1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Mengenal Lebih Jauh tentang Kriteria RHI

Abstrak: Telah dilaksanakan observasi hilal dan hilal tua selama periode Zulhijjah 1427–Zulhijjah 1430 H (Januari 2007–Desember 2009) oleh jejaring titik observasi Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) yang merentang dari lintang 5° LU hingga 31° LS, dengan ataupun tanpa bantuan alat bantu optik. Observasi menghasilkan 174 data visibilitas yang terdiri dari 107 visibilitas positif dan 67 visibilitas negatif. Analisis korelasi linier Lag dengan Best Time Bulan menghasilkan definisi baru tentang hilal, yaitu Bulan pasca konjungsi yang memiliki Lag ≤ 24 menit hingga Lag ≤ 40 menit saat Matahari terbenam.

Hubungan Best Time dan Lag memenuhi persamaan linear Yallop hanya untuk Lag ≤ 40 menit. Analisis korelasi aD dan DAz dengan metode least–square menghasilkan persamaan kriteria RHI aD ≥ 0,099 DAz2–1,490 DAz + 10,382 yang bentuknya hampir sama dengan kriteria LAPAN, namun sangat berbeda dibanding kriteria Fotheringham–Maunder maupun Bruin. Analisa komparatif menyimpulkan asumsi yang dipergunakan “kriteria” Imkanur Rukyat versi MABIMS dan konsep wujudul hilal tidak terbukti. Sebaliknya, terdapat kesesuaian antara hasil observasi dengan kriteria Odeh.

1.    Pendahuluan

Bulan sabit termuda atau hilal merupakan fenomena fisis ekstraterestrial dan atmosferik yang sangat penting kedudukannya bagi manusia khususnya sebagai penentu sistem penanggalan berbasis Bulan (lunar–calendar). Catatan sejarah menunjukkan penanggalan Bulan telah dimulai sejak masa Babilonia Baru . Berturut–turut kemudian peradaban Cina, Hindu (India), Yahudi dan Islam serta beberapa sekte Kristen pun menggunakannya. Kini secara akumulatif lebih dari 30 % penduduk dunia (lebih dari 2 milyar manusia) menggunakan kalender Bulan baik berupa kalender Bulan murni  maupun interkalasi . Kalender Bulan berbasiskan pada sifat fisis Bulan (yakni fase Bulan) sebagai penentu perjalanan hari dan lunasi (Bulan) dimana pergantian lunasi didasarkan pada fenomena Bulan baru (newmoon), yakni saat Bulan dan Matahari mengalami konjungsi (ijtima’) .
Sistem kalender Islam dikenal juga sebagai kalender Hijriyyah dan merupakan kalender Bulan murni yang berdasarkan pada eksistensi hilal. Dalam sejarah, hilal telah menjadi obyek pengamatan sejak zaman Babilonia Baru antara tahun 626 SM hingga 75 M untuk keperluan penanggalan mereka. Pada era inilah kriteria visibilitas, yakni persamaan matematika yang menjadi batas terendah hilal bisa terlihat berdasarkan tabulasi data–data visibilitas (keterlihatan) hilal mulai muncul yang saat itu lebih dikenal sebagai kriteria visibilitas Babilon (atau disingkat kriteria Babilon). Di tempat lain bangsa India kuno juga menghasilkan rumusan yang mirip dengan kriteria Babilon, meski mereka menemukannya secara independen.
Dasar–dasar kriteria India inilah yang kemudian dikenal para ilmuwan Muslim saat penyelidikan mengenai sifat fisis Bulan mulai berkembang. Para astronom Muslim kemudian membakukan tradisi mengobservasi hilal dan berinovasi dalam kriteria visibilitas khususnya kriteria empiris yang secara garis besar terbagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama menekankan visibilitas hilal sebagai fungsi aL atau aD  yang dipelopori al–Khwarizmi (… –830 M), dimana hilal disebutnya sebagai Bulan dengan aL > 9,5. Ibn Maimun (731–861 M) mengikuti langkah al–Khwarizmi sembari memasukkan faktor musim semi dan musim gugur, sehingga hilal adalah Bulan dengan 9  aL  24 dan aD + aL  22. Ibn Qurra (826–901) memperbaiki kriteria ibn Maimun dengan 11  aL  25. Sementara kelompok kedua tetap berpegang pada kriteria India seperti oleh as–Sufi (… –986 M), ibn Sina, ath–Thusi (1258–1274 M) dan al–Kashani (abad ke–15 M). Sementara al–Battani (850–929 M) dan al–Farghani sedikit berimprovisasi dengan dengan menyatakan hilal adalah Bulan dengan aS < 12 namun hal ini hanya berlaku untuk nilai aL yang besar.

 
Gambar 1.1
Geometri dasar elemen–elemen posisi Bulan dan Matahari.
a.    aD, beda tinggi pusat cakram Bulan dan pusat cakram Matahari (derajat)
b.    h, tinggi hilal dihitung dari pusat cakram Bulan sampai horizon astronomis (derajat),
c.    aL, atau elongasi jarak sudut antara pusat cakram Bulan sampai pusat cakram Matahari (derajat),
d.    DAz, yakni beda azmimuth antara pusat cakram Bulan dan pusat cakram Matahari (derajat),
e.    Age, yakni interval waktu antara saat terjadinya konjungsi dan Best Time (dalam satuan jam),
f.    Lag, yakni interval waktu antara terbenamnya Matahari sampai terbenamnya Bulan untuk hilal atau terbitnya Bulan dan terbitnya Matahari untuk hilal tua (menit),
g.    Mag, yakni tingkat terang Bulan,
h.    W, yakni lebar maksimum area yang bercahaya yang diukur di sepanjang diameter Bulan (menit busur), dan
i.    R, yakni radius cakram Bulan bila dilihat dari Bumi (menit busur).
j.    aR, refraksi atmosfer (~34’)

Tetapi ada perkecualian. Al–Biruni misalnya, juga mengembangkan konsep visibilitas hilal sebagai fungsi dari aD dan DAz . Al–Biruni pun mengembangkan sistem hisab urfi, sebuah sistem perhitungan sederhana yang menetapkan umur lunasi secara pasti dalam setahun Hijriyyah yang mencakup sistem istilahi, dimana pada setiap 30 tahun Hijriyyah terdapat 11 tahun kabisat (berumur 355 hari) sementara sisanya adalah tahun basithah (berumur 354 hari). Sistem hisab urfi merupakan alat bantu penyusunan kalender Hijriyyah sepanjang tahun dan jangka panjang, meski penentuan awal bulan tetap mendasarkan pada kriteria visibilitas. Pada masa ini pula hisab  dan rukyat  merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Pencapaian mengagumkan tersebut dipungkasi stagnasi selama 3,5 abad yang dimulai sejak awal abad ke–15 M. Stagnasi berakhir di pertengahan abad ke–19 M dengan rukyatul hilal oleh Schmidt selama periode 1859–1877 di Athena (Yunani) dan menghasilkan 72 data yang kemudian dianalisis Fotheringham (1910) untuk menyusun kriteria visibilitas berbasis variabel DAz dan aD. Maunder (1911) memperbaikinya dengan menambahkan sejumlah data rukyat serta melakukan koreksi data Schmidt sehingga terbentuk kriteria Fotheringham–Maunder dengan fungsi altitude: aD  –0,01DAz2–0,05DAz + 11. Ini adalah tonggak kriteria visibilitas empiris modern meskipun hingga dekade 1970–an kriteria ini tidaklah benar–benar direalisasikan bagi penyusunan kalender. Menggunakan hubungan matematis: cos aL = cos DAz cos aD, maka dari kriteria Fotheringham–Maunder ini diperoleh aL minimum 11, sama dengan nilai aL minimum yang dulu dirumuskan ibn Qurra. Nilai ini juga konsisten ketika belakangan Andre Danjon melaksanakan rukyatul hilal pada periode 1932–1936 yang menghasilkan 72 data guna memahami pengaruh aL terhadap panjang sabit. Danjon menemukan pada aL < 7 panjang sabit Bulan adalah nol (hilal tidak terbentuk) dan aL = 7 ini merupakan batas Danjon (Danjon Limit).
Kriteria empiris dan kriteria fisis yang awalnya saling terpisah itu kemudian digabungkan menjadi satu oleh F. Bruin (1977) di Beirut (Lebanon). Ia memperkenalkan kriteria visibilitas fisis modern yang berdasarkan variabel W  dan aD sebagai: aD  –0,5623W3 + 3,9512W2–9,4878W + 12,4203. Kriteria Bruin ini, meskipun dikategorikan tidak sempurna dan mengandung kesalahan, menjadi dasar kriteria–kriteria yang dikembangkan berikutnya. Moh. Ilyas (1981) dari Malaysia memperbaiki kriteria Bruin sehingga bisa diaplikasikan untuk daerah lintang tinggi, yang selanjutnya dinamakan kriteria komposit Ilyas. Ilyas pula memperkenalkan Garis Tanggal Kalender Lunar Internasional (International Lunar Date Line / ILDL), yang bentuknya sangat berbeda dibanding garis penanggalan internasional (garis bujur 180o) dalam kalender Masehi karena letak ILDL selalu berubah–ubah dari satu konjungsi ke konjungsi berikutnya tanpa menetap pada satu garis lintang ataupun satu garis bujur tertentu.
B.D. Yallop (1997) dari Inggris memperbaiki kriteria Bruin setelah menganalisis 295 data rukyatul hilal dari Bradley Schaefer (1994) dan menghasilkan kriteria Yallop. Kriteria ini selangkah lebih maju karena berdasarkan kondisi toposentrik khususnya untuk W (disimbolkan dengan W’), sementara kriteria–kriteria sebelumnya disusun berdasarkan kondisi geosentrik. Kriteria Yallop memiliki bentuk: 10q = aD–(–0,1018W’3 + 0,7319W’2–6,3226W’ + 11,8371) dengan q parameter Yallop guna mengklasifikasikan visibilitas hilal saat best time (Tb). Perbaikan terakhir oleh Moh. Shaukat Odeh (2004) dari Yordania dengan menganalisis 737 data rukyatul hilal dari ICOP (Islamic Crescent Observation Project). Analisis ini menghasilkan kriteria Odeh yang disusun dalam kondisi toposentrik (untuk variabel aD dan W) serta airless dengan bentuk V = aD–(–0,1018W3 + 0,7319W2–6,3226W + 7,1651) dengan V adalah parameter Odeh guna mengklasifikasikan visibilitas hilal saat best time.

2.    Kriteria Awal Bulan Hijriyah di Indonesia.

Di Indonesia terdapat banyak kriteria penentuan awal bulan Hijriyah. Metode hisab diadopsi Muhammadiyah dan Persatuan Islam serta penyusunan taqwin standard Indonesia sementara metode rukyat dipedomani Nahdlatul Ulama (NU). Hisab yang digunakan Muhammadiyah adalah hisab haqiqi  dengan “kriteria” wujudul hilal , dimana bila diperhitungkan terjadi situasi Lag  0 menit di lokasi yang dijadilakn acuan (dalam hal ini kota Yogyakarta) maka hilal dinyatakan sudah wujud. Muhammadiyah tidak menganut konsep wilayatul hukmi sehingga bila Indonesia dibelah garis Lag = 0 menit (ILDL wujudul hilal), maka daerah di sisi timur garis akan memasuki awal bulan baru sehari lebih lambat ketimbang daerah di sisi barat garis. Persatuan Islam (Persis) juga menggunakan hisab namun berbeda dengan hisab yang digunakan Muhammadiyah. Persis menggunakan hisab imkanurrukyat yang dikembangkan oleh LAPAN yang dikenal sebagai Kriteria LAPAN.  Sementara NU (khususnya sebelum 1998) awalnya menggunakan rukyat murni tanpa limitasi, meskipun beberapa kitab ilmu falak rujukan jelas memuat batasan minimal hilal . Pasca 1998 barulah Nahdlatul Ulama menggunakan limitasi untuk menyaring laporan rukyat, khususnya dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha, guna membedakan “hilal nyata” dengan “hilal palsu” (obyek latar belakang ataupun latar depan dengan intensitas cahaya kuat dan menyerupai hilal sehingga berpotensi mengecoh pengamat). Maka NU tidak lagi menggunakan rukyat murni namun dikombinasikan dengan hisab dimana observasi hilal dilaksanakan dengan mengamati zona tertentu di langit barat yang telah diprediksikan hisab. Sehingga tidak semua laporan hilal diterima begitu saja sebelum diproses lembaga khusus  dan lolos dari limitasi yang disepakati . Namun keputusan awal bulan baru sepenuhnya berdasar pada teramati/tidaknya hilal yang diterapkan secara wilayatul hukmi. Mayoritas kalangan di NU menerima “kriteria” Imkanur Rukyat yang digagas Kementerian Agama RI sebagai limitasi dan basis penyusunan kalender versi NU meski beberapa tahun terakhir mengemuka wacana rukyat dilakukan setiap awal bulan baru. Namun NU tidak monolit sehingga selalu terdapat deviasi dari tahun ke tahun . Secara kuantitatif anggota Muhammadiyah dan  NU menempati porsi terbesar Umat Islam di Indonesia sehingga perbedaan penentuan awal bulan baru diantara kedua ormas ini berimplikasi signifikan.
Guna menjembatani kubu hisab dengan kubu rukyat, Kementerian Agama RI pada 1998 telah menggagas “kriteria” Imkanur Rukyat versi MABIMS sebagai hasil kesepakatan Menteri–Menteri Agama di Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura. “Kriteria” ini memiliki formula sederhana : tinggi Bulan (h)  2o dan elongasi (aL)  3o atau umur Bulan saat Matahari terbenam  8 jam pasca konjungsi geosentris. “Kriteria” ini berlaku secara wilayatul hukmi dan menjadi basis penyusunan kalender Kementerian Agama RI dan taqwim standar serta sebagai filter laporan rukyatul hilal. “Kriteria” ini didasarkan pada elemen posisi Bulan sebagaimana dinyatakan laporan rukyatul hilal 29 Juni 1984 bertepatan dengan penentuan 1 Syawwal 1404 H dimana pada saat itu hilal dilaporkan teramati di Jakarta, Pelabuhan Ratu (Jabar) dan Parepare (Sulsel). Tinggi Bulan tersebut diaplikasikan secara homogen pada seluruh nilai DAz.
Berdasarkan simulasi program planetarium menunjukkan bahwa pada 29 Juni 1984 di langit Barat terdapat obyek lain yaitu planet Venus yang berdekatan dengan Bulan dan sangat berpotensi terlihat sebagai “hilal palsu” karena kecerahannya (brightness) bisa ratusan kali lebih besar dibanding Bulan saat itu sehingga memiliki kontras lebih besar dibanding hilal . Di sisi lain, posisi Bulan pada 29 Juni 1984 saat Matahari terbenam masih jauh di bawah ambang batas definisi secara empiris baik berbasis alat bantu optik maupun tidak sehingga Imkanur Rukyat versi MABIMS pun tergolong masih asumsi. Maka, meski disusun untuk mempersatukan Umat Islam Indonesia, Imkanur Rukyat versi MABIMS menemui kendala dalam validitas dan reliabilitasnya. Perkembangan terakhir menunjukkan “kriteria” ini kurang dipatuhi di tingkat Asia Tenggara  dan demikian pula di dalam negeri, termasuk oleh Muhammadiyah .
Upaya perbaikan telah dilakukan misalnya oleh Thomas Djamaluddin yang mengusulkan kriteria LAPAN dengan bentuk aD  0,14DAz2–1,83DAz + 9,11 secara toposentrik dan airless . Kriteria LAPAN disusun berdasrkan laporan rukyatul hilal Kementerian Agama RI periode 1967–1997 yang setelah direduksi tinggal tersisa 11 data yang dianggap valid . Kecilnya data dan adanya harapan untuk menyatukan kalender Hijriyyah di Indonesia mendorong Lembaga Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) melalui anggotanya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia untuk melaksanakan observasi hilal termasuk hilal tua secara terus menerus di setiap bulan sejak Zulhijjah 1427 H / Januari 2007 M. Observasi menerus ini bertujuan untuk menciptakan basis data lokal yang berisi data visibilitas hilal dan hilal tua Indonesia, baik positif (hilal visibel) maupun negatif (hilal tak visibel). Basis data ini selanjutnya dibandingkan dengan teori visibilitas yang mapan untuk mengetahui variasi lokal yang mungkin terjadi terkait kekhasan letak Indonesia sehingga bisa dirumuskan definisi hilal yang khas Indonesia. Definisi hilal ini kemudian digunakan untuk menguji “kriteria” hisab yang digunakan di Indonesia mencakup kriteria wujudul hilal, Imkanur Rukyat versi MABIMS dan LAPAN serta melakukan uji validitas terhadap setiap laporan rukyat yang disampaikan oleh para saksi rukyat.

3.    Basis Data Visibilitas Hilal Indonesia dan Kriteria RHI

Hingga Desember 2009 (Zulhijjah 1430 H) kampanye observasi yang telah berlangsung selama 37 lunasi berturut–turut telah menghasilkan 107 data positif dan 67 data negatif selama 37 lunasi, sehingga totalnya terdapat 174 data. Beberapa hasil penting yang bisa diperoleh dari analisis 174 data ini salah satunya adalah definisi hilal berdasarkan best time (jam saat hilal mulai terlihat pasca Matahari terbenam) dan Lag Bulan. Diperoleh persamaan batas Tb = –0,42Lag + 16,941 + Tsunset yang implikasinya hilal adalah Bulan dengan Lag minimum 24 menit. Lag minimum ini sebanding dengan basis data ICOP (Lag = 21 menit). Sebagai konsekuensinya maka Bulan dengan kondisi Lag antara 0 menit hingga 24 menit tidak didefinisikan sebagai hilal, melainkan Bulan gelap.
Tersusun pula sebuah kriteria visibilitas dengan mengikuti model al–Biruni dan dilanjutkan oleh Fotheringham, Maunder dan Scoch, yakni berdasarkan variabel aD dan DAz. Dengan membandingkan nilai minimum aD pada beragam nilai DAz secara toposentrik dan airless diperoleh persamaan batas berupa : aD  0,099DAz2–1,490DAz + 10,382. Interpolasi menunjukkan nilai aD ideal berharga minimum 4,6o atau dibulatkan menjadi 5o yang terjadi pada DAz 7,5o. Ini cukup dekat dengan aD minimum yang diusulkan Ilyas (1988) yakni 4o. Secara faktual basis data RHI menunjukkan aD terendah saat ini adalah 5,8o. Dari sini terlihat Bulan dengan aD dibawah 5,8o belum terlihat sebagai hilal, sehingga salah satu pokok “kriteria” Imkanur Rukyat versi MABIMS gugur. Demikian pula sifat “kriteria” Imkanur Rukyat versi MABIMS yang menetapkan aD minimum 2o (+0,25o semi diameter Matahari) secara homogen tanpa mempedulikan nilai DAz–nya juga tidak didukung data, sehingga “kriteria” Imkanur Rukyat versi MABIMS menjadi tidak terbukti. Jika dibahasakan secara sederhana, hilal akan terlihat saat Bulan mempunyai tinggi minimum 5o (pada beda azimuth Bulan–Matahari 7,5o) hingga tinggi maksimum 10,4o (pada beda azimuth Bulan–Matahari 0o) ketika Matahari terbenam dihitung dari ufuk haqiqi saat dilihat dari dataran rendah (elevasi hingga 30 meter dari permukaan laut).
Persamaan tersebut selanjutnya disebut sebagai Kriteria RHI dan menjadi persamaan batas untuk elemen posisi Bulan dan Matahari agar hilal terlihat. Meski bukan berarti bahwa jika posisi Bulan berada sedikit di atas kurva kriteria RHI maka hilal akan terlihat secara mutlak, sebab lokalitas kondisi cuaca, penggunaan alat bantu optik dan keterampilan pengamat tetap berpotensi membuat posisi Bulan yang sedikit berada di atas kurva kriteria RHI menjadi tidak terlihat.
Bentuk kriteria RHI memang sangat berbeda dengan kriteria sejenis seperti kriteria Fotheringham–Maunder, Scoch maupun Bruin meski sama–sama menggunakan variabel aD dan DAz. Kriteria selain kriteria RHI memiliki bentuk kurva terbuka ke bawah. Apa penyebab perbedaan bentuk tersebut, salah satunya adalah limitasi basis data RHI yang hanya terbatas untuk daerah tropis. Perbandingan dengan basis data ICOP dan Yallop yang telah diseleksi hanya untuk daerah tropis memperlihatkan dengan jelas konsistensi Kriteria RHI. Artinya, Kriteria RHI juga bisa diberlakukan secara global (bukan hanya untuk Indonesia), namun terbatas hanya untuk daerah tropis.

4.    Justifikasi dan Contoh Aplikasi

Evaluasi dan justifikasi terhadap kriteria RHI berasal dari dua sumber terpisah lengkap dengan citra (foto)–nya. Yang pertama dari hasil rukyatul hilal penentuan 1 Syawwal 1430 H (2009) yang dilaksanakan tim Kementerian Agama RI di Semarang (Jawa Tengah), tepatnya di menara al–Husna Masjid Agung Jawa Tengah. Saat bagian langit dimana diekspektasikan hilal berada direkam dengan video dan kemudian dilakukan proses stacking diperoleh adanya citra lengkung miring yang khas hilal. Data Bulan pada saat itu menunjukkan aD 6,1o dan DAz 7,02o. Plotting menunjukkan posisi Bulan saat itu sudah berada di atas persamaan kriteria RHI.
Evaluasi kedua berdasarkan hasil rukyatul hilal yang dilaksanakan tim rukyat Universiti Malaya (UM) pada 12 Juli 2010 dan 6 Desember 2010. Lokasi rukyat berada di Teluk Kemang, Port Dickinson, Negeri Sembilan (koordinat 2o 27’ LS 101o 51’ BT elevasi 5 m DPL zona waktu GMT + 8). Rukyatul hilal 12 Juli 2010 berhasil memperoleh citra hilal dengan teknik foto visual tanpa pemrosesan. Data Bulan pada saat itu menunjukkan aD 7,65o dan DAz 3,71o. Rukyatul hilal ini tercatat dalam basis data ICOP sebagai rekor dunia untuk hilal dengan umur Bulan terkecil yang pernah tercitrakan, yakni 16 jam 11 menit pasca konjungsi (geosentrik). Sementara rukyatul hilal 6 Desember 2010 pun berhasil memperoleh citra hilal dengan teknik yang sama dan data Bulan pada saat itu menunjukkan aD 8,14o dan DAz 1,91o. Rukyatul hilal ini pun tercatat dalam basis data ICOP sebagai rekor dunia untuk hilal dengan elongasi terkecil yang pernah tercitrakan, yakni 8o (toposentrik). Plotting posisi Bulan pada saat terlihat dalam kedua rukyatul hilal menunjukkan Bulan ada di atas persamaan kriteria RHI.

Contoh aplikasi :
Pertanyaan :
Bagaimana peluang terlihatnya hilal awal bulan Syawal 1435 H pada tanggal 27 Juli 2014 dari Pos Observasi Hilal Condridopo Gresik?
Jawab:
Berdasarkan perhitungan menggunakan program Starrynight untuk lokasi tersebut, ijtima’ terjadi pada 27 Juli 2014 pukul 05:43 WIB. Sementara data posisi Bulan pada 27 Juli 2014 saat sunset menunjukkan nilai aD 3,8o dengan DAz 5,4o. Jika dimasukkan ke kurva aD vs DAz untuk kriteria RHI, maka diperoleh posisi Bulan berada di bawah kurva kriteria RHI sehingga hilal tidak mungkin terlihat sekalipun menggunakan alat optik (teleskop atau binokuler). Namun demikian sidang isbat yang digelar di Jakarta pada hari itu menerima kesaksian rukyat bahkan dari 3 lokasi.

5.    Kesimpulan

Kriteria Visibilitas Hilal RHI mendefinisikan Hilal sebagai Bulan pasca konjungsi yang memiliki Lag ≥ 24 menit hingga Lag ≤ 40 menit pada saat terbenamnya Matahari. Bulan pasca konjungsi dengan Lag < 24 menit disarankan untuk disebut sebagai Bulan Gelap, bukan hilal. Dari analisis terhadap basis data RHI telah berhasil disusun sebuah kriteria visibilitas baru yang khas untuk Indonesia, yakni Kriteria RHI dengan variabel beda altitude dan beda azimuth dalam bentuk persamaan : aD ≥ 0,099DAz2 – 1,490 DAz + 10,382.
Kriteria RHI menunjukkan bahwa nilai beda altitude Bulan–Matahari dipengaruhi oleh nilai beda azimuthnya. Beda altitude minimum sebesar 5° pada beda azimuth 7,5° hingga beda altitude maksimum 10,4° pada beda azimuth 0°. Terdapat kesesuaian antara Kriteria RHI dengan definisi hilal, ditunjukkan oleh konversi ke Lag Bulan yang menghasilkan Lag minimum ideal ≈ 19 menit. Beda altitude minimum secara faktual adalah 5,8° yang berkorelasi dengan Lag minimum faktual ≈ 23 menit.
Dengan definisi hilal dan Kriteria RHI, ”kriteria” Imkanurrukyat versi MABIMS tidak bisa dibuktikan. Basis data RHI juga menunjukkan bahwa ada nilai elongasi minimum sebesar 7,23° yang dicapai dengan alat bantu optik. Nilai tersebut mendekati nilai batas Danjon versi awal dan usulan Schaefer berdasarkan hasil observasi, angka ini masih sedikit di atas nilai batas Danjon terbaru yang diusulkan Odeh yakni 6,4°.
Kriteria RHI adalah sebuah kriteria yang sifatnya dinamis sehingga kriteria ini akan selalu berkembang menyesuaikan munculnya data-data baru laporan kenampakan hilal khususnya laporan yang dianggap valid dan merupakan rekor baru. Selain itu kriteria RHI juga melegitimasi penggunaan alat bantu optik dan teknik pencitraan dalam laporan rukyatul hilal namun masih menolak laporan rukyat yang dilakukan qoblal ghurub.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Batas Kriteria RHI ditunjukkan dengan warna merah

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KRITERIA VISIBILITAS HILAL RHI (KRITERIA RHI)

Mutoha Arkanuddin 1, Muh. Ma’rufin Sudibyo 1, AR Sugeng Riyadi 1
1 Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF–RHI)
Jl. Gejayan Soropadan CC XII/04 Depok Sleman Yogyakarta 55283, Telp. / Fax : (0274) 552630



Bahan acuan :

Sudibyo, Arkanuddin & Riyadi. 2009. Observasi Hilal 1427–1430 H (2007–2009 M) dan Implikasinya untuk Kriteria Visibilitas Hilal di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional “Mencari Solusi Kriteria Visibilitas Hilal dan Penyatuan Kalender Islam dalam Perspektif Islam dan Sains”, Observatorium Bosscha, 19 Desember 2009.
Sudibyo. 2010. Evaluation of the Danjon’s and Sulthan’s Crescent Lenghth Models with the 1427–1430 AH (2007–2009 CE) Young/Old Crescent Observations from Indonesia. Prosiding 2010 Conference of The Earth and Space Sciences (CESS), Bandung, 10 Januari 2010.
Sudibyo. 2011. Variasi Lokal dalam Visibilitas Hilal: Observasi Hilal di Indonesia pada 2007–2009. Prosiding Pertemuan Ilmiah XXV Himpunan Fisika Indonesia, Purwokerto, 9 April 2011.



00:00:00

HISAB-RUKYAT
Ilmu Falak
────────────
Awal Bulan
────────────
Arah Kiblat
────────────
Waktu Shalat
────────────
Gerhana
────────────
 
KATEGORI
Buku Falak
────────────
Tokoh Falak
────────────
Karya Falak
────────────
Berita Falak
────────────
Peralatan
────────────
Software
────────────
Artikel
────────────
 
 
 
 
 

FOLLOW ME

Bergabung dengan Droup Facebook RHI Follow Tweeter RHIGroup Diskusi RHI via Yahoo

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

We have 34 guests and no members online