| Home | Sekilas | Vibilitas | Hisab-Rukyat | Kalender | Gerhana | JadwalShalat | Kiblat | Artikel | Links | Galeri | Software | Tamu |

 

 

HISAB - RUKYAT - VISIBILITAS HILAL

ذو القعدة

Zulqaidah 1427 Hijriyah

■■■■■■  Ijtimak (Konjungsi Geosentris) Akhir Syawwal 1427 H  ■■■■■■ 

Minggu, 22 Oktober 2006  - Pukul : 12.14 WIB / 13.14  WITA / 14.14  WIT

Waktu Internasional : 05.14  UT (GMT)

 

Visibilitas (kenampakan) Hilal pada Minggu, 22 Oktober 2006 saat matahari terbenam di beberapa berbagai belahan dunia seperti ditunjukkan pada gambar peta di bawah ini. Peta dibuat menggunakan Software Accurate Times  (Kriteria Odeh) dan Software  MoonCalc  (Kriteria Yallop/Shaukat), seperti dijelaskan berikut ini.

 

ACCURATE TIMES VERSI 5.2  © Mohammad Odeh

 

1. Adalah sangat tidak mungkin untuk daerah yang berada di bawah arsiran warna MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu hilal  terbenam lebih dulu sebelum matahari atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam. Artinya tinggi hilal adalah negatif.

2. Daerah yang berada pada area tak berarsiran juga sangat besar kemungkinan tidak dapat menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( 0° s.d. 6° ) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.

3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran warna BIRU.

4. Lokasi yang berada pada daerah di bawah arsiran warna UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran warna HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

6. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.

 

 

Minggu, 22 Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 23 Oktober 2006

@ Peta Visibilitas Hilal berdasarkan Program Accurate Times © Mohammad Odeh - JAS.

Peta visibilitas selama dua hari tersebut menunjukkan bahwa pada 22/10 sebagian wilayah Indonesia bagian Timur hilal masih di bawah ufuk saat matahari terbenam. Pada 22/10 ini juga peluang menyaksikan hilal di Indonesia adalah nol.  Sedangkan peluang untuk dapat menyaksikan hilal di Indonesia hanya pada Senin 23/10 (arsiran hijau).

 

 

 

MOONCALC VERSI 6.0 © Dr. Monzur Ahmed

 

1. Daerah tak berarsiran adalah daerah yang tidak mungkin dapat menyaksikan hilal pada hari ijtimak/konjungsi selepas matahari terbenam.

2. Daerah berarsiran paling tipis paling kanan, hilal hanya dapat disaksikan dengan bantuan peralatan optik.

3. Daerah berarsiran lebih tebal di sebelah kirinya memerlukan peralatan optik untuk membantu mencari lokasi hilal.

4. Daerah berarsiran lebih tebal lagi, hilal dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang terlebih peralatan optik jika kondisi udara dan cuaca sangat cerah.

5. Daerah berarsiran paling tebal adalah daerah yang dapat menyaksikan hilal dengan mudah walaupun tanpa bantuan peralatan optik.

6. Arsiran warna kuning umur bulan 15-20 jam, warna ungu 20-25 jam, warna merah 25-30 jam, warna biru 30-35 jam dan warna hijau umur bulan 30-45 jam dihitung selepas ijtimak/konjungsi.

7. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60°Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.

 

Minggu, 22 Oktober 2006

@ Peta Visibilitas Hilal Dunia menurut Mooncalc 6.0 dengan menggunakan Kriteria Yallop.

Hilal baru mungkin hanya dapat teramati  saat matahari telah terbenam 5°di bawah horison (l.k. 20 menit) setelah sunset.

Perhatikan bahwa pada 22/10  menurut Kriteria Yallop seluruh wilayah Indonesia dikategorikan masuk dalam wilayah dimana tidak ada peluang hilal dapat teramati.

 

 

 

Senin, 23 Oktober 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

Peluang teramatinya hilal hanya terjadi seteleh Senin, 23/10 baik menggunakan mata telanjang terlebih peralatan optik.

 

TABEL POSISI BULAN SAAT SUNSET UNTUK BERBAGAI KOTA DI INDONESIA

Tanggal Rukyatul Hilal : Minggu, 22 Oktober 2006 @ sunset

 

■■■■■■  Ijtimak (Konjungsi Geosentris) Akhir Ramadhan 1427 H  ■■■■■■ 

Minggu, 22 Oktober 2006  - Pukul : 12.14 WIB / 13.14  WITA / 14.14  WIT

Waktu Internasional : 05.14  UT (GMT)

KETERANGAN :

1.  Letak Geografis : N=North (Lintang Utara) ; S=South (Lintang Selatan) ; E=East (Bujur Timur) ; W=West (Bujur Barat).

2. Tinggi diukur di atas permukaan laut.

3.  Sunset = matahari terbenam ; Sun-Az = azimuth matahari ; Moon-Az = azimuth bulan ; Moon-Alt = altitude/tinggi bulan.

4.  Moon-Elong = elongasi bulan thd matahari (+)=miring Utara ; (-)=miring Selatan  ;  Moon-Age = umur bulan saat sunset.

5.  Moonset = bulan terbenam.  Moon-Sun Azimuth= jarak azimuth bulan-matahari.  (+)=miring Utara (-)=miring Selatan.

6.  Moon Illumination=menyatakan % luas muka bulan menghadap bumi yang terkena cahaya matahari.

7.  Data lokasi geografis digenerate dari World Atlas Encarta 2006  dan data bulan & matahari dari  Starrynight Pro 5.8.2 dan Virtual Moon Atlas V1.5 .

 

NO

NAMA KOTA

  LETAK  GEOGRAFIS   TINGGI

SUNSET

MOONSET SUN AZIMUTH

MOON AZIMUTH

MOON-SUN AZIMUTH

MOON ALTITUDE

MOON ELONG

MOON AGE

MOON  ILLUM
12

Yogyakarta

07°47' S - 110°22' E 

100 m 17:32 WIB

17:36 WIB

258°42' 255°10'

-03°32'

+0°26' -03° 37'

  05h 18m

0,0 %

Data kota lain silahkan sms ke 08122743082 ketik HILAL <spasi> <namakota>)

  

Minggu, 22 Oktober 2006

Minggu, 22 Oktober 2006

Simulasi posisi bulan menggunakan program Simulator Planetarium Starrynight Versi 5.82 seperti terlihat dari lokasi pengamatan hilal di Yogyakarta. Posisi tersebut tidak jauh berbeda dengan lokasi-lokasi lain di Indonesia.

Peta simulasi  posisi bulan pada 22/10  di dua lokasi yaitu Yogyakarta tinggi bulan positif (di atas ufuk) namun di Jayapura Papua tinggi bulan negatif (di bawah ufuk) saat matahari terbenam.

 

No.

Nama Kota

Irtifa’

No.

Nama Kota

Irtifa’

01

Banda Aceh

0º16´25²

17

Kupang

0º38´28²

02

Medan

0º20´24²

18

Pontianak

0º19´49²

03

Padang

0º38´48²

19

Palangkaraya

0º21´46²

04

Pekanbaru

0º30´18²

20

Banjarmasin

0º25´18²

05

Bengkulu

0º48´29²

21

Samarinda

0º14´13²

06

Palembang

0º40´30²

22

Makasar

0º24´40²

07

Jambi

0º35´40²

23

Kendari

0º14´13²

08

Bandar Lampung

0º50´35²

24

Palu

-0º05´31²

09

Serang

0º52´35²

25

Gorontalo

-0º05´46²

10

Jakarta

0º51´03²

26

Manado

-0º12´36²

11

Bandung

0º53´03²

27

Ambon

0º02´32²

12

Semarang

0º48´23²

28

Ternate

-0º18´09²

13

Yogyakarta

0º46´58²

29

Manokwari

-0º17´33²

14

Surabaya

0º45´20²

30

Jayapura

-0º42´22²

15

Denpasar

0º46´47²

31

Merauke

0º16´25²

16

Mataram

0º45´05²

32

Makkah (Saudi)

-0º 39’ 63”

Daftar tinggi hilal di beberapa kota di Indonesia menurut hisab kontemporer modern.

 

Kapan Awal Bulan Ramadhan 1427 H.  Mulai...?

■■■■■■  Ijtimak (Konjungsi Geosentris) Akhir Ramadhan 1427 H  ■■■■■■ 

Minggu, 22 Oktober 2006  - Pukul : 12.14 WIB / 13.14  WITA / 14.14  WIT

Waktu Internasional : 05.14  UT (GMT)

 

■■■■■■■■■  MENURUT KRITERIA RUKYATUL HILAL ■■■■■■■■■ 

Melihat lokasi Indonesia menurut peta kedua kriteria di atas, terlihat bahwa semua wilayah Indonesia tidak memiliki peluang untuk dapat menyaksikan hilal pada Minggu, 22 Oktober 2006. Berdasarkan  peninjauan tersebut jika menganut prinsip Rukyatul Hilal dalam sistem Kalender Hijriyah, maka  bulan Ramadhan akan di istikmalkan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Syawwal 1427 Hijriyah akan jatuh pada :

 Selasa, 24 Oktober 2006

Ketetapannya menunggu laporan rukyatul hilal dari seluruh Wilayah Indonesia dan sekitarnya.

( Hal yang sangat mustahil secara ilmiah jika ada laporan terlihatnya hilal pada hari Rukyat !!!!! )

 

■■■■■■■■■  MENURUT KRITERIA IMKANUR RUKYAT  ■■■■■■■■■ 

 Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada kalender yang menyatakan :  “Hilal dianggap terlihat  dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:   (1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2°dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau  (3)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak berlaku.  Menurut Tabel Posisi Bulan terlihat bahwa semua tempat di wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria Imkanur Rukyah baik ketinggian bulan (moon-alt), sudut elongasi (moon-elong) maupun umur bulan saat matahari terbenam (moon-age).  Berdasarkan peninjauan hal tersebut maka  bulan Ramadahan akan di istikmalkan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Syawwal 1427 Hijriyah ditetapkan pada :

 Selasa, 24 Oktober 2006

 

 

 

■■■■■■■■■  MENURUT KRITERIA WUJUDUL HILAL ■■■■■■■■■

 Bagi para penganut kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah  menyatakan  bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam." namun demikian hilal pada 22/10 belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal di beberapa tempat di Wilayah RI bagian Timur dan teleh wujud di sebagian besar Wilayah RI bagian Barat. Dan karena Wujudul Hilal ini menganut juga prinsip satu wilayah hukum (wilayatul hukmi) maka berdasarkan hal tersebut tanggal  1 Syawwal 1427 Hijriyah  ditetapkan pada :

 

Senin, 23 Oktober 2006

 

Muhammadiyah secara resmi telah menyepakati untuk menetapkan 1 Syawwal 1427 H pada Senin, 23 Oktober 2006 dan informasi telah disebar secara nasional. Namun bagi wilayah Timur yang secara astronomis tinggi hilal masih negatif dapat menyelenggarakan pada hari berikutnya. Kesepakatan ini juga diikuti oleh organisasi Persatuan Islam (Pesis).

 

 

 

Laporan Rukyatul Hilal Indonesia

Syawwal 1427 Hijriyah

 

Tanggal Rukyatul Hilal : Minggu, 22 Oktober 2006 @ sunset

 

Kegiatan Rukyatul Hilal bulan ini semestinya dilakukan pada Senin, 23 Oktober 2006 seperti juga yang dilakukan oleh negara-negara lain.  Namun karena sudah menjadi tradisi bahwa kegiatan rukyat dilakukan pada setiap tanggal 29 pada bulan yang sedang berjalan, maka secara resmi Pemerintah RI melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) menetapkan hari rukyat pada 29 Ramadhan 1427 H atau Minggu, 22 Oktober 2006 walaupun di seluruh wilayah Indonesia secara astronomis kemungkinan dapat menyaksikan hilal adalah hal yang mustahil sehingga kegiatan rukyat hilal kali ini mungkin hanya bersifat konfirmasi atau ceremonial. Namun demikian sering terjadi hal yang luar biasa dimana ada saja pengamat yang melaporkan dapat merukyat hilal?? Wallahu a'lam.

 

  • Yogyakarta :  TIM BHR Kanwil Prop. DIY bersama seluruh jajarannya akan menyelenggarakan kegiatan rukyat di Pantai Parangkusumo Yogyakarta. Kegiatan rukyat kali mungkin agak berbeda dengan sebelumnya dikarenakan lokasinya akan menempati area parkir tertutup tidak algi di area terbuka seperti biasanya sehingga gangguan angin pantai dapat dikurangi. Rukyat kali ini juga menyertakan peralatan CCD imaging dan simulator penjejak posisi bulan berupa sebuah program planetarium yaitu Starynight Pro Versi 5.8.2 yang akan diteruskan melalui layar LCD Proyektor.  

  • "....

 

 

Laporan Rukyatul Hilal Internasional

 

Zulqaidah 1427 H

 

 

 

 

Original Site : http://icoproject.org  by Mohd. Odeh - Jordania

 

Original Site : http://moonsighting.com  by Dr. Monzur Ahmed

Original Site : http://Hilal-Sighting.com  by Dr.Mohib.N.DURRANI  

 

[ Ke Atas ]

 

Tahun 1427 Hijriyah

| Muharram | Shafar | Rabiul Awal | Rabiul Akhir | Jumadil Awal | Jumadil Akhir | Rajab| Syaban | Ramadhan | Syawal | Zulqaidah | Zulhijjah |

 

 

Oleh:  Mutoha - Anggota BHR DIY - koord. Jogja Astro Club (JAC)  - Member  Islamic Crescent's Observation Project (ICOP)

 " Menuju Obsesi Lahirnya Sistem Tunggal Penanggalan Islam di Indonesia "

Milis :  http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/

Kunjungan : 

sejak 1 Muharram 1427 H