|
| Home | Sekilas | Vibilitas | Hisab-Rukyat | Kalender | Gerhana | JadwalShalat | Kiblat | Artikel | Links | Galeri | Software | Tamu | |
|
|
|
|
|
HISAB - RUKYAT - VISIBILITAS HILAL رمضان Ramadhan 1427 Hijriyah ( Awal Ramadhan tahun ini nampaknya tidak ada perbedaan yaitu Minggu, 24 September 2006 )
■■■■■■ Ijtimak (Konjungsi) Akhir Sya'ban 1427 H ■■■■■■ Jumat, 22 September 2006 - Pukul : 18.45 WIB / 19.45 WITA / 20.45 WIT Waktu Internasional : 11.45 UT(GMT)
Visibilitas (kenampakan) Hilal pada Jumat, 22 September 2006 saat matahari terbenam di beberapa berbagai belahan dunia seperti ditunjukkan pada gambar peta di bawah ini. Peta dibuat menggunakan Software Accurate Times (Kriteria Odeh) dan Software MoonCalc (Kriteria Yallop/Shaukat), seperti dijelaskan berikut ini.
ACCURATE TIMES VERSI 5.2 © Mohammad Odeh
1. Adalah sangat tidak mungkin untuk daerah yang berada di bawah arsiran warna merah dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu hilal terbenam lebih dulu sebelum matahari atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam. 2. Daerah yang berada pada area tak berarsiran juga sangat besar kemungkinan tidak dapat menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati. 3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran warna biru. 4. Lokasi yang berada pada daerah di bawah arsiran warna ungu hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan. 5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran warna hijau baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik. 6. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60°Lintang Selatan.
Jumat, 22 September 2006
Sabtu, 23 September 2006 @ Peta Visibilitas Hilal berdasarkan Program Accurate Times © Mohammad Odeh - JAS. Peta visibilitas selama dua hari tersebut menunjukkan bahwa pada 22/9 wilayah Indonesia masih berada pada area bulan Sya'ban dimana ijtimak/konjungsi terjadi setelah matahari terbenam. Namun dalam peta 23/9 terlihat bahwa Indonesia berpeluang dapat menyaksikan hilal walau harus menggunakan peralatan bantu optik. |
![]()
| MOONCALC VERSI 6.0 © Dr. Monzur Ahmed
1. Daerah tak berarsiran adalah daerah yang tidak mungkin dapat menyaksikan hilal pada hari ijtimak/konjungsi selepas matahari terbenam. 2. Daerah berarsiran paling tipis paling kanan, hilal hanya dapat disaksikan dengan bantuan peralatan optik. 3. Daerah berarsiran lebih tebal di sebelah kirinya memerlukan peralatan optik untuk membantu mencari lokasi hilal. 4. Daerah berarsiran lebih tebal lagi, hilal dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang terlebih peralatan optik jika kondisi udara dan cuaca sangat cerah. 5. Daerah berarsiran paling tebal adalah daerah yang dapat menyaksikan hilal dengan mudah walaupun tanpa bantuan peralatan optik. 6. Arsiran warna kuning umur bulan 15-20 jam, warna ungu 20-25 jam, warna merah 25-30 jam, warna biru 30-35 jam dan warna hijau umur bulan 30-45 jam dihitung selepas ijtimak/konjungsi. 7. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60°Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.
Sabtu, 23 September 2006 @ Peta Visibilitas Hilal Dunia menurut Mooncalc 6.0 dengan menggunakan Kriteria Yallop. Hilal baru mungkin hanya dapat teramati saat matahari telah terbenam 5°di bawah horison (l.k. 20 menit) setelah sunset.
Perhatikan bahwa pada 23/9 menurut Kriteria Yallop seluruh wilayah Indonesia dikategorikan masuk dalam wilayah dimana hilal berpeluang dapat teramati walau harus menggunakan alat bantu optik
|
![]()
|
TABEL POSISI BULAN SAAT SUNSET UNTUK BERBAGAI KOTA DI INDONESIA Tanggal Pengamatan : Jumat, 22 September 2006 @ sunset
Ijtimak / Konjungsi Geosentrik terjadi pada : Jumat, 22 September 2006 - Pukul : 18.45 WIB / 19.45 WITA / 20.45 WIT Waktu Internasional : 11.45 UT(GMT) KETERANGAN : 1. Letak Geografis : N=North (Lintang Utara) ; S=South (Lintang Selatan) ; E=East (Bujur Timur) ; W=West (Bujur Barat). 2. Tinggi diukur di atas permukaan laut. 3. Sunset = matahari terbenam ; Sun-Az = azimuth matahari ; Moon-Az = azimuth bulan ; Moon-Alt = altitude/tinggi bulan. 4. Moon-Elong = elongasi bulan thd matahari (+)=miring Utara ; (-)=miring Selatan ; Moon-Age = umur bulan saat sunset. 5. Moonset = bulan terbenam. Moon-Sun Azimuth= jarak azimuth bulan-matahari. (+)=miring Utara (-)=miring Selatan. 6. Moon Illumination=menyatakan % luas muka bulan menghadap bumi yang terkena cahaya matahari. 7. Data lokasi geografis digenerate dari World Atlas Encarta 2006 dan data bulan & matahari dari Starrynight Pro 5.8.2 dan Virtual Moon Atlas V1.5 .
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Jumat, 22 September 2006
Sabtu, 23 September 2006
Simulasi posisi bulan menggunakan program Simulator Planetarium Starrynight Versi 5.82 seperti terlihat dari lokasi pengamatan hilal di Yogyakarta. Posisi tersebut tidak jauh berbeda dengan lokasi-lokasi lain di Indonesia. Peta simulasi posisi bulan selama dua hari tersebut menunjukkan bahwa pada 22/9 wilayah Indonesia masih berada pada area bulan Sya'ban dimana ijtimak/konjungsi terjadi setelah matahari terbenam. Namun dalam peta simulasi tanggal 23/9 terlihat bahwa Indonesia berpeluang dapat menyaksikan hilal walau harus menggunakan peralatan bantu optik dengan terlihatnya bulan pada ketinggian lebih dari 7º di atas horison saat matahari terbenam. Angka tersebut sudah di atas Limit Danjon.
|
|
Kapan Awal Bulan Ramadhan 1427 H. Mulai...? Ijtimak : Jumat, 22 September 2006 - Pukul : 18.45 WIB / 19.45 WITA / 20.45 WIT Waktu Internasional : 11.45 UT(GMT)
|
| ■■■■■■■■■ MENURUT KRITERIA RUKYATUL HILAL ■■■■■■■■■ Melihat lokasi Indonesia menurut peta kedua kriteria di atas, terlihat bahwa semua wilayah Indonesia tidak memiliki peluang untuk dapat menyaksikan hilal pada Jumat, 22 September 2006. Berdasarkan peninjauan tersebut jika menganut prinsip Rukyatul Hilal dalam sistem Kalender Hijriyah, maka bulan Sya'ban akan di istikmalkan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Ramadhan 1427 Hijriyah akan jatuh pada : Minggu, 24 September 2006 Ketetapannya menunggu laporan rukyatul hilal dari seluruh Wilayah Indonesia dan sekitarnya.
|
| ■■■■■■■■■ MENURUT KRITERIA IMKANUR RUKYAT ■■■■■■■■■ Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada kalender yang menyatakan : “Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut: (1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2°dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau (3)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak berlaku. Menurut Tabel Posisi Bulan terlihat bahwa semua tempat di wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria Imkanur Rukyah baik ketinggian bulan (moon-alt), sudut elongasi (moon-elong) maupun umur bulan saat matahari terbenam (moon-age) karena ijtimak/konjungsi terjadi setelah matahari terbenam. Berdasarkan peninjauan hal tersebut maka bulan Sya'ban akan di istikmalkan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Ramadhan 1427 Hijriyah ditetapkan pada : Minggu, 24 September 2006
|
| ■■■■■■■■■ MENURUT KRITERIA WUJUDUL HILAL ■■■■■■■■■ Bagi para penganut kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah menyatakan bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam." namun demikian hilal pada 22/9 belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal. Berdasarkan hal tersebut maka bulan Sya'ban akan di istikmalkan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Ramadhan 1427 Hijriyah ditetapkan pada : Minggu, 24 September 2006
|
|
Laporan Rukyatul Hilal Indonesia Ramadhan 1427 Hijriyah Kegiatan Rukyat : Jumat, 22 September 2006 @ sunset
Kegiatan Rukyatul Hilal bulan ini semestinya dilakukan pada Sabtu, 23 September 2006 seperti juga yang dilakukan oleh negara-negara lain. Namun karena sudah menjadi tradisi bahwa kegiatan rukyat dilakukan pada setiap tanggal 29 pada bulan yang sedang berjalan, maka secara resmi Pemerintah RI melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) menetapkan hari rukyat pada 29 Sya'ban 1427 H atau Jumat, 22 September 2006 walaupun di seluruh wilayah Indonesia ijtimak/konjungsi terjadi setelah matahari terbenam sehingga kemungkinan dapat menyaksikan hilal adalah hal yang mustahil sehingga kegiatan rukyat hilal kali ini hanya bersifat konfirmasi atau ceremonial, walhasil jelas Sya'ban akan istikmal menjadi 30 hari.
|
|
Laporan Rukyatul Hilal Internasional Ramadhan 1427 Hijriyah
|
|
Original Site : http://icoproject.org by Mohd. Odeh - Jordania
Original Site : http://moonsighting.com by Dr. Monzur Ahmed Original Site : http://Hilal-Sighting.com by Dr.Mohib.N.DURRANI
|
|