pas cher
  1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Mengenal Waktu Shalat

Awal Waktu Shalat

Shalat disyaria’tkan di dalam Islam pada bulan Rajab tahun ke-11 kenabian saat peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah ke Sidratul Muntaha. Shalat diwajibkan bagi umat Islam sehari semalam sebanyak lima waktu, yaitu Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Dan Allah telah menentukan waktu-waktu baginya. Firman Allah di dalam Al-Qur’an :

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا  ( النساء 103 )

Artinya : Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An-Nisa’ 103)

 

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ ( الروم 17- 18)

Artinya : Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zuhur.(Ar-Ruum 17-18)

 أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا      ( الإسراء 78)

 “Dirikanlah solat ketika gelincir Matahari hingga waktu gelap malam dan dirikanlah solat subuh sesungguhnya solat subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya)”. ( Q.S. Al-Isra’ : 78 )

Mengetahui waktunya shalat adalah termasuk syarat syahnya shalat. Shalat adalah salah satu ibadah yang ada batasan waktunya, batas awal dan akhirnya. Waktu shalat habis ketika datang waktu shalat  berikutnya, kecuali waktu shalat shubuh yang berakhir ketika munculnya matahari  di ufuk timur.

Dengan berkembangnya peradaban manusia, berbagai kemudahan-kemudahan diciptakan untuk membuat manusia lebih praktis dalam segala hal termasuk dalam beribadah khususnya shalat fardhu. Saat ini kita mengetahui banyak sekali diterbitkan jadwal waktu shalat dari berbagai instansi maupun organisasi, antara lain; Jadwal Shalat versi Departemen Agama, Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Nahdatul Ulama (NU) dsb. Namun kesemuanya tidak dapat dilepaskan dari kaidah yang sebenarnya digunakan untuk menentukan waktu shalat yaitu Pergerakan  Matahari dilihat dari Bumi.

Sebelum manusia menemukan hisab/perhitungan falak/astronomi, zaman Rasulullah waktu shalat ditentukan berdasarkan observasi terhadap gejala alam dengan melihat langsung posisi Matahari. Lalu berkembang dengan dibuatnya Jam Matahari   atau “Bencet” serta Jam Istiwa atau sering  disebut tongkat istiwa dengan kaidah bayangan matahari. 

Dari sudut pandang Falaky penentuan waktu shalat fardhu seperti dinyatakan di dalam kitab-kitab fiqih adalah sebagi berikut :

Waktu Subuh   Diawali saat munculnya Fajar Shoddiq sampai Matahari terbit (syuruk). Fajar Shoddiq ialah terlihatnya cahaya putih yang melintang  mengikut garis ufuk di sebelah Timur. Cahaya ini terjadi akibat pantulan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Pada waktu tertentu menjelang menjelang fajar kadang terlihat cahaya samar yang menjulang tinggi vertikal di ufuk Timur yang terjadi akibat pantulan cahaya Matahari oleh debu partikel antar planet yang terletak antara Bumi dan Matahari. Inilah yang disebut Fajar Kadzib atau Fajar Palsu atau Morning Zodiacal Light yaitu Cahaya Zodiac Pagi. Setelah cahaya ini muncul beberapa menit kemudian cahaya ini hilang seiring dengan pudarnya cahay bintang dan sesaat berikutnya barulah muncul cahaya menyebar di cakrawala secara horizontal, dan inilah dinamakan Fajar Shoddiq. Secara astronomis Subuh dimulai saat kedudukan Matahari  (s°) sebesar 18° di bawah ufuk Timur atau disebut dengan "astronomical twilight"  sampai  piringan atas Matahari menyentuh ufuk yang terlihat (ufuk Hakiki / visible horizon). Sementara pendapat lain mengatakan sudut ini hanya berkisar antara 15° hingga 17°. Bahkan Kriteria Kementerian Agama menggunakan sudut  Subuh (s°) = 20° dengan alasan kepekaan mata manusia lebih tinggi saat pagi hari karena perubahan terjadi dari gelap ke terang, ditambah 2 menit untuk kehatian-hatian (ihtiyati) . Untuk kehati-hatian juga, akhir waktu Subuh adalah 2 menit sebelum terbitnya Matahari atau Syuruq yaitu 2 menit sebelum piringan Matahari menyentuh ufuk.

Waktu Zuhur  Disebut juga waktu zawal yaitu saat Matahari telah tergelincir/condong ke Barat dari titik kulminasinya (Istiwa). Istiwa juga dikenal dengan sebutan tengah hari (midday/noon/transit). Waktu Zuhur beberapa saat setelah Istiwa. Secara astronomis, waktu Zuhur dimulai ketika tepi piringan Matahari telah keluar dari garis Meridian, yakni garis yang menghubungkan antara Selatan-Zenit-Utara dilihat oleh pengamat. Karena diameter Matahari hanya sekitar 0,5° maka secara teori antara Istiwa dengan masuknya waktu shalat Zuhur ( z° ) membutuhkan waktu 1 menit. Kriteria Kementerian Agama menggunakan sudut z° = 0,5°  atau 2 menit setelah Istiwa demi kehati-hatian (ihtiyati). Akhir waktu Zuhur adalah sebelum datangnya waktu Ashar.

Waktu Ashar  Menurut Mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hambali, waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Sementara Madzab Imam Hanafi mendefinisikan waktu Ashar jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Secara astronomis ketinggian Matahari ( a° ) saat awal waktu Ashar dapat bervariasi tergantung posisi gerak tahunan/musiman Matahari. Kriteria Kementerian Agama menggunakan panjang bayangan = panjang benda + panjang bayangan saat istiwa ditambah ihtiyati 2 menit. Akhir waktu Ashar adalah sebelum Matahari terbenam saat ia berwarna kekuningan.

Waktu Maghrib   Diawali saat Matahari terbenam di ufuk Barat. Secara astronomis waktu Maghrib dimulai saat seluruh piringan  Matahari masuk ke ufuk yang terlihat. Secara astronomis waktu Maghrib adalah kebalikan dari waktu Subuh. Kriteria Kementerian Agama menambahkan ihtiyati 2 menit setelah Matahari terbenam. Akhir waktu Maghrib adalah sebelum hilangnya mega merah di langit Barat atau syafaq al ahmar yaitu sebelum tiba waktu Isya’.  Syafaq al ahmar kadang sering dikelirukan dengan syafaq al abyad atau mega putih yang menjulang di langit Barat yang kadang muncul setelah hilangnya mega merah. Dalam astronomi fenomena ini yang disebut sebagai Evening Zodiacal Light atau Cahaya Zodiac Senja.

Waktu Isya’  Diawali dengan hilangnya cahaya merah atau syafaq al ahmar di langit Barat. Secara astronomis hilangnya mega merah adalah saat kedudukan Matahari ( i° ) sebesar 18°  di bawah ufuk. Sudut 18° ini dalam astronomi dinamakan sebagai Evening Astronomical Twilight atau Senja Astronomi. Menurut pandangan Imam Hanafi awal Isya’ adalah hilangnya mega putih atau syafaq al abyad yaitu saat sudut ( i° ) sebesar 19°. Sementara pendapat lain mengatakan antara 15° hingga 17,5°. Waktu Isya berakhir sebelum datangnya waktu Imsak. Kriteria Kementerian Agama menggunakan sudut  i°  sebesar 18°  sebagai awal waktu Isya’ ditambah ihtiyati 2 menit untuk kehati-hatian.

Tambahan:

Waktu Imsak  Adalah jeda waktu sebelum masuknya waktu Shubuh. Imsak adalah ijtihad untuk kehati-hatian dalam memulai puasa. Diawali 10 menit sampai 15 menit sebelum Waktu Subuh dan berakhir saat Waktu Subuh tiba. Ijtiihad 10 hingga 15 menit  menit adalah perkiraan waktu saat Rasulullah membaca Al Qur'an sebanyak 50 ayat waktu itu. Jeda waktu tersebut tidaklah bententangan dengan sunnahnya mengakhirkan sahur sebagaimana banyak diriwayatkan dalam hadits dan tersirat dalam Al-Qur’an

 عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَاتَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍمَاعَجَّلُوا الِإفْطَارَ وَأَخَّرُوا السَّحُوْرَ(مسند أحمد)

 Dari Abu Dzar beiau berkata : Bersabda Rosululooh SAW. “Ummatku akan selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur”  (Musnad Imam Achmad)

  وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ (البقرة 187)

 "Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. " (QS. Al-Baqarah: 187)

Tanda-tanda waktu Shubuh adalah yang paling sulit diamati diantara tanda-tanda waktu sholat lainnya, karena itu untuk menghindari batalnya puasa karena keterbatasan kita dalam mengobservasi fonemena alam yang berkaitan dengan masuknya waktu Shubuh maka seyogyanya diberi batasan Imsak untuk ihtiyat.

 عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتْ قَالَ : تَسَخَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ثُمَّ قُمْناَ إِلَى الصَّلاَةِ وَكَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا  خَمْسِيْنَ آيَةً

 Dari Zaid bin Tsabit, berkata : “Kami sahur bersama Rosululloh SAW. Kemudian kami mununaikan sholat Shubuh, dan waktu antara sahur dengan sholat sekitar 50 ayat (membaca Al-Qur’an 50 ayat)”.

Ihtiyati adalah kehati-hatian terhadap jadwal waktu shalat yang biasanya diberlakukan untuk suatu kawasan tertentu, maka dalam hal ini setiap awal waktu shalat menggunakan kaidah "ihtiyati" yaitu menambahkan atau mengurangkan beberapa menit dari waktu yang sebenarnya. Besarnya ihtiyati ini biasanya ditambahkan 2 menit di awal waktu shalat dan dikurangkan 2 menit sebelum akhir waktu shalat. Perlu diketahui juga bahwa setiap selisih jarak ke arah Timur atau Barat sejauh 27 km akan mengakibatkan selisih waktu 1 menit. Oleh sebab itulah ihtiyati ini hanya efektif untuk radius +/- 25 km dari markas perhitungan.

Akibat pergerakan semu Matahari 23,5° ke Utara dan 23,5° ke Selatan selama periode 1 tahun, waktu-waktu shalat tersebut bergeser dari hari-kehari dan akhirnya kembali ke awal lagi. Oleh sebab itulah jadwal waktu shalat disusun untuk kurun waktu selama 1 tahun dan dapat dipergunakan lagi pada tahun berikutnya. Selain itu posisi atau letak geografis serta ketinggian tempat juga mempengaruhi kondisi-kondisi tersebut di atas.               

Berdasarkan konsep waktu menggunakan posisi Matahari secara astronomis para ahli kini berusaha membuat rumus waktu shalat berdasarkan letak geografis dan ketinggian suatu tempat di permukaan Bumi dalam bentuk sebuah program komputer yang dapat menghasilkan sebuah tabulasi data secara akurat dalam sebuah "Jadwal Waktu Shalat". Kini software waktu shalat terus dibuat dan dikembangkan diantaranya: Accurate Times, Athan Software, Prayer Times, Mawaqit, Shalat Time dsb. Bahkan ponsel dan piranti digital sejenis kini telah dilengkapi jadwal shalat yang dapat menyuarakan azan pada waktunya. Software buatan BHR Kementerian Agama yang disebarluaskan secara nasional adalah Winhisab. Winhisab versi 2010 yang sedang dalam proses penyempurnaan akan segera menggantikan Winhisab Versi 2.1 (1996). Software yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan pendahulunya ini juga rencananya akan disebarluaskan kepada masyarakat setelah melalui proses penyempurnaan dalam Mukernas BHR di Denpasar lalu.

Waktu Shalat Sunah

Tidak semua shalat sunah mempunyai waktu tertentu melainkan beberapa shalat sunah sudah diatur waktunya. Waktu-waktunya adalah mengikuti waktu shalat yang dianjarkan Nabi Muhammad SAW.. Diantara shalat sunah yang dilakukan mengikuti waktu tertentu adalah:

  • Shalat Dhuha - dilakukan ketika waktu Matahari baru naik (mengikut pandangan beberapa ulama, pada ketinggian segalah atau tujuh hasta) atau sekitar 3,5° ketinggian Matahari.  Pendapat lain mengatakan 4,5° atau 7° atau 9°.  Kementerian Agama menggunakan sudut 5° untuk waktu Dhuha tanpa ihtiyati.
  • Shalat Ied - dilakukan pada waktu pagi hari raya yang pertama bagi kedua jenis hari raya tersebut, umumnya dilakukan pada waktu Dhuha  yaitu waktu Matahari baru naik (mengikut pandangan sebagian ulama, pada ketinggian segalah atau tujuh hasta)
  • Shalat Tarawih - dilakukan pada waktu Isya' (umumnya dilakukan setelah Shalat Isya' sebelum datangnya waktu imsak)
  • Shalat Sunat Gerhana - dilakukan pada waktu gerhana (Matahari atau Bulan) sedang terjadi. Disunahkan hanya bagi mereka yang berada di tempat yang dapat menyaksikan gerhana terjadi.
  • Shalat Sunat Rawatib - dilakukan sebelum dan selepas solat fardhu. Tidak semua solat mempunyai kedua-dua solat sunat.

Waktu Haram Shalat

Berikut adalah waktu yang diharamkan solat (sebagian ulama mengatakan berlaku bagi selain tanah haram):

  • Waktu sesudah shalat Subuh hingga terbit Matahari.
  • Waktu mulai terbit Matahari (syuruk) hingga Matahari berada di kedudukan segalah (tujuh hasta).
  • Waktu rambang atau Istiwa atau waktu tengah hari (Matahari tegak) hingga tergelincir Matahari (kecuali hari Jumat). Dalam astronomi waktu ini disebut sebagai Solar Noon atau Solar Transit atau Midday.
  • Waktu sesudah shalat Asar hingga Matahari kekuningan.
  • Waktu Matahari kekuningan hingga Matahari terbenam.

Wallahu a’lam bish-shawaab.

Medio Oktober 2010
Salam,
Mutoha Arkanuddin 

 

 

 

 

00:00:00

HISAB-RUKYAT
Ilmu Falak
────────────
Awal Bulan
────────────
Arah Kiblat
────────────
Waktu Shalat
────────────
Gerhana
────────────
 
KATEGORI
Buku Falak
────────────
Tokoh Falak
────────────
Karya Falak
────────────
Berita Falak
────────────
Peralatan
────────────
Software
────────────
Artikel
────────────
 
 
 
 
 

FOLLOW ME

Bergabung dengan Droup Facebook RHI Follow Tweeter RHIGroup Diskusi RHI via Yahoo