| Home | Sekilas | Vibilitas | Hisab-Rukyat | Kalender | Gerhana | JadwalShalat | Kiblat | Artikel | Links | Galeri | Software | Tamu |

 

 

HISAB - RUKYAT - VISIBILITAS HILAL

جمادى الآخر

Jumadil Akhir 1427 Hijriyah

■■■■  IJTIMAK (KONJUNGSI) AKHIR JUMADIL AWAL 1427 H  ■■■■ 

Minggu, 25 Juni  2006  - Pukul : 23:05 WIB  (16:05 UT)

 Senin, 26 Juni 2006 - Pukul 00:05 WITA / 01:05 WIT

 

Visibilitas (kenampakan) Hilal pada Senin, 26 Juni 2006 selepas matahari terbenam di beberapa berbagai belahan dunia seperti ditunjukkan pada gambar peta di bawah ini. Peta dibuat menggunakan Software Accurate Times  (Kriteria Odeh) dan Software  MoonCalc  (Kriteria Yallop/Shaukat), seperti dijelaskan berikut ini.

 

ACCURATE TIMES VERSI 5.2  © Mohammad Odeh

 

1. Adalah sangat tidak mungkin untuk daerah yang berada di bawah arsiran warna merah dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu hilal  terbenam lebih dulu sebelum matahari atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam.

2. Daerah yang berada pada area tak berarsiran juga sangat besar kemungkinan tidak dapat menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.

3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran warna biru.

4. Lokasi yang berada pada daerah di bawah arsiran warna ungu hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran warna hijau baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

6. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60°Lintang Selatan.

 

 

 

Peta Visibilitas Hilal berdasarkan Program Accurate Times © Mohammad Odeh - JAS.

Perhatikan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia memiliki peluang untuk dapat melihat hilal terutama daerah-daerah yang berada pada arsiran ungu yaitu Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

 

MOONCALC VERSI 6.0 © Dr. Monzur Ahmed

 

1. Daerah tak berarsiran adalah daerah yang tidak mungkin dapat menyaksikan hilal pada hari ijtimak/konjungsi selepas matahari terbenam.

2. Daerah berarsiran paling tipis paling kanan, hilal hanya dapat disaksikan dengan bantuan peralatan optik.

3. Daerah berarsiran lebih tebal di sebelah kirinya memerlukan peralatan optik untuk membantu mencari lokasi hilal.

4. Daerah berarsiran lebih tebal lagi, hilal dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang terlebih peralatan optik jika kondisi udara dan cuaca sangat cerah.

5. Daerah berarsiran paling tebal adalah daerah yang dapat menyaksikan hilal dengan mudah walaupun tanpa bantuan peralatan optik.

6. Arsiran warna kuning umur bulan 15-20 jam, warna ungu 20-25 jam, warna merah 25-30 jam, warna biru 30-35 jam dan warna hijau umur bulan 30-45 jam dihitung selepas ijtimak/konjungsi.

7. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60°Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.

 

@ Peta Visibilitas Hilal Dunia menurut Monzur Ahmed. Hilal baru mungkin hanya dapat teramati  ketika matahari telah terbenam 5°di bawah horison (l.k. 20 menit) setelah sunset.

PPerhatikan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia memiliki peluang untuk dapat melihat hilal terutama daerah-daerah yang berada pada arsiran cukup tebal yaitu Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

 

TABEL POSISI BULAN SAAT SUNSET UNTUK BERBAGAI KOTA DI INDONESIA

Tanggal Pengamatan : Senin, 26 Juni  2006 @ sunset

Ijtimak / Konjungsi Geosentrik terjadi pada :

Minggu, 25 Juni  2006  - Pukul : 23:05 WIB  (16:05 UT)

 Senin, 26 Juni 2006 - Pukul 00:05 WITA / 01:05 WIT

KETERANGAN :

1.  Letak Geografis : N=North (Lintang Utara) ; S=South (Lintang Selatan) ; E=East (Bujur Timur) ; W=West (Bujur Barat).

2. Tinggi diukur di atas permukaan laut.

3.  Sunset = matahari terbenam ; Sun-Az = azimuth matahari ; Moon-Az = azimuth bulan ; Moon-Alt = altitude/tinggi bulan.

4.  Moon-Elong = elongasi bulan thd matahari (+)=miring Utara ; (-)=miring Selatan  ;  Moon-Age = umur bulan saat sunset.

5.  Moonset = bulan terbenam.  Moon-Sun Azimuth= jarak azimuth bulan-matahari.  (+)=miring Utara (-)=miring Selatan.

6.  Moon Illumination=menyatakan % luas muka bulan menghadap bumi yang terkena cahaya matahari.

7.  Data lokasi geografis digenerate dari World Atlas Encarta 2006  dan data bulan & matahari dari  Starrynight Pro 5.8.2 dan Virtual Moon Atlas V1.5 .

 

NO

NAMA KOTA

  LETAK  GEOGRAFIS   TINGGI

SUNSET

MOONSET SUN AZIMUTH

MOON AZIMUTH

MOON-SUN AZIMUTH

MOON ALTITUDE

MOON ELONG

MOON AGE

MOON  ILLUM

12

Yogyakarta

07°47'S - 110°22'E 

100 m

17:31 WIB

18:08 WIB

293°28'

299°18'

+05°50'

6°51'

09°37'

18h26m

0,6%

Data kota sementara khusus untuk Wilyah Yogyakarta (Data kota lain silahkan sms ke 08122743082 ketik HILAL <spasi> <namakota>)

  

Simulasi posisi bulan seperti terlihat dari lokasi pengamatan hilal di Yogyakarta. Posisi tersebut tidak jauh berbeda dengan lokasi-lokasi lain di Indonesia. Pada saat ini hilal cukup bagus untuk dirukyat sebab sudah memenuhi kriteria Danjon.

 

Kapan Awal Bulan Jumadil Akhir 1427 H.  Mulai...?

 

■■■■■■■■■  MENURUT KRITERIA RUKYATUL HILAL ■■■■■■■■■ 

 Melihat lokasi Indonesia menurut peta kedua kriteria di atas, terlihat bahwa semua wilayah Indonesia memiliki peluang yang besar untuk dapat menyaksikan hilal pada Senin, 26 Juni  2006. Berdasarkan  peninjauan tersebut jika Indonesia menganut prinsip Rukyatul Hilal dalam sistem Kalender Hijriyah maka  tanggal 1 Jumadil Akhir 1427 Hijriyah akan jatuh pada :

 Selasa, 27 Juni  2006 (sementara)

Ketetapannya menunggu laporan rukyatul hilal dari seluruh Wilayah Indonesia dan sekitarnya.

 

■■■■■■■■■  MENURUT KRITERIA IMKANUR RUKYAT  ■■■■■■■■■ 

 Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada kalender yang menyatakan :  “Hilal dianggap terlihat  dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut: (1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau  (3)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak berlaku.  Menurut Tabel Posisi Bulan terlihat bahwa semua tempat di wilayah Indonesia sudah memenuhi kriteria Imkanur Rukyah baik ketinggian bulan (moon-alt), sudut elongasi (moon-elong) maupun umur bulan saat matahari terbenam (moon-age). Berdasarkan peninjauan hal tersebut maka  tanggal 1 Jumadil Awal 1427 Hijriyah ditetapkan pada :

 Selasa, 27 Juni  2006

 

■■■■■■■■■  MENURUT KRITERIA WUJUDUL HILAL ■■■■■■■■■

 Bagi para penganut kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah  menyatakan  bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam. Berdasarkan hal tersebut maka tanggal  1 Jumadil Akhir 1427 Hijriyah  ditetapkan pada :

 Selasa, 27 Juni  2006

 

 

Laporan Rukyatul Hilal Indonesia

Jumadil Akhir 1427 Hijriyah

Kegiatan Rukyat :  Senin, 26 Juni  2006  @ sunset

 

 

  • Yogyakarta :  Mutoha (mutoha@...) melaporkan: "Dari lokasi Pantai Parangkusumo (sebelah Barat) saya mengajak seorang anggota JAC Agus Triawan mencoba melakukan rukyat. Langit Barat cukup cerah walau hanya ada beberapa awan kecil. Matahari terlihat jelas saat sunset pada pukul 17:30 WIB (di Parangkusumo). Penjejakan thd lokasi hilal kami lakukan menggunakan pedoman lokasi sunset dengan beda azimuth sekitar 6°dengan menggunakan kompas bidik, dan altitude sekitar 7°dengan menggunakan rubuk sedangkan beberapa obyek di horison Barat saya gunakan sebagai acuan seperti menara, pepohonan dsb.  Selama hampir 35 menit kami melakukan observasi menggunakan mata telanjang, binokuler dan memasang handycam dengan berpedoman pada simulator planetarium SNP 582 menggunakan laptop yg kami bawa. Angin besar di pantai waktu itu cukup mengganggu pengamatan karena menerbangkan pasir. Namun sampai waktu terbenamnya bulan (18:08 WIB), hilal gagal dirukyat. Walau sebenarnya kondisi ini sudah memenuhi syarat limit Danjon. Saat berangkat dan pulang pemandangan menyedihkan para pengungsi gempa dan reruntuhan bangunan menghiasi sepanjang jalan Jogja-Parangtritis."

Nampak pasir yang beterbangan terkam oleh kamera saat terkena blitz

  • Kebumen : Ma'rufin Sudibyo (marufins@...) melaporkan: "Mencoba melihat hilal dari stadion Kebumen, posisi 7deg 40min LS 109deg 38min BT ketinggian sekitar 21 meter dpl. Situasi langit, sebagian besar cerah tanpa awan, kecuali persis di horizon barat dengan awan tipis. MoonCalc v6.0 memberikan panduan sunset pada 17 : 35 WIB, dengan altitude bulan saat itu 6 derajat, elongasi 9 derajat, umur Bulan 18,5 jam. Semuanya sudah memenuhi kriteria Danjon limit. Perkiraan umur hilal 24 menit. Pengamatan dilakukan dengan mata telanjang, sejak 17 :30 hingga 17 : 50 WIB. Sempat terlihat titik cahaya redup pada area dimana hilal seharusnya berada menurut perkiraan MoonCalc v6.0. " Umur " titik cahaya ini sekitar 1 menit (karena baru nampak sesaat sebelum saya meninggalkan lokasi) kemudian tertutupi awan. Ketinggian sekitar 1 ibu jari (mungkin < 5 derajat). Bentuk titik cahaya tidak bisa dipastikan (MoonCalc v6.0 memberikan gambaran bentuknya harus konkaf / terbuka ke arah utara). Pengamatan sangat terganggu oleh latar belakang cahaya merah jingga yang dipantulkan Matahari ke awan2 rendah di horizon barat. Demikian yang bisa dilaporkan. Moga2 ada pengamat ditempat lain yang lebih beruntung :)"
     

 

 

Laporan Rukyatul Hilal Internasional

Jumadil Akhir 1427 H

 

 

 

 

 

 

Original Site : http://icoproject.org  by Mohd. Odeh - Jordania

 

Original Site : http://moonsighting.com  by Dr. Monzur Ahmed

Original Site : http://Hilal-Sighting.com  by Dr.Mohib.N.DURRANI  

 

 

[ Ke Atas ]

 

Tahun 1427 Hijriyah

| Muharram | Shafar | Rabiul Awal | Rabiul Akhir | Jumadil Awal | Jumadil Akhir | Rajab| Syaban | Ramadhan | Syawal | Zulqaidah | Zulhijjah |

 

 

Oleh:  Mutoha - Anggota BHR DIY - koord. Jogja Astro Club (JAC)  - Member  Islamic Crescent's Observation Project (ICOP)

 " Menuju Obsesi Lahirnya Sistem Tunggal Penanggalan Islam di Indonesia "

Milis :  http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/

Kunjungan : 

sejak 1 Muharram 1427 H