| Home | Sekilas | Vibilitas | Hisab-Rukyat | Kalender | Gerhana | JadwalShalat | Kiblat | Artikel | Links | Galeri | Software | Tamu |

 

 

Visibilitas Hilal Bulan Syawal

Tahun 1428 H

 


|||||||| Muharram | Shafar | Rabiul Awal | Rabiul Akhir | Jumadil Awal | Jumadil Akhir | Rajab| Syaban | Ramadhan | Syawal | Zulqaidah | Zulhijjah ||||||||


 

Isi halaman ini :

Ijtimak / Konjungsi Awal Bulan Syawal 1428 H

Peta Ketinggian Hilal di Wilayah Indonesia

Prediksi Awal Bulan Syawal menurut Berbagai Kriteria

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Indonesia

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Internasional


Ijtimak / Konjungsi Awal Bulan

Syawal 1428 H

Kamis, 11 Oktober 2007 Pukul 12:02 WIB / 13:02 WITA / 14:02  WIT / 05:02 GMT

 

Visibilitas (kenampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas matahari terbenam di seluruh dunia khususnya kawasan Indonesia ditunjukkan pada gambar peta di bawah.  Peta visibilitas mengacu pada Kriteria Odeh yang mengadopsi Limit Danjon sebesar 6° yaitu syarat ketinggian hilal agar terlihat dengan mata telanjang. Kriteria tersebut dikemas dalam sebuah software Accurate Times yang menjadi acuan pembuatan peta visibilitas ini.

 

Grafis dibuat dengan Coreldraw X3

  1. Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu hilal  terbenam lebih dulu sebelum matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam.

  2. Daerah yang berada pada area BIRU TUA (tak berarsiran) juga  tidak memiliki peluang menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.

  3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran BIRU MUDA. Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di langit Barat.

  4. Wilayah yang berada dalam arsiran KUNING hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

  5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

  6. Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60°Lintang Selatan.

 


Peta Ketinggian Hilal di Wilayah Indonesia

Syawal 1428 H

 

Tanggal Rukyatul Hilal :

Kamis, 11 Oktober 2007 @ sunset  ( Resmi Pemerintah )

Jum'at, 12 Oktober 2007 @ sunset ( menurut Kriteria Danjon )

 

Peta Ketinggian Hilal di Yogyakarta pada hari Ijtimak saat sunset

 

Peta Ketinggian Hilal di Jayapura pada hari Ijtimak saat sunset

 

 

GARIS KETINGGIAN HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM DI INDONESIA

  

DATA LENGKAP KETINGGIAN HILAL KOTA-KOTA DI INDONESIA (VERSI BMG)

Data hilal saat matahari terbenam awal bulan Syawal 1428 H (11 Oktober 2007)

Data hilal saat matahari terbenam awal bulan Syawal 1428 H (12 Oktober 2007)

 

Garis ketinggian hilal di kawasan Indonesia pada hari Ijtimak menunjukkan wilayah Indonesia terbelah menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh garis hilal 0° yang melintasi Banda Aceh - Pontianak - Kendari dan Selatan Papua. Melihat kondisi tersebut tak satupun di wilayah Indonesia berpeluang dapat menyaksikan hilal pada hari tersebut.


Prediksi Awal Bulan Menurut Berbagai Kriteria

Syawal 1428 H

 

1. Menurut Kriteria Rukyatul Hilal ( Limit Danjon )

 

Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas di atas, kalau Kriteria Limit Danjon diberlakukan maka semua wilayah Indonesia tidak mungkin menyaksikan hilal pada hari pertama terjadinya Ijtimak (11/9) pada saat  setelah matahari terbenam. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas yang memegang teguh prinsip rukyatul hilal harus menolak persaksian seseorang yang menyatakan dapat merukyat hilal pada hari itu. Hilal baru mungkin dirukyat pada hari kedua pasca Ijtimak (12/9) . Dengan demikian bulan Ramadhan 1428 H di istikmal atau digenapkan menjadi 30 hari sesuai tuntunan syariah. Berdasarkan  peninjauan tersebut jika kita menganut prinsip Rukyatul Hilal maka tanggal 1 Syawal 1428 H akan jatuh pada hari:

 

Sabtu, 13 Oktober 2007

 


 

2. Menurut Kriteria Imkanur Rukyat

 

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada kalender yang menyatakan :  

 

Hilal dianggap terlihat  dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

(1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan

(2). Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau 

(3)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas ijtimak berlaku. 

 

Menurut Peta Ketinggian Hilal terlihat bahwa seluruh wilayah Indonesia posisi hilal berada pada ketinggian antara  minus 1° di bawah ufuk sampai dengan 1° di atas ufuk saat matahari terbenam di masing-masing lokasi pada hari terjadinya ijtimak sehingga  syarat imkanurrukyat belum terpenuhi. Berdasarkan hal tersebut maka bulan Ramadhan 1428 H di istikmal atau digenapkan menjadi 30 hari. Maka tanggal 1 Syawal 1428 H menurut pemerintah akan jatuh pada hari:

 

Sabtu, 13 Oktober 2007

 


 

3. Menurut Kriteria Wujudul Hilal

 

Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah  yang dipedomani oleh Muhammadiyah menyatakan  bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam". Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi untuk wilayah terang (hilal di atas ufuk) dan belum memenuhi syarat untuk wilayah merah (hilal di bawah ufuk). Berdasarkan prinsip bahwa Indonesia adalah satu kesatuan wilayah hukum negara (konsep wilayatul hukmi) maka jika ada satu wilayah yang sudah wujud hilal maka berlaku untuk seluruh negara. Berdasarkan kondisi tersebut maka tanggal 1 Syawal 1428 H  menurut Muhammadiyah jatuh pada hari :

 

Jumat, 12 Oktober  2007

 

( Maklumat PP Muhammadiyah tentang penetapan 1 Syawwal 1428 H )

 

 

Sementara menurut Persatuan Islam (Persis) dan beberapa ormas Islam yang juga menggunakan kriteria Wujudul Hilal namun dengan syarat "wujud" di Seluruh Wilayah RI.  Karena hilal belum wujud untuk wilayah Papua, Maluku, sebagian Sulawesi dan Kalimantan maka 1 Syawal 1428 jatuh pada hari :

 

Sabtu, 13 Oktober  2007

 

 


 

4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global

 

 

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi  180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal. Keberhasilan rukyat di Zone Timur akan diikuti oleh Zone Barat dan keberhasilan rukyat di Zona Barat tidak diikuti  oleh Zona Timur jika rukyat gagal di zona ini.

Melihat peta visibilitas maka akan sangat sulit bagi zona Timur untuk dapat melakukan rukyat pada hari pertama terjadinya Ijtimak atau tanggal 11 Oktober 2007 sementara Zona Barat berpeluang menyaksikabn hilal menggunakan alat optik. Berdasarkan hal tersebut maka 1 Syawal 1428 H jatuh pada hari:

 

Zona Timur :  Sabtu, 13 Oktober 2007

 

 Zona Barat :  Jumat, 12 Oktober 2007

 

 

 


 

5. Menurut Kriteria Rukyat Hilal Saudi

 

Kurangnya pemahaman terhadap ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat serta asingnya perukyat terhadap perkembangan-perkembangan baru dalam teknologi hisab dan rukyat menyebabkan perukyat sering melakukan kesalahan saat identifikasi terhadap obyek yang disebut "hilal" baik yang "sengaja salah" maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap kenampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah "limit visibilitas" atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Tidak hanya di Indonesia bahkan di negara-negara lain kasus ini sering terjadi misalnya Arab Saudi sebagai contoh. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang "kontroversi".

Kasus Idul Adha 1424 H yang lalu merupakan salah satu contoh. Bahkan baru-baru ini  Saudi juga mengklaim dapat menyaksikan hilal Sya'ban pada 14 September 2007 saat hilal baru berumur sekitar 4 jam selepas ijtimak. Namun demikian keputusan Saudi taat diikuti oleh rakyatnya bahkan banyak diikuti juga oleh negara-negara lain termasuk sebagian masyarakat Indonesia.

Kalender resmi Saudi yang dinamakan "Ummul Quro" telah berkali-kali mengganti kriterianya. Ironisnya banyak istbat penentuan awal bulan justru tidak menggunakan kriteria kalender ini. Sulitnya merumuskan kriteria berdasarkan "klaim rukyat" ini karena kriteria rukyatul hilal yang dipakai Saudi hanya  mendasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap laporan tersebut. Hanya dengan mengucapkan syahadah maka laporan tersebut sah adanya begitu tuntunan syariatnya.

Berdasarkan laporan-laporan klaim rukyat tersebut semakin nampak jelas bahwa kriteria awal bulan yang digunakan oleh Saudi lebih mengarah kepada kriteria "Ijtimak Qablal Ghurub" yaitu ".. jika ijtimak terjadi sebelum waktu maghrib (matahari terbenam) maka sore itu adalah awal bulan baru tanpa mengindahkan faktor-faktor yang lain misalnya ketinggian hilal saat terbenamnya matahari ..". Dengan menggunakan acuan ini maka penetapan tanggal 1 Syawal 1428 H di Saudi akan jatuh pada :

 

Jumat, 12 Oktober  2007

 

( Ijtimak Qablal Ghurub / Ijtimak sebelum Matahari Terbenam )

Di Makkah, Saudi pada Kamis, 11 Oktober 2007 matahari terbenam pukul 18:00 Waktu Makkah dan Ijtimak terjadi pagi harinya pukul 08:02 Waktu Makkah. Tinggi hilal minus (-) 1° 1,7' di bawah ufuk saat matahari terbenam.

 

Peluang lain Saudi juda akan ditetapkannya 1 Syawal berdasarkan kondisi wujudnya hilal di atas ufuk saat matahari terbenam di Saudi atau juga menggunakan kriteria rukyatul hilal, maka Saudi juga berpeluang menentukan 1 Syawal 1428 H jatuh pada hari :

 

Sabtu, 13 Oktober 2007

 

 


 

6. Kriteria Awal Bulan Negara Lain

 

Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama Malaysia, Brunei dan Singapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan "Kriteria Imkanurrukyat MABIMS" yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°.

Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata penetapan awal bulan ini berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh mempertahankan rukyat bil fi'li ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah yang resmi digunakan di beberapa negara :

 

1.  Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat/Qadi serta pengkajian ulang terhadap hasil rukyat.

      Antara lain masih diakukan oleh negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko dan Trinidad

 

2.  Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan  diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset)

      Kriteria ini digunakan oleh  Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura namun khusus untuk Ramadhan, Syawwal dan

      Zulhijjah menggunakan pedoman rukyat.

 

3.  Mengikuti Saudi Arabia misalnya negara : Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania,

       Palestina, Libanon dan Sudan.

 

4.  Hisab bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak  digunakan oleh Mesir.

 

5.  Menunggu berita dari negeri tetangga --> diadopsi oleh Selandia Baru  mengikuti  Australia dan Suriname mengikuti

      negara Guyana.

 

6.  Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat  --> Kepulauan Karibia

 

7.  Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari -->

      diadopsi oleh Algeria, Tuki dan Tunisia.

 

8.  Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar  diadopsi oleh negara Libya.

 

9.  Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam di Makkah -->

      diadopsi oleh komunitas muslim di Amerika Utara dan Eropa

 

10.  Nigeria dan beberapa negara lain tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke tahun

 

11.  Menggunakan Rukyat : Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan  Lesotho.

 

11.  Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah serta beberapa jamaah lainnya masih menggunakan hisab urfi

 

 

 


 

HASIL SIDANG ITSBAT PENENTUAN AWAL SYAWWAL 1428 H

 


 

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Indonesia

Syawal 1428 H

 

Tanggal Rukyatul Hilal :

Kamis, 11 Oktober 2007 @ sunset  ( Resmi Pemerintah )

Jum'at, 12 Oktober 2007 @ sunset ( menurut Kriteria Danjon )

 

 

 

DOWNLOAD LAPORAN RUKYATUL HILAL

 

 

 

Kamis, 11 Oktober 2007 @ sunset

Yogyakarta :  Dari Pos Observasi Bulan Bukit Syeh Bela-belu Parangtritis Yogyakarta yang dihadiri ratusan perukyat dari berbagai elemen diantaranya dari PWNU DIY, Muhammadiyah, pondok pesantren dan dikordinir oleh Badan Hisab Rukyat (BHR) DIY. Namun demikian menjelang matahari terbenam sinar matahari tertutup oleh mendung di Langit Barat. Tidak ada laporan terlihatnya hilal dari tempat ini. Dan memang seharusnya demikian.

 

Horizon Barat dari Bukit Bela-belu

 

 

Gresik :

 

Markas Rukyat : Balai Rukyat CONDRODIPO
Alamat : Desa Kembangan Kebomas Gresik
Bujur & Lintang : 112° 37' 2.5" BT 7° 10' 11.1" LS
Ketinggian : 120 meter dari permukaan laut
Ijtimak akhir bulan ROMADLON 1428 H. terjadi pada hari Kamis Legi Tgl. 11 Oktober 2007 Jam 12:2:17 WIB.

Rukyat pertama pada hari Kamis Legi Tgl. 11 Oktober 2007 Keadaan Hilal sa'at Maghrib ( 17:24:37 ) Menurut perhitungan hisab Irsyadul Murid

Tinggi Hilal Haqiqi : 0° 14' 42.38"
Tinggi Hilal Mar'I : -0° 39' 32.5"
Azimut Hilal : 258° 47' 55.1"

Rukyat diikuti ± 300 orang. Peserta rukyat terdiri dari berbagai elemen, DEPAG Gresik, PA Gresik, LFNU Gresik, Muhamadiyah, Alim Ulama, Tim YA-TAMAM, Tim Ponpes Langitan Tuban, Tim Ponpes Al-Fitroh Surabaya, Tim Ponpes Sidogiri Pasuruan Tim Al-Khidmah, serta tim-tim lainnya yang tidak bisa kami sebut, serta para pejabat dari PEMKAB Gresik. Pengamatan hilal disepakati mulai pukul 17:25:00 WIB sampai 17:38:00 WIB, karena adanya perhitungan hisab taqribi dengan ketinggian hilal saat maghrib mencapai 3° 24' 29". Diluar jam tersebut jika ada kesaksian melihat hilal maka ditolak.


Hasil rukyat : Awan terlalu tebal sehingga matahari pada pukul 16:38:00 WIB sudah tidak terlihat, padahal mestinya ghurub matahari adalah pukul 17:24:37 WIB. Sampai detik terakhir hilal tidak terlihat.

 

 

Pemandangan Ufuk Barat dari bukit Condrodipuro (Foto:Muzakkin)

 

 

 

 

Jumat, 12 Oktober @ sunset

Yogyakarta : mendung penuh di langit Barat

 

Gresik : Rukyat kedua pada hari Jum'at Pahing Tgl. 12 Oktober 2007. Keadaan Hilal sa'at Maghrib ( 17:24:33 ). Menurut perhitungan hisab Irsyadul Murid

Tinggi Hilal Haqiqi : 10° 33' 15.23"
Tinggi Hilal Mar'I : 10° 19' 13.4"
Azimut Hilal : 254° 51' 22.6"

Peserta rukyat ± 20 orang. Sebagian besar dari Lajnah Falakiyah NU Gresik

Hasil rukyat : Dalam observasi ini kami menggunakan theodolite Nikon NE-202 dan azimutnya kami cocokkan dengan arah matahari pada pukul 16:40:00 WIB saat itu posisi matahari berada pada azimut 263° 45' 56". Hilal baru teramati sekitar pukul 17:31 akan tetapi belum sempat mencatatnya karena kami masih sibuk menfokuskan theodolite. Data hilal baru bisa dicatat pada pukul 17:33:03 WIB ( 8 menit 30 detik setelah maghrib) posisi hilal saat itu, Azimut 254° 38' 53" Tinggi dari zenit 82° 04' 40" atau 7° 55' 20" dari ufuk haqiqi (bukan ufuk mar'i)

Karena kecilnya cahaya hilal dan keterbatasan teknologi kamera yang kami miliki sehingga kami tidak bisa mengambil gambarnya sejak awal terlihat. Kami baru bisa mengambil gambarnya dari theodolite pada pukul 17:49:45 WIB posisi hilal saat itu Azimut 254° 17' 10" Tinggi dari zenit 86° 01' 35" atau 3° 58' 25" dari ufuk haqiqi. Sejak hilal terlihat, kami terus mengamatinya sampai hilal bersembunyi dibalik awan sekitar pukul 17:55 WIB. Dari mulai terlihat sampai 17:44 WIB, hilal hanya bisa diamati dengan theodolite. Hilal baru bisa diamati dengan mata telanjang sekitar pukul 17:45 WIB itupun tidak semua peserta rukyat bisa mengamatinya. Rukyat kedua ini diliput oleh kameraman dari TVRI Surabaya dan hilal sempat diambil gambarnya oleh TVRI sekitar pukul 17:45 WIB

 

 

 

 

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Internasional

Syawal 1428 H

 

 

 

 

Original Site : http://icoproject.org  by Mohd. Odeh - Jordania

 

Original Site : http://moonsighting.com  by Dr. Monzur Ahmed

 

[ Ke Atas ]

 

Tahun 1428 Hijriyah

|||||||| Muharram | Shafar | Rabiul Awal | Rabiul Akhir | Jumadil Awal | Jumadil Akhir | Rajab| Syaban | Ramadhan | Syawal | Zulqaidah | Zulhijjah ||||||||

 

 

Oleh:  Mutoha - Anggota BHR DIY - koord. Jogja Astro Club (JAC)  - Member  Islamic Crescent's Observation Project (ICOP)

 " Menuju Obsesi Lahirnya Sistem Tunggal Penanggalan Islam di Indonesia "

Milis :  http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/

Kunjungan : 

sejak 1 Muharram 1427 H