http://viagra-50-online-store.com/
  1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Mengenal Awal Bulan Hijriyah

Prediksi Awal Bulan Jumadal Akhirah 1440 H

Rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Jumadal Akhirah 1440  Hijriyah akan dilaksanakan pada Selasa, 5 Februari 2019 bertepatan tanggal 29 Jumadal Ula 1440 H berdasarkan penetapan awal bulan menurut hasil rukyat sebelumnya. Sementara berdasarkan Taqwim Standard Indonesia pelaksanaan rukyat pada hari sebelumnya. Laporan rukyatul hilal dari seluruh kawasan Indonesia sangat penting karena akan menjadi dasar menetapkan kapan jatuhnya awal Jumadal Akhirah tahun ini yang akan menjadi pedoman penetapan ibadah sunah yang mengikuti tanggal seperti puasa yaumil bit termnasuk juga penetapan tanggal 29 saat penentuan rukyat bulan berikutnya.

Data ketinggian Hilal pada berdasarkan markas nasional Pos Observasi Bulan (POB) Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat ditunjukkan sebagai berikut; Ijtimak/konjungsi Bulan-Matahari terjadi pada Selasa, 5 Februari 2019 pukul 04:06 WIB, Matahari terbenam pada pukul 18:19 WIB, dengan ketinggian bulan/hilal 5°34' di atas ufuk mar'i. Pada kondisi ini secara astronomis hilal sangat sulit dirukyat secara visual walaupun menggunakan teleskop sekalipun apalagi hanya dengan mata telanjang akan mustahil.

Ijtimak / Konjungsi / New Moon
Selasa, 5 Februari 2019 @ 04:06 WIB - 05:06 WITA - 06:06 WIT atau Senin, 4 Februari 2019 @ 21:06 UT

Visibilitas Hilal pada hari terjadinya Ijtimak setelah Matahari terbenam di seluruh dunia khususnya kawasan Indonesia ditunjukkan pada gambar peta di atas. Peta visibilitas mengacu pada Kriteria Odeh (2005). Kriteria tersebut dikemas dalam sebuah software yang bernama Accurate Times yang menjadi acuan pembuatan peta visibilitas ini.

KETERANGAN :

  1. Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH dapat menyaksikan Hilal, sebab pada saat itu Bulan terbenam lebih dulu sebelum Matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah Matahari terbenam.
  2. Daerah yang berada pada area BIRU TUA (tak berarsiran) juga belum memiliki peluang dapat menyaksikan hilal sekalipun menggunakan alat bantu optik (binokuler/teropong), sebab kedudukan Hilal masih sangat rendah dan terang cakram Bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya Hilal tidak mungkin teramati sekai.
  3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan alat bantu optik pada area di bawah arsiran BIRU MUDA. Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah di langit Barat.
  4. Wilayah yang berada dalam arsiran UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan alat bantu optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.
  5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU baik menggunakan mata telanjang apalagi menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

Peta Tinggi Hilal di Wilayah Indonesia

Tanggal Rukyatul Hilal :  Selasa, 5 Februari 2019

Diagram posisi hilal pada hari ijtimak di Pelabuhanratu (Grafis: Starrynight)

Prediksi Awal Bulan menurut beberapa Kriteria di Indonesia

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal

Teori Visibilitas Hilal terbaru telah dibangun oleh para astronom dalam proyek pengamatan hilal global yang dikenal sebagai Islamic Crescent Observation Project (ICOP) berpusat di Yordania berdasar pada sekitar 700 lebih data observasi hilal yang dianggap valid. Teori yang dikenal sebagai Kriteria Odeh (2005) ini menyatakan bahwa hilal hanya mungkin bisa dirukyat jika jarak sudut Bulan dan Matahari minimal 6,4° (sebelumnya 7°) yang dikenal sebagai "Limit Danjon". Kurva Visibilitas Hilal sebagai hasil perhitungan teori tersebut mengindikasikan bahwa untuk seluruh wilayah Indonesia hilal mustahil dapat dirukyat karena berada pada posisi negatif. Sehingga menurut kriteria rukyat diberlakukan istikmal dan awal bulan jatuh pada: Kamis, 7 Februari 2109

Di Indonesia, ormas Nahdlatul Ulama (NU) yang menggunakan rukyatul hilal ternyata tidak hanya untuk penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah saja. NU juga melakukan kegiatan rukyatul hilal setiap bulannya sebagai dasar penentuan awal bulan berikutnya dengan menugaskan petugas rukyat di banyak titik kawasan Indonesia. Dalam kebijakannya NU masih mengakui kesaksian rukyat asalkan ketinggiannya di atas "batas imkanurrukyat" 2° bahkan hanya dengan mata telanjang. Sementara dalam penyusunan kalendernya juga menggunakan kriteria ketinggian hilal 2° tanpa syarat elongasi dan umur Hilal. Pada kondisi tersebut kemungkinan akan ada klaim rukyat sehingga awal bulan akan jatuh pada: Rabu, 6 Februari 2019

2. Menurut Kriteria Hisab Imkanur Rukyat

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut 'Imkanurrukyat' yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :

Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut: (1) Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan (2) Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau (3) Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam setelah konjungsi/ijtimak berlaku.

Kriteria yang dikenal kemudian sebagai Kriteria IR238 inilah yang menjadi pedoman Pemerintah RI cq. Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI untuk menyusun Taqwim Standard Indonesia yang digunakan dalam penentuan hari libur nasional keagamaan secara resmi. Dengan kriteria ini pula keputusan Sidang Isbat Penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah "bisa ditebak hasilnya" karena setiap laporan bahkan klaim rukyat akan diterima. Belakangan, khusus untuk penentuan awal bulan Ramadhan, Syawwal dan Zulijjah kriteria ini hanya dipakai oleh Indonesia dan Malaysia sementara Singapura menggunakan Hisab Wujudul Hilal sementara Brunei Darussalam tetap konsisten menggunakan kaidah Rukyatul Hilal berdasar Teori Visibilitas.

Berdasarkan Peta Ketinggian Hilal di atas, pada hari pelaksanaan rukyatul hilal, syarat Imkanurrukyat MABIMS sudah terpenuhi sehingga awal bulan dalam Taqwin Standard Indonesia menetapkan jatuh pada : Rabu, 6 Februari 2019

Ormas Persatuan Islam (Persis) menggunakan kriteria Imakurrukyat yang mengakomodir Kriteria Lapan (2011) menyatakan bahwa "Awal bulan Hijriyah dimulai ketika beda tinggi antara Bulan dan Matahari saat terbenam minimal 4° dan jarak elongasi minimal 6,4° cukup di salah satu wilayah Indonesia". Maka berdasarkan posisi tersebut kriteria tersebut walaupun ketinggian sudah terpenuhi namun jarak elongasi belum terpenuhi sehingga kalender Persis menyatakan bahwa awal bulan jatuh pada: Rabu, 6 Februari 2019

3. Menurut Kriteria Hisab Wujudul Hilal

Ormas Muhammadiyah dalam penyusunan kalender Hijriyah baik untuk keperluan sosial maupun ibadahnya (Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah) menggunakan kriteria yang dinamakan "Hisab Hakiki Wujudul Hilal". Kriteria ini menyatakan bahwa awal bulan Hijriyah dimulai apabila telah terpenuhi tiga kriteria berikut:
1) telah terjadi ijtimak (konjungsi),
2) ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan
3) pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud). Ketiga kriteria ini penggunaannya adalah secara kumulatif, dalam arti ketiganya harus terpenuhi sekaligus. Apabila salah satu tidak terpenuhi, maka bulan baru belum mulai. Atau dalam bahasa sederhanya dapat diterjemahkan sebagai berikut:
"Jika setelah terjadi ijtimak, Bulan terbenam setelah terbenamnya Matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian Bulan saat Matahari terbenam".

Berdasarkan posisi hilal saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi, sehingga Taqwim Muhammadiyah menetapkan awal bulan jatuh pada : Rabu, 6 Februari 2019

4. Menurut Kriteria Lain

Kecuali kriteria tersebut, di Indonesia berkembang beberapa kriteria yang digunakan oleh tarekat dan kelompok-kelompok kecil umat Islam untuk menentukan kapan jatuhnya awal bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. . Kebanyakan diantaranya merupakan "krieteria warisan" yang menjadi pegangan atau kebiasaan yang didapatkan secara turun-temurun dari guru atau leluhurnya dalam menentukan jatuhnya awal tersebut. Cara-cara tersebut kadang tidak lazim namun ternyata masih banyak yang menggunakannya hingga sekarang diantaranya :
  • Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman menggunakan Kalender Jawa Aboge/Asopon yang dibuat oleh Sultan Agung berdasarkan hisab urfi. Menurut kalender tersebut awal bulan kali ini jatuh pada Kamis, 7 Februari 2019
  • Tarekat Naqsabandiyah Padang menggunakan hitungan berdasarkan tabel yang disusun oleh gurunya dahulu.
  • Tarekat An-Nadzir di Gowa, Sulawesi menggunakan pengamatan terhadap pasang-surut air laut.
  • Beberapa kelompok mendasarkan penetapan awal bulan menurut kemauan pemimpinnya baik yang konon berdasarkan ‘wangsit’ maupu mimpi.
 
5. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global versi Bizonal

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

Pada hari terjadinya ijtimak zone Barat dan zone Timur belum masuk dalam kriteria Limit Danjon. Dengan demikian awal bulan di kedua zona akan jatuh pada :

Zona Timur : Kamis, 7 Februari 2019 
Zona Barat : Rabu, 6 Februari 2019 

 

6. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global versi Unifikasi

Karena penyatuan kalender versi bizonal dirasa bermasalah maka pada tahun 2016 diadakan Kongres Taqwin Hijriyah di Istambul Turki yang membahas mengenai kriteria kalender dan menyepakati digunakannya kriteria kalender Unifikasi yaitu satu hari satu tanggal.  Adapun kaidah kalender yang disahkan dalam muktamar internasional Turki ini adalah bahwa "Seluruh dunia inyatakan memulai bulan baru secara serentak, apabila terjadi imkanur rukyat di belahan Bumi maupun di muka Bumi sebelum jam 12:00 malam 00:00 GMT (07:00 WIB) dengan ketentuan :

 

  1. Sudut elongasi Bulan-Matahari pasca ghurub minimal 8°
  2. Tinggi Bulan di atas horizon saat gurub minimal 5° .

Selanjutnya terdapat pengecualian, yaitu apabila imkanur rukyat pertama di muka bumi terjadi setelah lewat jam 12:00 malam 00:00 GMT (07:00 WIB) maka awal bulan dimulai apabila terpenuhi dua syarat berikut :

  • Imkanur rukyat memenuhi 5-8 (ketinggian hilal 5° dan elongasi 8° ) dan telah terjadi konjungsi sebelum fajar di New Zealand yaitu kawasan paling  Timur di muka Bumi.
  • Imkanur rukyat harus terjadi di daratan Amerika, bukan di wilayah lautan.

Berdasarkan syarat dan ketentuan tersebut di atas serta dengan segala konsekuensinya maka Kalender Hijriyah Unifikasi awal bulan kali ini jatuh pada  Rabu, 6 Februari 2019 


7. Menurut Kriteria Rukyat Hilal Arab Saudi

Arab Saudi memiliki kalender resmi yang dinamakan kalender Ummul Qura. Kalender ini telah berkali-kali mengganti kriterianya dan diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk keperluan ibadah khususnya penetapan awal dan akhir Ramadhan serta awal Zulhijjah Saudi tetap menggunakan rukyatul hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sains astronomi khususnya Teori Visibilitas Hilal. Dan sudah bisa ditebak jika laporan rukyat masih sesuai Kalender Ummul Qura maka dianggap sah dan dapat diterima.

Kompetensi para perukyat diduga menjadi penyebab seringnya terjadinya "klaim" atau kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut sebagai Hilal. Pengakuan terlihatnya hilal oleh perukyat pada saat hilal masih berada di bawah ambang visibilitas atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali menerima kesaksian terhadap laporan rukyat yang "mustahil".

Diagram posisi Hilal di Mekkah pada hari pertama ijtimak (Grafis: Starrynight)

Awal Bulan Menurut Kalender Ummul Qura Saudi :

Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non-ibadah. Kriteria yang digunakan adalah "Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah" maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada hari setelah ijtimak di Saudi posisi hilal sudah di atas ufuk sehingga syarat sudah terpenuhi. Dengan demikian awal bulan menurut Kalender Ummul Qura jatuh pada : Rabu 6 Februari 2019


Awal Bulan Menurut Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :

Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana "Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap 'adil' dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan klarifikasi terhadap kebenaran laporan tersebut". 

 

8 . Kriteria Awal Bulan Negara-negara Lain

Brunei Darussalam : Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama Malaysia, Brunei dan Singapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan "Kriteria Imkanurrukyat MABIMS" yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°. Belakangan ternyata kriteria ini hanya digunakan oleh Indonesia dan Malaysia saja. Sementara Singapura menggunakan Wujudul hilal dan Brunei Darussalam menggunakan Rukyatul Hilal berdasar Teori Visibilitas. Khusus negara Brunei Darussalam saat pelaksanaan rukyat ketinggian hilal berada pada area tidak mungkin dirukyat sehingga awal bulan akan jatuh pada Kamis, 7 Februari 2019

Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide (MCW) ternyata penetapan awal bulan berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh mempertahankan rukyatul hilal ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab atau perhitungan. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Hijriyah yang resmi digunakan di beberapa negara :

  1. Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian serta dilakukan pengkajian ulang terhadap hasil rukyat secara ilmiah antara lain dilakukan oleh negara-negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko, Trinidad dan Brunei Darussalam.
  2. Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian tanpa perlu dilakukan pengkajian ulang terhadap hasil rukyat secara ilmiah antara lain dilakukan oleh negara-negara : Saud dan Indonesia.
  3. Mengikuti Saudi Arabia misalnya negara : Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina, Libanon dan Sudan.
  4. Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset). Kriteria ini digunakan oleh Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura namun khusus untuk Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah menggunakan pedoman rukyat.
  5. Hisab bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak digunakan oleh negara Mesir.
  6. Menunggu berita dari negeri tetangga --> diadopsi oleh Selandia Baru mengikuti Australia dan Suriname mengikuti negara Guyana.
  7. Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat --> Kepulauan Karibia
  8. Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari --> diadopsi oleh Algeria, Turki, Tunisia dan Malaysia.
  9. Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar diadopsi oleh negara Libya.
  10. Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam diMakkah --> diadopsi oleh komunitas muslim di Amerika Utara dan Eropa (ISNA)
  11. Nigeria dan beberapa negara lain tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke tahun
  12. Menggunakan Rukyat Mata Telanjang : Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan Lesotho.
  13. Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah, serta beberapa jamaah (tarekat) lainnya masih menggunakan hisab urfi yang sangat sederhana.

KESIMPULAN

Dengan demikian dapat diprediksi bahwa awal Jumadal Akhirah 1440 H kali ini akan jatuh pada hari yang sama Rabu, 6 Febuari 2019 dari berbagai ormas dan kelompok masyarakat di Indonesia kecuali NU yang kemungkinan jika tidak ada klaim rukyat maka awal bulan akan jatuh pada Kamis. 7 Februari 2019 termasuk beberapa kelompok masyarakat yang menggunakan kaidah rukyat murni. . Untuk negara-negara anggota MABIMS secara resmi awal Jumadal Ula 1440 H  akan jatuh pada hari yang sama  Rabu, 6 Februari 2019 kecuali negara Brunei Darussalam pada Kamis, 7 Februari 2019

 

 

Laporan Rukyat Hilal di Indonesia

Dari keseluruhan laporan kegiatan rukyatul hilal awal Jumadal Akhirah di Indonesia baik yang diselenggarakan oleh jaringan RHI, Kementerian Agama maupun menyatakan tidak adanya laporan keternampakan hilal kali ini. Berikut Rekap Rukyat Hilal Awal Bulan Jumadil Akhir 1440 H pada 05 Februari 2019 yang dilakukan oleh Tim BMKG

1. Manado - Sulawesi Utara (Tidak Terlihat karena Tertutup Awan)
2. Makassar - Sulawesi Selatan (Hilal tidak teramati, pengamatan dihentikan karena cuaca
hujan)
3. Donggala - Sulawesi Tengah (Hilal tidak terlihat, karena tertutup awan)
4. Ternate - Maluku Utara (Tidak teramati karena ufuk barat tertutup awan)
5. Kupang - Nusa Tenggara Timur (Tidak terlihat, dikarenakan kondisi ufuk barat berawan
Tebal)
6. Barru - Sulawesi Selatan (Hilal tidak teramati, tertutupi awan tebal)
7. Malang - Jawa Timur (Tidak Teramati karena tertutup awan)
8. Pantai Parangkusumo - Yogyakarta (Hilal Tidak Teramati karena tertutup awan)
9. Denpasar - Bali (Hilal Tidak Teramati karena awan tebal)
10. Tangerang - Banten (Hilal Tidak Teramati karena tertutup awan tebal)
11. Bengkulu (Hilal tidak terlihat karena tertutup awan)
12. Medan - Sumatera Utara (Hilal tidak terlihat karena terhalang awan)
13. Garut - Jawa Barat (Hilal tidak teramati karena ufuk barat berawan)
14. Bonebolango - Gorontalo (Hilal tidak terlihat tertutup awan)
15. Maluku Tengah - Maluku (Hilal tidak teramati karena ufuk barat berawan tebal)
16. Aceh Besar - Aceh (Hilal Tidak Teramati Kondisi Horizon Berawan)
17. Tuntungan - Sumatera Utara (Hilal Tidak Terlihat Karena Horison Berawan)

Sementara laporan jaringan rukyat ormas Nahdlatul Ulama juga menyatakan bahwa tidak ada laporan keternampakan hilal kali ini sehingga ikhbar PBNU menyatakan bahwa awal Jumadal Akhirah jatuh pada Kamis, 7 Februari 2019 berdasarkan istikmal. Berikit kutipan Ihkbar PBNU: " Assalamualaikum wr wb. IKHBAR. Awal bulan JUMADAL AKHIRAH 1440 H bertepatan dengan Kamis Pon (mulai malam Kamis), 7 Februari 2019, atas dasar ISTIKMAL karena tidak ada perukyat yang dapat melihat hilal pada Selasa petang kemarin. Terimakasih atas isytirok (partisipasi) dan isham (kontribusi) Nahdliyyin. PBNU Lembaga Falakiyah ttd. Ketua, (KH. A. Ghazalie Masroeri) "

 

 

Baca juga: 30 Tahun Keputusan Sidang Isbat Kementerian Agama RI

Peta Sebaran Lokasi Rukyat di Indonesia

 

Laporan Rukyat Hilal Internasional

 

 

 

00:00:00

HISAB-RUKYAT
Ilmu Falak
────────────
Awal Bulan
────────────
Arah Kiblat
────────────
Waktu Shalat
────────────
Gerhana
────────────
 
KATEGORI
Buku Falak
────────────
Tokoh Falak
────────────
Karya Falak
────────────
Berita Falak
────────────
Peralatan
────────────
Software
────────────
Artikel
────────────
 
 
 
 
 

FOLLOW ME

Bergabung dengan Droup Facebook RHI Follow Tweeter RHIGroup Diskusi RHI via Yahoo