak memberikan solusi apapun terhadap penyelesaian permasalahan penanggalan Islam bahkan semakin memperlebar perbedaan yang ada, ini hanyalah ungkapan orang yang tidak faham terhadap kedudukan hisab. Hisab sebagaimana ru’yat hanyalah metoda atau alat untuk mengetahui wujud hilal bukan ‘illat hukum bagi penetapan penanggalan. Perbedaan-perbedaan yang terjadi bukanlah karena hisab atau ru’yatnya, tetapi lebih karena tidak adanya kesamaan kriteria yang dibangun untuk menetapkan awal penanggalan.

4. Wujud Hilal
Sebagaimana diketahui, munculnya hilal adalah karena adanya berkas cahaya yang dipantulkan bulan ke pengamat di bumi saat terbentuk selisih sudut antara bulan dan matahari. Ada banyak faktor yang mempengaruhi terbentunya hilal sehingga bisa sampai ke pangamat di bumi. Faktor itu adalah intensisas cahaya bulan, intensitas cahaya sekitarnya serta kedudukan hilal terhadap horizon pengamat. Untuk bisa diamati intensitas cahaya bulan jelas harus lebih dominan dari cahaya di sekitarnya. Adanya parallax dan refraksi terhadap cahaya, mensyaratkan hilal mencapai kedudukan tertentu dari horizon. Intensitas cahaya bulan berkaitan dengan besarnya fase bulan dan jarak bulan. Ketentuan tentang syarat-syarat terbentuknya penampakan ini lebih jauh dikenal sebagai kriteria imkan ru’yah.

Dengan penggunaan alat bantu ru’yat seperti teleskop, hilal dengan intensitas cahaya lebih rendah dapat dipantau atau fase hilal yang lebih kecil bisa diamati, sehingga area visibilitas menjadi lebih luas dibandingkan dengan pengamatan dengan mata telanjang. Secara teoritis hilal akan terbentuk ketika fase bulan lebih dari nol, atau hilal bisa terbentuk pada fase lebih rendah dari kriteria visibilitas hilal. Adanya syarat hilal harus bisa disaksikan sesaat setelah ghurub adalah untuk memastikan siklus hilal baru telah dimulai, hilal pertama kali di atas ufuk setelah fase bulan mati. Atas asumsi inilah kriteria wujudul hilal dibangun. Keriteria ini menyatakan awal bulan terjadi manakala (pertama kali) bulan terbenam setelah matahari terbenam (moonset after sunset).

E. Mewujudkan Satu Konsep Penanggalan Hijriyah

1. Peluang Penyatuan Konsep Penanggalan Hijriyah Internasional
Ide penyatuan penanggalan kalender hijriyah hingga kini masih terus disuarakan. Berbagai konsep telah diajukan. Masalahnya adalah dari sekian banyak konsep itu belum ada satu konsep yang bisa diterima semua kalangan karena masih ditemukan beberapa kejanggalan-kejanggalan sehingga belum bisa diterima semua kalangan.
Pada makalah kali ini, saya berusaha untuk mengangkat kembali isu itu dengan memperhatikan berbagai masukan dan kriteria yang ada dan mengkompromikan beberapa kriteria yang ada dengan tetap merujuk dalil dalil yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
a. Dasar-dasar pemikiran.
1) Adanya kepastian konsep penanggalan merupakan sebuah keniscayaan bila kalender hijriyah dikehendaki menjadi panduan dari seluruh mu’amalah umat Islam. Dan untuk itu harus ada suatu konsep global penangggalan yang berlaku di seluruh dunia. Konsep penanggalan yang dimaksud harus mencakup seluruh keriteria baik hisab maupun ru’yat yang bisa diaplikasikan di seluruh dunia.
2) Dasar-dasar penetapan harus mengacu dalil-dalil syar’i, karena penanggalan tersebut mengatur beberapa pelaksanaan ‘ibadah dalam hal ini terutama awal dan akhir Ramadhan, iedul fithri, dan pelaksanaan hajji.
b. Dari paparan tentang prinsip-prinsip penanggalan di masa-masa awal Islam (periode Nabi dan generasi sahabat), terdapat atsar yang menunjukkan bahwa adanya
1) Mathla’-mathla’ yang dapat dijadikan sebagai dasar ditetapkannya awal penanggalan kalender hijriyah
2) Di mathla’ mana saja hilal disaksikan dapat dijadikan dasar penetapan awal penanggalan di seluruh wilayah hukum.
3) Dimungkinkan ada lebih dari satu wilayah hukum dengan penetapan batas awal kalender yang berbeda.

2. Langkah-langkah kompromi
Sebuah kompromi dapat dilakukan manakala semua pihak menyadari pentingnya kebersamaan. Sebagaimana telah dibahas, masalah penetapan penanggalan termasuk masalah bersama umat yang harus diselesaikan bersama. Tidak bisa satu kelompok memutuskan sendiri. Amirul mu’minin harus berperan agar setiap kelompok fokus pada kesamaan-kesamaan dan mencari titik temu dari perbedaan yang ada dengan tetap merujuk kepada petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah, menemukan jalan kompromi dan mengambil keputusan sesuai dengan hak dan tanggung jawabnya.

a. Langkah awal adalah musyawarah. Salah satu karakter muslim sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an adalah mereka selalu memusyawarahkan urusan di antara mereka jika mereka berselisih dalam sebuah perkara.

b. Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Bila kita mencermati kelompok-kelompok yang berbeda, kita akan mendapatkan pada dasarnya mereka berhujjah dengan hujjah yang sama dengan yang digunakan kelompok lainnya tetapi ditafsirkan dengan pendekatan yang berbeda. Yang satu berlandaskan kepada teks dalil dan yang lain beranggapan kepada konteks dalil.
 
1) Kata-kata ru’yat hilal secara tekstual berarti melihat hilal. Aliran tekstual beranggapan bahwa ru’yat (melihat secara fisik) merupakan sebab atau ‘illat ditetapkannya penanggalan sehingga manakala sebab itu tidak ada maka hitungan bulan harus disempurnakan menjadi 30 (ikmal).

2) Adanya dalil yang menggugurkan hukum ikmal saat ada kesaksian ru’yat dari tempat yang lain memberi isyarat bahwa ketetapan penanggalan tidak pada ru’yatnya tetapi pada kepastian adanya hilal yang dibuktikan oleh adanya kesaksian dari daerah lain. Karena yang menjadi dasar penetapan penanggalan adalah kepastian adanya hilal, maka alat bantu atau metoda lain yang dapat memastikan keberadaan hilal, seperti hisab dapat digunakan. Dengan demikian secara kontekstual hisab dan ru’yat hanyalah metoda. Sementara dasar penetapan awal bulan adalah wujudnya hilal pertama. Karena itu mana yang lebih mampu memberi kepastian maka itu tentu yang lebih baik.
Perbedaan-perbedaan yang terjadi tidak hanya menyangkut metoda yang digunakan saja tetapi juga menyangkut wilayah hukum berlakunya penanggalan. Lalu pendapat kelompok mana yang harus diambil yang dianggap paling sesuai tuntunan Allah dan RasulNya?

Perhatikan firman Allah dalam surat An-Nisa 82:
أفلا يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا ( 82 )
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an? Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Ada satu yang perlu dicatat bayaknya perpecahan mengindikasikan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya belum sepenuhnya kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, atau ada sesuatu yang kurang yang belum tertangkap dari isyarat yang ada dalam al-Quran dan al-Hadits. Satu semangat yang harus terus dipegang bahwa Islam adalah solusi yang mempertemukan perselisihan, ketika perselisihan itu sulit dipertemukan mengindikasikan kita belum sepenuhnya kembali kepada Allah dan RasulNya dan hendaknya ini menjadi motivasi kita menggali lebih dalam petunjuk dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Lebih jauh Allah berfirman:
ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات وأولئك لهم عذاب عظيم
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 105(

ولا تكونوا من المشركين من الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعا كل حزب بما لديهم فرحون
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)
 
Kunci utama menuju harmonisasi dan kebersamaan adalah 1) memegang teguh persamaan dan 2) mencari titik-titik temu perbedaan dengan terus menggali petunjuk berdasarkan tuntunan Allah dan RasulNya.

قل ياأهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم ألا نعبد إلا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله فإن تولوا فقولوا اشهدوا بأنا مسلمون (أل عمران: 64)
Dalam masalah konsep penanggalan kalender Islam persamaan-persamaan itu sudah terpampang dengan jelas:
 
a. Dalil-dalil yang dijadikan rujukan oleh masing-masing kelompok pada dasarnya adalah dalil-dalil yang sama, dengan penekanan pada dalil-dalil tertentu untuk menguatkan argumennya.
b. Beberapa kesepakatan tentang penetapan awal bulan qamariyah
1) Hilal pertama yang muncul di atas ufuk pertanda berakhirnya bulan dan masuk ke awal bulan berikutnya.
2) Penetapan awal penanggalan sah berdasarkan ru’yat hilal.
3) Kepastian tentang wujudnya hilal awal bulan sah dari kesaksian orang lain atau kesaksian orang dari tempat lain yang berdekatan dengannya.
4) Hukum ikmal (menyempurnakan hitungan bulan menjadi 30) di saat hilal terhalang adalah untuk memastikan wujud hilal (tanpa harus ru’yat lagi), karena bila umur bulan sudah 30 dipastikan hilal wujud walaupun pemandangan atas hilal terhalang.
5) Dimungkinkan adanya perbedaan penetapan awal penanggalan untuk wilayah hukum yang berbeda bila kepastian wujud hilal di kedua wilayah tersebut berbeda.
Bila kita mencermati dalil berkaitan dengan wilayah hukum, mathla’, dan penetapan awal bulan, dan isyarat dibalik ketentuan ru’yat hilal, kita akan menemukan titik-titik pertemuan dari berbagai perbedaan yang berkembang dan mengakomodasikan perbedaan-perbedaan itu dalam sebuah bingkai 1) syarat minimum penetapan awal bulan adalah adanya keyakinan hilal telah muncul walaupun hilal tidak dapat disaksikan atau belum memenuhi kriteria imkan ru’yat (didasarkan pada keumuman ayat tentang hilal dan hadits larangan mendahului puasa sebelum ada kepastian hilal), 2) awal bulan ditetapkan diseluruh wilayah hukum bila ada mathla’ yang menyaksikan hilal atau mathla’ yang memenuhi kriteria imkan ru’yat. Syarat pertama adalah syarat wujudul hilal dan syarat kedua adalah syarat imkan ru’yah. Atas dasar asumsi ini ada tiga kategori mathla’ atau daerah penetapan penanggalan:
a. Daerah yang dipastikan umur bulan 29, bila dipastikas adanya penampakan hilal atau hilal memenuhi kriteria pemampakannya.
b. Daerah yang dipastikan umur bulan 30, bila hilal dipastikan lebih dahulu terbenam sebelum matahari.
c. Daerah yang umur bulannya bisa ditarik ke 29 atau 30 (daerah muhmal), yaitu daerah sudah memenuhi kriteria wujud hilal (hilal di atas ufuk saat matahari terbenam) tapi belum
memenuhi kritera imkan ru’yat.

3. Zona-zona batas penanggalan
Pemberlakuan kalender hijriah global membutuhkan adanya konsensus menyangkut batas-batas berlakunya penanggalan hijriyah. Batas-batas ini menyangkut batas waktu (miqat zamani) dan batas wilayah (miqat makani) di mana garis penanggalan mulai ditetapkan.

a. Batas waktu (miqat zamani).
Berdasarkan dalil-dalil yang ada memberi isyarat bahwa ketetapan perubahan hari dalam islam adalah pada saat hari memasuki malam. Hanya saja perlu ditegaskan apakah saat itu saat terbenamnya matahari atau hilangnya syafaq (memasuki waktu ‘isya’). Mari kita perhatikan firman Allah dalam surat al-Isra’ berikut:وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا
“Sesungguhnya malam dan siang adalah dua tanda. Kami hapus tanda malam dan kami jadikan tanda siang bercahaya agar kalian mencari keutamaan dari Tuhanmu dan mengetahui perhitungan tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan secara rinci”.
Ayat ini memberi isyarat bahwa tanda masuk malam adalah hilangnya berkas cahaya matahari dan masuknya kegelapan malam (awal masuk ‘isya’) dan berakhir saat berkas cahaya matahari mulai masuk (masuknya fajar). Berdasarkan ayat ini pada saat memasuki maghrib, hari belum berganti dan pergantian terjadi saat memasuki waktu ‘isya’ (batas waktu penanggalan). Bila asumsi ini bisa diterima maka aktivitas ru’yat itu dilakukan menjelang pergantian tanggal bukan setelah tanggal berganti dan aktivitas ru’yat adalah untuk memastikan wujudnya hilal pertama. Dan ini selaras dengan pengertian ikmal (pada saat ru’yat dilakukan masih tanggal seperti pada siang harinya dan ketika memasuki batas pergantian hari yakni awal Isya hitungan tanggal kembali ke tanggal 1 atau digenapkan menjadi 30 saat dipastikan hilal tidak wujud).

b. Daerah muhmal
Dari pembahasan tentang wilayah hukum dan mathla’ terdahulu kita mengetahui adanya daerah-daerah yang pemandangan terhadap hilal terhalang namun dapat dimasukkan ke mathla’ terdekat atau wilayah hukum yang bersangkutan di mana kesaksian hilal terjadi. Sehinnga batas penanggalannya disesuaikan dengannya. Dengan demikian daerah muhmal adalah daerah yang penetapan hukumnya bisa ditetapkan sesuai batas minimalnya (umur bulan 29 hari) atau ikmal (digenapkan menjadi 30) kalau di daerah-daerah lain yang ada dalam wilayah hukum tersebut tidak ada bukti kesaksian hilal. Bila kita membagi wilayah berdasarkan wujudul hilal dan kemungkinan visibilitasnya kepada daerah hilal belum wujud dan daerah hilal visibel, maka daerah muhmal adalah daerah yang sudah memenuhi kriteria wujudul hilal namun belum memenuhi kriteria visibilitas hilal. Berdasarkan dalil-dalil yang ada, ketetapan hukum untuk daerah muhmal mengikuti ketetapan di wilayah hukumnya.

c. Garis penaggalan (miqat makani)
Mengingat penetapan awal penanggalan bulan kalender hijriyah didasarkan pada munculnya hilal di mana mathla’nya selalu bergerak dari waktu ke waktu. Untuk itu diperlukan adanya zona-zona penanggalan kalender hijriyah. Dalam zona ini satu ketetapkan batas penanggalan harus diberlakukan. Untuk mengatasi luasnya area, sekurang-kurangnya diperlukan adanya 2 zona pilihan atau lebih untuk penetapan batas penanggalan hijriyah untuk menangani titik-titik perubahan tersebut. Banyaknya zona dapat diputuskan melalui konsensus alam islami seteleh melalui perhitungan dan pertimbangan yang cermat. Pembagian zona harus mempertimbangkan bahwa dalam satu zona tidak dimungkinkan adanya mathla’-mathla’ dimana hilal visibel sekaligus adanya mathla’-mathla’ dimana hilal belum wujud, tetapi boleh dalam satu zona terdapat daerah hilal visibel dan daerah muhmal atau daerah hilal belum wujud dan daerah muhmal. Dalam satu zona hanya dimungkinkan satu ketetapan penanggalan (satu wilayah hukum). Penetapan penanggalan untuk satu zona dapat diterapkan sebagai berikut:

1) Zona dihukumi sebagai zona hilal visibel (umur bulan 29) bila dalam zona tersebut terbukti ada mathla’ yang menyatakan hilal visible, walaupun tidak seluruhnya memenuhi kriteria visibilitas hilal (sebagian visibel sebagian muhmal). Hal ini di dasarkan dalil yang telah disampaikan dalam pembahasan tentang wilayah hukum.

2) Zona di mana ada daerah muhmal dan daerah hilal belum wujud maka dihukumi sebagai zona hilal belum wujud (umur bulan 30). Hal ini mengingat bahwa di daerah muhmal dimungkinkan ditarik ke zona visibel atau zona hilal belum wujud, sementara ada daerah dalam wilayah hukum itu yang belum masuk kriteria wujud hilal maka umur bulan harus digenapkan, mengingat ada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang melarang mendahului shiyam sebelum waktunya masuk.

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ (رواه اليخاري:1781)
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah seorang dari kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali apabila seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnat) maka pada hari itu dia dipersilahkan untuk melaksanakannya".

3) Awal penanggalan kalender hijriyah dimulai di batas zona paling timur dari zona mana saja yang pertama kali di mana posisi hilal secara hisab masuk zona muhmal atau visibel dan seterusnya ke arah barat melewati zona-zona yang lainnya sampai ditemukan mathla’ penampakan hilal.

4) Bila di semua zona hilal belum wujud atau ada zona muhmal dan zona di mana hilal dipastikan belum wujud maka di seluruh zona umur bulan digenapkan 30.

5) Bila semua zona adalah zona muhmal dapat dipertimbangkan masuk hukum hilal visibel (umur bulan 29) atau ikmal (umur bulan digenapkan 30). Namun bila dikembalikan ke dalil tentang ghamam maka ditetapkan ikmal (umur bulan 30).

Wabillahi taufiiq.
Makalah ini boleh disebarluaskan dengan tetap menyebutkan sumbernya.
 
==========================================================
[i] Diriwayatkan pula oleh Abû Dâwûd no. 2320 Dalam riwayat Ad-Daraquthni dengan lafazh :
لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلاَثِينَ
“Janganlah kalian memulai ibadah shaum sampai kalian melihat hilâl, dan janganlah kalian ber’idul fitri sampai kalian melihat hlâl. Jika terhalang atas kalian maka bershaumlah kalian selama tiga puluh (hari).”
Imâm Baihaqi meriwayatkan dalam Sunan-nya (IV/205) no. 7720 melalui jalur Nâfi dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah bersabda
إن الله تبارك وتعالى جعل الأهلة مواقيت، فإذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غم عليكم فاقدروا له أتموه ثلاثين
“Sesungguhnya Allah Tabâraka wa Ta’âlâ menjadikan hilâl-hilâl sebagai tanda-tanda waktu. Maka jika kalian melihatnya mulailah kalian bershaum, dan jika kalian melihatnya ber’idulfitrilah kalian. Namun jika terhalang atas kalian, maka perkirakanlah dengan menggenapkannya menjadi tiga puluh hari.”
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahîh-nya (III/201) no. 1906. Demikian juga diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzâq dalam Mushannaf-nya no. 7306 dengan lafazh :
إن الله جعل الأهلة مواقيت للناس، فصوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فعدوا له ثلاثين يوما
“Sesungguhnya Allah menjadikan hilâl-hilâl sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia. Maka mulailah ibadah shaum kalian berdasarkan ru`yatul hilâl, dan ber’idulfitrilah kalian berdasarkan ru`yatul hilâl. Jika hilâl terhalangi atas kalian, maka hitunglah (bulan tersebut) menjadi tiga puluh hari.”
Lihat pula Tarâju’ât Al-‘Allâmah Al-Albâni fit Tash-hih no. 49. b. dari shahabat Abû Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda :
إذا رأيتم الهلال فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، فإن غم عليكم فصوموا ثلاثين يوماً
“Jika kalian telah melihat Al-Hilâl maka bershaumlah kalian, dan jika kalian telah melihat hilâl maka ber’idul fitrilah kalian. Namun jika hilâl terhalang atas kalian, maka bershaumlah kalian selama 30 hari.”
Diriwayatkan oleh Muslim no. 1081; An-Nasâ`i no. 2119; Ibnu Mâjah no. 1655; dan Ahmad (II/263, 281)
 
 

00:00:00

HISAB-RUKYAT
Ilmu Falak
────────────
Awal Bulan
────────────
Arah Kiblat
────────────
Waktu Shalat
────────────
Gerhana
────────────
 
KATEGORI
Buku Falak
────────────
Tokoh Falak
────────────
Karya Falak
────────────
Berita Falak
────────────
Peralatan
────────────
Software
────────────
Artikel
────────────
 
 
 
 
 

FOLLOW ME

Bergabung dengan Droup Facebook RHI Follow Tweeter RHIGroup Diskusi RHI via Yahoo

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

We have 17 guests and no members online