| Home | Sekilas | Vibilitas | Hisab-Rukyat | Kalender | Gerhana | JadwalShalat | Kiblat | Artikel | Links | Galeri | Software | Tamu |

 

 

VISIBILITAS HILAL

محرّم

Muharram 1427 Hijriyah

■■■■■■■  Ijtimak / Konjungsi Akhir Zulhijjah 1426 H  ■■■■■■■ 

Minggu, 29 Januari 2006  - 21:15WIB / 22:15WITA / 23:15WIT / 14:15UT

Visibilitas (kenampakan) Hilal pada Minggu, 30 Januari 2006 selepas matahari terbenam di beberapa Wilayah Indonesia seperti ditunjukkan pada gambar peta di bawah yang dibuat menggunakan Accurate Times (Kriteria Odeh) dan  MoonCalc (Kriteria Yallop/Shaukat), seperti dijelaskan berikut ini.

 

 


 

ACCURATE TIMES VERSI 5.1  © Mohammad Odeh

 

1. Sangat tidak mungkin untuk daerah yang berada di bawah arsiran warna MERAH dapat menyaksikan hilal,  sebab pada saat itu hilal  terbenam lebih dulu sebelum matahari atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam.

2. Daerah yang berada pada area tak berarsiran juga sangat besar kemungkinan tidak dapat menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6°) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.

3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran warna BIRU.

4. Lokasi yang berada pada daerah di bawah arsiran warna UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran warna HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

6. Peta ini dibuat  berlaku untuk daerah 60°Lintang Utara (LU) sampai  60°Lintang Selatan (LS).

 

@ Peta Visibilitas Hilal : Minggu, 30 Januari 2005

 

 

MOONCALC VERSI 6.0 ©Dr. Monzur Ahmed

 

1. Daerah tak berarsiran adalah daerah yang tidak mungkin dapat menyaksikan hilal pada hari ijtimak/konjungsi selepas matahari terbenam.

2. Daerah berarsiran paling tipis paling kanan, hilal hanya dapat disaksikan dengan bantuan peralatan optik.

3. Daerah berarsiran lebih tebal di sebelah kirinya memerlukan peralatan optik untuk membantu mencari lokasi hilal.

4. Daerah berarsiran lebih tebal lagi, hilal dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang terlebih peralatan optik jika kondisi udara dan cuaca sangat cerah.

5. Daerah berarsiran paling tebal adalah daerah yang dapat menyaksikan hilal dengan mudah walaupun tanpa bantuan peralatan optik.

6. Arsiran warna kuning umur bulan 15-20 jam, warna ungu 20-25 jam, warna merah 25-30 jam, warna biru 30-35 jam dan warna hijau umur bulan 30-45 jam dihitung selepas ijtimak/konjungsi.

7. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60°Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.

@ Peta Visibilitas Hilal Dunia menurut Monzur Ahmed. Hilal baru mungkin hanya dapat teramati  ketika matahari telah terbenam 5°di bawah horison (l.k. 20 menit) setelah sunset.

SENIN, 30 JANUARI 2006

TABEL POSISI BULAN SAAT SUNSET UNTUK BERBAGAI KOTA DI INDONESIA

Tanggal Pengamatan : Minggu, 30 Januari 2006 @ sunset

Ijtimak / Konjungsi terjadi pada :  Minggu, 29 Januari 2006 - 21:15WIB / 22:15WITA / 23:15WIT / 14:15UT

KETERANGAN :

1.  Letak Geografis : N=North (Lintang Utara) ; S=South (Lintang Selatan) ; E=East (Bujur Timur) ; W=West (Bujur Barat).

2. Tinggi diukur di atas permukaan laut.

3.  Sunset = matahari terbenam ; Sun-Az = azimuth matahari ; Moon-Az = azimuth bulan ; Moon-Alt = altitude/tinggi bulan.

4.  Moon-Elong = elongasi bulan thd matahari (+)=miring Utara ; (-)=miring Selatan  ;  Moon-Age = umur bulan saat sunset.

5.  Moonset = bulan terbenam.  Moon-Sun Azimuth= jarak azimuth bulan-matahari.  (+)=miring Utara (-)=miring Selatan.

6.  Moon Illumination=menyatakan % luas muka bulan menghadap bumi yang terkena cahaya matahari.

7.  Data lokasi geografis digenerate dari World Atlas Encarta 2006  dan data bulan & matahari dari  Starrynight Pro 5.8.2 .

 

NO

NAMA KOTA

  LETAK  GEOGRAFIS   TINGGI

SUNSET

MOONSET SUN AZIMUTH

MOON AZIMUTH

MOON-SUN AZIMUTH

MOON ALTITUDE

MOON ELONG

MOON AGE

MOON  ILLUM
12

Yogyakarta

07°47'S - 110°22'E 

100 m 18:06 WIB

18:57 WIB

252°05' 253°56'

+01°51'

10°45' 11°49'

20h51m

1,07%

Data diurut berdasarkan posisi Longitude (Bujur) dimulai dari arah Barat.

  

Simulasi posisi bulan seperti terlihat dari lokasi pengamatan hilal Yogyakarta. Posisi tersebut tidak jauh berbeda dengan lokasi-lokasi lain di Indonesia.

 

Kapan Awal Bulan Muharram 1427 Hijriyah Mulai...?

■■■■■■■■■  MENURUT KRITERIA RUKYATUL HILAL ■■■■■■■■■ 

 Melihat lokasi Indonesia menurut peta kedua krtiteria di atas, terlihat bahwa semua wilayah Indonesia bisa dikatakan mungkin untuk menyaksikan hilal pada Minggu, 30 Januari 2006. Berdasarkan  peninjauan tersebut jika Indonesia menganut prinsip Rukyatul Hilal dalam sistem Kalender Hijriyah maka tanggal 1 Muharram 1427 Hijriyah Insya Allah akan jatuh pada :

 Selasa, 31 Januari 2006

( Penentuan ini masih menunggu laporan Rukyatul Hilal dari  Pos-pos Pengamatan Hilal Indonesia )

 

 

■■■■■■■■■  MENURUT KRITERIA IMKANUR RUKYAT  ■■■■■■■■■ 

 Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada kalender yang menyatakan :  “Hilal dianggap terlihat  dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut: (1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau  (3)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak berlaku.  Menurut Tabel Posisi Bulan terlihat bahwa semua tempat di wilayah Indonesia telah memenuhi kriteria Imkanur Rukyah baik ketinggian bulan (moon-alt), sudut elongasi (moon-elong) maupun umur bulan saat matahari terbenam (moon-age). Berdasarkan hal tersebut maka tanggal 1 Shafar 1427 H akan jatuh pada :

Selasa, 31 Januari 2006

 

■■■■■■■■■  MENURUT KRITERIA WUJUDUL HILAL ■■■■■■■■■

 Bagi para penganut kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah  menyatakan  bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam. namun pada hari ijtimak Sabtu, 29 Januari 2006 di semua Wilayah Indonesia ijtimak terjadi setelah mahari terbenam. Berdasarkan hal tersebut tanggal 1 Muharram 1427 Hijriyah akan jatuh pada hari :

Selasa, 31 Januari 2006

 

Laporan Rukyatul Hilal Indonesia

Muharram 1427 Hijriyah

Senin, 30 Januari 2006

 

 

  • Yogyakarta : Pada kesempatan kali ini Tim JAC beranggotakan 3 orang Sdr. Mutoha, Agus dan Bondan berbekal peralatan rukyat berupa binokuler, teleskop dan laptop untuk menjalankan simulator Program Starrynight Planetarium (program dapat menjejak posisi hilal secara akurat) melakukan rukyat dari Pantai Parangkusumo, berharap dapat menyaksikan hilal namun sayang karena cuaca kurang menguntungkan, hilal tidak berhasil dirukyat. Sore itu suasana cukup ramai oleh pengunjung yang akan menikmati datangnya malam 1 suro (1 Muharram). Walaupun tidak berhasil menyaklsikan hilal namun Tim berkesempatan menyakasikan saat-saat sunset yang cukup eksotik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rukyatul Hilal Muharram 1427 Hijriyah - Pantai Parangkusumo Yogyakarta Senin, 30 Januari 2006

 

 

 

Laporan Rukyatul Hilal Internasional

Muharram 1427 H

 

 

 

 

 

Original Site : http://icoproject.org  by Mohd. Odeh - Jordania

 

Original Site : http://moonsighting.com  by Dr. Monzur Ahmed

Original Site : http://Hilal-Sighting.com  by Dr.Mohib.N.DURRANI  

 

 

[ Ke Atas ]

 

Tahun 1427 Hijriyah

| Muharram | Shafar | Rabiul Awal | Rabiul Akhir | Jumadil Awal | Jumadil Akhir | Rajab| Syaban | Ramadhan | Syawal | Zulqaidah | Zulhijjah |

 

 

Oleh:  Mutoha - Anggota BHR DIY - koord. Jogja Astro Club (JAC)  - Member  Islamic Crescent's Observation Project (ICOP)

 " Menuju Obsesi Lahirnya Sistem Tunggal Penanggalan Islam di Indonesia "

Milis :  http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/

Kunjungan : 

sejak 1 Muharram 1427 H