Mutoha Arkanuddin, direktur Lembaga Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) di akhir tahun 2025 merelease karyanya berupa Rekonstruksi Alat Sandüq al-Yawäqït karya Ibnu Shatir yang benda aslinya sudah berada di Perpustakaan Wakaf Aleppo. “Alhamdulillah setelah melalui penelusuran berbagai sumber sejarah dan di tengah keterbatasan sumber informasi, akhirnya di penghujung akhir tahun 2025 ini dapat saya persembahkan rekonstruksi alat yang dibuat “hanya satu” oleh Ibnu Shatir sang Penjaga Waktu dari Masjid Umayyah Damaskus pada tahun 767 H / 1366 M”, katanya. Hingga kini benda aslinya masih tersimpan di Perpustakaan Nasional Aleppo, Suriah dengan kondisi banyak bagian yang hilang. Alat yang seukuran genggaman tangan ini secara teknis adalah kompas kiblat pertama di dunia, gabungan polar dan ekuatorial sudial yang dapat mengetahui waktu-waktu shalat, mengetahui jam, alat ukur tinggi Matahari dan bintang serta segudang kegunaan lain. Astronomical Compendium “Sandüq al-Yawäqït” yang diartikan sebagai “kotak permata” bukan berarti kotak dengan isi permata melainkan kata “yawaqit” dipilih Ibnu Shatir agar terkesan lebih indah serta berima dengan kata “mawaqit” (penjaga waktu). Terimakasih saya sampaikan kepada Pakar Filologi Falak Doktor Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar yang telah memberikan ide dan tantangannya. ![]()
Special thanks for Rim Turkmani for the photos of original sanduq yawaqit.








