| Home | Sekilas | Vibilitas | Hisab-Rukyat | Kalender | Gerhana | JadwalShalat | Kiblat | Artikel | Links | Galeri | Software | Tamu |

 

 

Visibilitas Hilal Bulan Syaban

Tahun 1428 H

 


|||||||| Muharram | Shafar | Rabiul Awal | Rabiul Akhir | Jumadil Awal | Jumadil Akhir | Rajab| Syaban | Ramadhan | Syawal | Zulqaidah | Zulhijjah ||||||||


 

Isi halaman ini :

Ijtimak / Konjungsi Awal Bulan Syaban 1428 H

Peta Ketinggian Hilal di Wilayah Indonesia

Penentuan Awal Bulan Syaban menurut Berbagai Kriteria

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Indonesia

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Internasional


Ijtimak / Konjungsi Awal Bulan

Syaban 1428 H

Senin, 13 Agustus 2007 Pukul 06:02 WIB / 07:02 WITA / 08:02 WIT

Minggu, 12 Agustus 2007 Pukul 23:02 GMT

 

Visibilitas (kenampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas matahari terbenam di seluruh dunia khususnya kawasan Indonesia ditunjukkan pada gambar peta di bawah.  Peta visibilitas mengacu pada Kriteria Odeh yang mengadopsi Limit Danjon sebesar 6° yaitu syarat ketinggian hilal agar terlihat dengan mata telanjang. Kriteria tersebut dikemas dalam sebuah software Accurate Times yang menjadi acuan pembuatan peta visibilitas ini.

 

Grafis dibuat dengan Coreldraw X3

  1. Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu hilal  terbenam lebih dulu sebelum matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam.

  2. Daerah yang berada pada area BIRU TUA (tak berarsiran) juga  tidak memiliki peluang menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.

  3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran BIRU MUDA. Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di langit Barat.

  4. Wilayah yang berada dalam arsiran KUNING hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

  5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

  6. Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60°Lintang Selatan.

 


Peta Ketinggian Hilal di Wilayah Indonesia

Syaban 1428 H

 

Tanggal Rukyatul Hilal :

Senin, 13 Agustus 2007 @ sunset ( Resmi Pemerintah )

 

 

Skema ketinggian Hilal untuk Yogyakarta pada hari Ijtimak 13 Agustus 2007 saat sunset

 

PETA KETINGGIAN HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM DI INDONESIA

  

Peta ketinggian hilal di kawasan Indonesia pada hari Ijtimak menunjukkan rata-rata ketinggian hilal antara 3° sampai dengan 4,5° dari horison saat matahari terbenam di masing-masing lokasi. Melihat kondisi tersebut hilal sangat sulit dapat dirukyat pada hari dan tanggal terjadinya ijtimak.


Penentuan Awal Bulan Menurut Berbagai Kriteria

Syaban 1428 H

 

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal ( Limit Danjon )

Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas di atas, kalau Kriteria Limit Danjon diberlakukan maka semua wilayah Indonesia tidak mungkin menyaksikan hilal pada Senin, 13 Agustus 2007 setelah matahari terbenam. Dengan demikian bulan Rajab 1428 H di istikmal atau digenapkan menjadi 30 hari sesuai tuntunan syariah. Berdasarkan  peninjauan tersebut jika Indonesia menganut prinsip Rukyatul Hilal dalam sistem Kalender Hijriyah maka tanggal 1 Syaban 1428 H jatuh pada :

Rabu, 15 Agustus 2007

 

( Penentuan ini masih menunggu laporan Rukyatul Hilal dari  Pos-pos Pengamatan Hilal Indonesia )

 


 

2. Menurut Kriteria Imkanur Rukyat

 

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada kalender yang menyatakan :  

 

Hilal dianggap terlihat  dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

(1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan

(2). Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau 

(3)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas ijtimak berlaku. 

 

Menurut Peta Ketinggian Hilal terlihat bahwa seluruh wilayah Indonesia posisi hilal berada pada ketinggian antara  3° sampai dengan 4,5° saat matahari terbenam di masing-masing lokasi pada hari terjadinya ijtimak sehingga  syarat imkanurrukyat sudah terpenuhi. Berdasarkan hal tersebut maka tanggal 1 Syaban 1428 H jatuh pada :

 

Selasa, 14 Agustus  2007

 

 


 

3. Menurut Kriteria Wujudul Hilal

 

Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah  menyatakan  bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam. Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi maka tanggal 1 Syaban 1428 H  jatuh pada hari :

 

Selasa, 14 Agustus  2007

 

 


 

4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global

 

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi  180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal. Berdasarkan peta visibilitas hilal pada kedua zona maka 1 Syaban 1428 H jatuh pada hari:

 

 

Zona Timur :  Rabu, 15 Agustus 2007

 

 Zona Barat :  Selasa, 14 Agustus  2007

 

 


 

5. Menurut Kriteria Rukyat Hilal Saudi

 

Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut "hilal" baik yang "sengaja salah" maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap kenampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah "limit visibilitas" atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Tidak hanya di Indonesia bahkan di negara-negara lain kasus ini sering terjadi misalnya Arab Saudi sebagai contoh. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang "kontroversi".

Kasus Idul Adha 1424 H yang lalu merupakan salah satu contoh. Bahkan baru-baru ini  Saudi juga mengklaim dapat menyaksikan hilal Sya'ban pada 14 September 2007 saat hilal baru berumur sekitar 4 jam selepas ijtimak. Namun demikian keputusan Saudi taat diikuti oleh rakyatnya bahkan banyak diikuti juga oleh negara-negara lain termasuk sebagian masyarakat Indonesia.

Kalender resmi Saudi yang dinamakan "Ummul Quro" telah berkali-kali mengganti kriterianya. Ironisnya banyak istbat penentuan awal bulan justru tidak menggunakan kriteria kalender ini. Sulitnya merumuskan kriteria berdasarkan "klaim rukyat" ini karena kriteria rukyatul hilal yang dipakai Saudi hanya  mendasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap laporan tersebut. Hanya dengan mengucapkan syahadah maka laporan tersebut sah adanya begitu tuntunan syariatnya.

Berdasarkan laporan-laporan klaim rukyat tersebut semakin nampak jelas bahwa kriteria awal bulan yang digunakan oleh Saudi lebih mengarah kepada kriteria "Ijtimak Qablal Ghurub" yaitu ".. jika ijtimak terjadi sebelum waktu maghrib maka esoknya adalah bulan baru tanpa mengindahkan faktor-faktor yang lain misalnya ketinggian hilal saat terbenamnya matahari ..". Dengan menggunakan acuan ini maka penetapan tanggal 1 Syaban 1428 H di Saudi akan jatuh pada :

 

Selasa, 14 Agustus  2007

 

( Ijtimak Qablal  Ghurub )

Di Makkah, Saudi pada Senin, 13 Agustus  2007 ghurub terjadi pada pukul 18:52 Waktu Mekah dan Ijtimak terjadi pada pukul 02:04 Waktu Mekah. Tinggi hilal minus (-) 1° 38,7' di bawah ufuk saat matahari terbenam.

 

 

 

 

 

 


 

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Indonesia

Syaban 1428 H

 

Tanggal Rukyatul Hilal :  Senin, 13 Agustus 2007 @ sunset

 

 

Senin, 13 Agustus 2007 @ sunset

..

Selasa, 14 Agustus @ sunset

..

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Internasional

Syaban 1428 H

 

Original Site : http://icoproject.org  by Mohd. Odeh - Jordania

 

Original Site : http://moonsighting.com  by Dr. Monzur Ahmed

 

[ Ke Atas ]

 

Tahun 1428 Hijriyah

|||||||| Muharram | Shafar | Rabiul Awal | Rabiul Akhir | Jumadil Awal | Jumadil Akhir | Rajab| Syaban | Ramadhan | Syawal | Zulqaidah | Zulhijjah ||||||||

 

 

Oleh:  Mutoha - Anggota BHR DIY - koord. Jogja Astro Club (JAC)  - Member  Islamic Crescent's Observation Project (ICOP)

 " Menuju Obsesi Lahirnya Sistem Tunggal Penanggalan Islam di Indonesia "

Milis :  http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/

Kunjungan : 

sejak 1 Muharram 1427 H