| Home | Sekilas | Vibilitas | Hisab-Rukyat | Kalender | Gerhana | JadwalShalat | Kiblat | Artikel | Links | Galeri | Software | Tamu |

 

 

Visibilitas Hilal Awal Bulan

Muharram 1429 H

 


|||||||| Muharram | Shafar | Rabiul Awal | Rabiul Akhir | Jumadil Awal | Jumadil Akhir | Rajab| Syaban | Ramadhan | Syawal | Zulqaidah | Zulhijjah ||||||||


 

Isi halaman ini :

Ijtimak / Konjungsi Awal Bulan Muharram 1429 H

Peta Ketinggian Hilal di Wilayah Indonesia

Prediksi Awal Bulan Zulhijjah menurut Berbagai Kriteria

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Indonesia

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Internasional


Ijtimak / Konjungsi Awal Bulan

Muharram 1429 H

Selasa, 8 Januari 2008 @ 18:38 WIB / 19:38 WITA / 20:38  WIT / 11:38 UT

 

Visibilitas (kenampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas matahari terbenam di seluruh dunia khususnya kawasan Indonesia ditunjukkan pada gambar peta di bawah.  Peta visibilitas mengacu pada Kriteria Odeh yang mengadopsi Limit Danjon sebesar 6° yaitu syarat ketinggian hilal agar terlihat dengan mata telanjang. Kriteria tersebut dikemas dalam sebuah software Accurate Times yang menjadi acuan pembuatan peta visibilitas ini.

 

Grafis dibuat dengan Coreldraw X3

  1. Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu bulan  terbenam lebih dulu sebelum matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam.

  2. Daerah yang berada pada area BIRU TUA (tak berarsiran) juga  tidak memiliki peluang menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.

  3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran BIRU MUDA. Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di langit Barat.

  4. Wilayah yang berada dalam arsiran UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

  5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

  6. Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60°Lintang Selatan.

 


 

Peta Ketinggian Hilal di Wilayah Indonesia

Muharram 1429 H

 

Tanggal Rukyatul Hilal :

Senin, 7 Januari 2008 @ sunset ( Arab Saudi )

Selasa, 8 Januari @ sunset  ( Resmi Pemerintah )

Rabu, 9 Januari @ sunset ( Kriteria Danjon )

 

 

 

GARIS KETINGGIAN HILAL DI INDONESIA

Garis ketinggian hilal di wilayah Indonesia pada hari pertama dan kedua  setelah terjadinya Ijtimak.

 


 

Prediksi Awal Bulan Menurut Berbagai Kriteria

Muharram 1429 H

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal ( Limit Danjon )

Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas di atas, kalau Kriteria Limit Danjon diberlakukan maka semua wilayah Indonesia tidak mungkin menyaksikan hilal pada hari pertama terjadinya Ijtimak pada saat  setelah matahari terbenam karena hilal masih di bawah ufuk. Hilal baru mungkin dirukyat pada hari kedua pasca Ijtimak. Dengan demikian bulan Zulqaidah 1428 H di istikmal atau digenapkan menjadi 30 hari sesuai tuntunan syariah. Berdasarkan  peninjauan tersebut jika Indonesia menganut prinsip Rukyatul Hilal dalam sistem Kalender Hijriyah maka tanggal 1 Zulhijjah 1429 H jatuh pada :

Kamis, 10 Januari 2008

 

( Penentuan ini masih menunggu laporan  dari  Pos-pos Rukyatul  Hilal Indonesia )

 

 


 

2. Menurut Kriteria Imkanur Rukyat

 

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada  Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :  

 

Hilal dianggap terlihat  dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

(1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan

(2). Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau 

(3)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas ijtimak berlaku. 

 

Menurut Peta Ketinggian Hilal terlihat bahwa seluruh wilayah Indonesia posisi hilal berada di bawah ufuk saat matahari terbenam di masing-masing lokasi pada hari terjadinya ijtimak sehingga  syarat imkanurrukyat tidak  terpenuhi.  Berdasarkan hal tersebut maka tanggal 1 Muharram 1429 H jatuh pada :

 

Kamis, 10 Januari 2008

 


 

3. Menurut Kriteria Wujudul Hilal

 

Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah  menyatakan  bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam. Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal belum terpenuhi untuk semua wilayah Indonesia.  Berdasarkan hal tersebut maka tanggal 1 Muharram 1429 H akan jatuh pada:

 

Kamis, 10 Januari 2008

 

 


 

4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global

 

 

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi  180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

 

Sangat sulit bagi Zona Timur untuk dapat melakukan rukyat pada hari pertama terjadinya Ijtimak. Sedangkan Zona Barat memiliki peluang untuk dapat melakukan rukyat. Berdasarkan hal tersebut maka tanggal 1 Muharram 1429 H akan jatuh pada:

 

Zona Timur :  Kamis, 10 Januari 2008

 

 Zona Barat :  Rabu, 9 Januari 2008

 

 


 

5. Menurut Kriteria Rukyat Hilal Saudi

 

Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut "hilal" baik yang "sengaja salah" maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap kenampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah "limit visibilitas" atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi.  Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang "kontroversi".

Kalender resmi Saudi yang dinamakan "Ummul Qura" yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya  berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sesuai dengan perhitungan  astronomis modern yang memiliki tingkat akurasi tinggi.

 

Rukyat Saudi:  Senin, 7 Januari 2008 (29 Zulhijjah 1428 H)

 

Makkah : Longitude  39°49'34" BT  -  Latitude  21°25'21" LU  -  Elevation  300 m

 

Posisi hilal pada tanggal 29 Zulhijjah 1428 H di Makkah.

 

Posisi hilal pada tanggal 30 Zulhijjah 1428 H di Makkah.

 

Posisi hilal pada tanggal 1 Muharram 1429 H di Makkah.

 

 

Menggunakan Kriteria Rukyat Saudi

Rabu, 9 Januari 2008

 

Rukyat Saudi à Senin, 7 Januari 2008 (29 Zulhijjah 1428 H)

Ijtimak : 15:38 LT  -  Sunset: 17:53 LT -  Moonset: 16:55 LT  -  Moon Alt.  - 12°20'

(  Saudi harus  melakukan istikmal )

Posisi hilal -12°20' di bawah ufuk - Sunset: 17:53 LT - Moonset: 16:55 LT

 

 

Menggunakan Kalender Ummul Qura'

Kamis, 10 Januari 2008

Ijtimak : 15:38 LT  -  Sunset: 17:54 LT -  Moonset: 17:52 LT  -  Moon Alt.  - 1°6'

Kriteria yang digunakan kalender ini adalah "Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah" maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru.

Kesalahan fatal akan dialami Saudi sehingga menentukan 1 Muharram 1429 H pada hari ini sebab mengacu pada penentuan awal bulan Zulhijjah 1428 H maka hari ini adalah tanggal 31. Sebuah angka tanggal yang tidak ada dalam Sistem Kalender Hijriyah.

 

 

Menggunakan kriteria "Ijtimak Qablal Ghurub"

Rabu, 9 Januari 2008

 

Jika terjadinya ijtimak sebelum matahari terbenam di Makkah maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru.

 

 

 

 


 

6. Kriteria Awal Bulan Negara Lain

 

Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama Malaysia, Brunei dan Singapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan "Kriteria Imkanurrukyat MABIMS" yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°.

Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata penetapan awal bulan ini berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh mempertahankan rukyat bil fi'li ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah yang resmi digunakan di beberapa negara :

 

1.  Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat/Qadi serta pengkajian ulang terhadap hasil rukyat.

      Antara lain masih diakukan oleh negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko dan Trinidad.

 

2.  Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan  diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset)

      Kriteria ini digunakan oleh  Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura namun khusus untuk Ramadhan, Syawwal dan

      Zulhijjah menggunakan pedoman rukyat.

 

3.  Mengikuti Saudi Arabia misalnya negara : Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania,

       Palestina, Libanon dan Sudan.

 

4.  Hisab bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak  digunakan oleh Mesir.

 

5.  Menunggu berita dari negeri tetangga --> diadopsi oleh Selandia Baru  mengikuti  Australia dan Suriname mengikuti

      negara Guyana.

 

6.  Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat  --> Kepulauan Karibia

 

7.  Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari -->

      diadopsi oleh Algeria, Tuki dan Tunisia.

 

8.  Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar  diadopsi oleh negara Libya.

 

9.  Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam di Makkah -->

      diadopsi oleh komunitas muslim di Amerika Utara dan Eropa

 

10.  Nigeria dan beberapa negara lain tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke tahun

 

11.  Menggunakan Rukyat : Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan  Lesotho.

 

11.  Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah serta beberapa jamaah lainnya masih menggunakan hisab urfi

 

 


Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Indonesia

Muharram 1429 H

 

Tanggal Rukyatul Hilal :

Senin, 7 Januari 2008 @ sunset ( Arab Saudi )

Selasa, 8 Januari @ sunset  ( Resmi Pemerintah )

Rabu, 9 Januari @ sunset ( Kriteria Danjon )

 

 

 

DOWNLOAD LAPORAN RUKYATUL HILAL

 

 

 

Rabu, 9 Januari @ sunset ( Kriteria Danjon )

 

Kebumen, Rukyat Gagal

Ma'rufin Sudibyo (RHI Kebumen): Tidak bisa melihat hilal, langit Barat partially cloudy terutama di area sunset sampai ketinggian 10°.

 

Solo, Rukyat Gagal

AR Sugeng Riyadi (RHI Solo): Awan hitam dan tebal tepat di sunset point.

 

Jakarta, Rukyat Gagal

ISmail Fahmi (RHI Jakarta): Awan tipis hitam menghalangi pandangan, warna awan kuning. Hilal tidak kelihatan.

 

Depok, Rukyat Gagal

Noviar Firdaus (RHI Depok):  Rabu, 09012008. sy tidak berhasil melihat hilal dari lokasi pengamatan di atap gedung Caraka, Tugu, Cimanggis Depok (s=06.363160 e= 106.848720)  tinggi 12 agl / 102 dpl .  Pengamatan dilaksanakan sejak  18.20 s/d 18.40, dengan sudut pengamatan maksimum 10°. Di lokasi ini cukup memungkinkan pengamat melihat awan tebal di langit bagian barat yang menutup objek hilal.

 

Yogyakarta, Rukyat Berhasil

Mutoha (RHI Yogyakarta): Sore ini Tim Rukyatul Hilal yang berangkat ke Parangkusumo cuma 2 person, saya dan Gustriawan dari JAC. Walau cuma berdua namun kami memiliki obsesi dapat berhasil merukyat hilal awal Muharram 1429 H kali ini. Berbekal 2 buah binokuler TASCO 7x35, Digital Kamera, tripod, GPS Garmin Etrex, Kompas BRUNTON dan alat penjejak posisi hilal serta data-data rukyat kami berangkat pukul 16.00 WIB dari Posko RHI. Sampai di lokasi pukul 17.00 dan langsung menyiapkan dan memasang perlengkapan observasi. Data sunset di lokasi 18:02 WIB jadi masih cukup waktu sambil menikmai deburan pantai Parangkusumo yang mulai banyak pengunjung karena menjeang malam 1 Suro. Pantai ini memang biasa dipadati banyak pengunjung saa malam tersebut untuk "ngalap berkah". Khawatir terganggu oleh padatnya pengunjung kami sengaja mencari lokasi yang agak jauh dari keramaian. Begitupun masih sempat diikuti anak-anak (sebagian yang ada di foto itu).

Mejeng dulu sebelum seting peralatan.

Langit Barat nampak kurang bersahabat ketika waktu menunjukkan pukul 17:50 menit beberapa menit sebelum perkiraan sunset. Matahari sempat terhalang oleh mendung dengan ketebalan sekitar 2° di atas horison hingga waktu sunset tiba cahaya matahari hanya terlihat sedikit namun cukup bisa menjadi tanda bahwa sunset telah tiba. Kondisi langit Barat seperti di bawah ini sempat membuat kami pesimis dapat melakukan rukyat kali ini walaupun ketinggian hilal sudah sekitar 10° di atas horison saat sunset. Tapi kami selalu menantikan yang tak terduga terjadi. Saya teringat cerita beberapa moonsighter yang ternyata dapat melihat hilal diantara celah-celah awan tebal sekalipun. Ini yang membuat kami masih semangat.

Gak kelihatan mas lha wong langitnya we mendhung thok....

Pukul 18:15 WIB ketika samar terdengat alunan azhan dari beberapa arah. Langit Barat masih didominasi oleh awan yang cukup tebal. Masuk ke ponsel saya SMS dari Pak Ar (RHI Solo), Marufin (RHI Kebumen) dan Pak Arif (RHI Jakarta) yang menyatakan bahwa kondisi di tempat mereka mendung total. Tapi kami masih tetap mencoba mencari celah diantara awan yang menjadi jalur bulan. Jalur ini kami beri tanda menggunakan kompas brunton yang terpasang di atas tripod. Kompas ini dilengkapi dengan pembidik untuk mengetahui posisi azimuth sehingga orientasi posisi bulan dari menit ke menit dapat diperkirakan. Observasi terus kami lakukan menggunakan binokuler yang kami pasang di atas tripod diarahkan ke jalur bulan. Rukyat menggunakan mata telanjang memang sengaja tidak kami lakukan kali ini sebab hilal masih dalam area UNGU yang artinya tidak terlihat menggunakan mata telanjang. Hampir setengah jam kami melakukan observasi cukup membuat perut sedikit mual karena menggunakan  binokuler terus-menerus.

Pukul 18:27 WIB, saya masih asyik mengamati celah-celah awan di mana diperkirakan hilal berada ketika pada suatu tempat "Nah, Ada.. Terlihat" segera saya kunci posisi bino di atas tripod menyuruh Gustria ikut melihat lewat binokuler yang saya gunakan. "Ya, kelihatan .. betul" kata Gustria sebelum ia kembali melihat langsung menggunakan binokuler yang dipegangnya. Goresan tipis sangat samar, setinggi 4° di atas horison ketika saya ukur posisinya. Bahkan ketika mencoba saya lihat langsung tanpa bino betul-betul tidak bisa terlihat walaupun sudah dilakukan ektra akomodasi mata. Hilal kali ini memang hanya bisa terlihat menggunakan binokuler atau teleskop. Sayang juga idak sempat membawa teleskop. Hilal memang hanya terlihat sebentar sebelum ia tertutup oleh awan tebal yang menghadang di bawahnya. Tapi Alhamdulillah, selama hampir 1 menit kami betul-betul dapat menyaksikan hilal dalam kondisi langit yang sebenarnya hanya memberikan peluang yang sangat kecil. Tapi saya hanya berfikir bahwa itu adalah hidayah dari Allah kepada hambanya yang mau bersungguh-sungguh...

Dan saya masih ingat do'a melihat hilal:

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ
 

Ya Allah, Jadikanlah bulan ini kepada kami dalam kondisi aman dan hati kami penuh dengan keimanan, dan jadikanlah pula bulan ini kepada kami dengan kondisi selamat dan hati kami penuh dengan keislaman. Rab ku dan Rab mu Allah. Bulan petunjuk dan bulan kebaikan. (HR. Turmudzi)

 

Melihat kondisi awan yang telah menutup hilal, mustahil rasanya berharap ia dapat terlihat kembali kecuali juga posisinya sudah semakin turun membuat ia berada di luar batas ambang visibilitas. Akhirnya setelah mengemas perlengkapan serta membuat sekedar catatan observasi kami mengakhiri misi Rukyatul Hilal Muharam 1429 H ini dengan harapan  ini bisa menjadi data tambahan terhadap keberhasilan rukyat hilal di Indonesia. Memasyarakatkan rukyat syar'i yang berkualitas yaitu rukyat yang didasari oleh kejujuran saksi yang adil dan sesuai dengan kaidah-kaidah sains modern. Kamipun segera menuju masjid terdekat soale belum shalat Maghrib.

Moga-moga bisa lihat tu.. ya .. tapi di situ posisi hilal waktu saya foto lewat lubang binokuler.

Harap maklum peralatanya masih amatiran.

 

 

 

Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Internasional

Muharram 1429 H

 

Original Site : http://icoproject.org  by Mohd. Odeh - Jordania

 

 

Original Site : http://moonsighting.com  by Dr. Monzur Ahmed

 

 

 

Original Site : http://www.hilalsighting.org/  by  Dr. Salman Shaikh

 

[ Ke Atas ]

 

Tahun 1429 Hijriyah


|||||||| Muharram | Shafar | Rabiul Awal | Rabiul Akhir | Jumadil Awal | Jumadil Akhir | Rajab| Syaban | Ramadhan | Syawal | Zulqaidah | Zulhijjah ||||||||

 

 

Oleh:  Mutoha Arkanuddin (C) 2006-2008 Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) - Anggota BHR DIY - Member ICOP - Ketua JAC

Penyuntingan terhadap setiap materi dalam situs ini harus mendapat persetujuan webmaster email  info@rukyatulhilal.org

 " Menuju Lahirnya Sistem Tunggal Penanggalan Islam di Indonesia "